VIDEO PENGHANCUR KEHORMATANKU
(Renungan untuk Wanita yang sering chat dengan Laki-Laki)

Ada seorang gadis yang baru duduk di bangku kuliah, tepatnya di Fakultas Adab, Jurusan Psikologi. Dia mempunyai tiga orang saudari.

Seorang di antara mereka sudah duduk di bangku SMA, sementara yang dua lagi baru duduk di bangku SMP.

Ayahnya bekerja di sebuah mini market miliknya. Dia selalu bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Di kampusnya, gadis itu terkenal sebagai mahasiswi yang berbudi pekerti baik dan juga rajin belajar. Selain itu, dia pun seorang mahasiswi
teladan. Karena berbagai kelebihannya ini, semua teman kampus sangat menyukainya dan senang berada di dekatnya.

Lewat buku ini, dia ingin menceritakan kisah hidupnya yang tragis.

Suatu hari, ketika aku ingin pulang,aku dikagetkan oleh seorang laki-laki yang berpenampilan rapi berdiri di gerbang kampus. Dia menatapku seperti orang yang telah lama mengenalku.

Aku tidak menghiraukannya, tetapi dia malah mengikutiku. Dengan suaranya yang lembut dan kata-katanya yang indah, dia menyapaku,

“Hai cantik, betapa aku berharap bisa menikah denganmu. Sudah sejak lama aku memerhatikanmu. Aku pun sudah tahu akhlak dan perangaimu yang terpuji.”

Meski dia berbicara denganku, aku tetap tidak menghiraukannya, dan semakin mempercepat langkahku.

Ketika itu, kakiku terasa bergetar dan dahi bercucuran keringat. Jujur, aku belum pernah dihadapkan dengan kondisi seperti ini. Akhirnya, aku pun sampai di rumah. Aku merasa sangat cape dan bingung.

Aku terus memikirkan kejadian yang baru saja aku alami. Bahkan, sampai larut malam, aku tak bisa tidur disebabkan rasa takut, cemas, dan khawatir yang bercampur menjadi satu.

Di hari berikutnya, ketika aku keluar kampus, aku menemukan laki-laki itu lagi, dia sedang menungguku.

Dia tersenyum, sama seperti yang
telah dilakukannya kemarin. Dia pun kembali membuntutiku seperti biasa. Tindakannya ini dia lakukan berulang kali.

Sampai pada suatu saat, dia mengirimiku surat dan diletakkan di depan rumahku. Awalnya aku ragu
untuk mengambil surat itu, tapi akhirnya dengan tangan bergetar aku mengambilnya. Aku buka dan mulai membacanya.

Di dalam surat itu aku temukan kata-kata yang penuh aroma cinta, asmara, dan permintaan maaf
atas semua tindakannya selama ini.

Dia merasa, tindakannya tersebut telah mengganggu ketenanganku. Setelah membacanya, aku pun merobek surat itu lalu membuangnya.

Beberapa saat kemudian, telepon rumah berdering. Aku pun mengangkatnya. Ternyata, lelaki itu yang menelepon. Dengan nada lembut, dia bertanya kepadaku,

“Apakah kamu telah membaca suratku?”

“Jika kamu tetap tidak sopan, aku akan melaporkanmu kepada keluargaku. Dan kamu akan celaka!” ancamku kepadanya.

Satu jam kemudian dia menelepon kembali. Seperti biasa, dia memelas kepadaku dengan mengatakan bahwa tujuannya baik.

Dia ingin menikah dan menuai kebahagiaan denganku. Dia katakan kepadaku bahwa dia orang kaya.

Dia akan memberikanku rumah mewah, mewujudkan semua impian dan cita-citaku. Dia katakan pula bahwa tak satu pun keluarganya
yang masih hidup dan seterusnya dia membujukku.

Dengan semua bujuk rayunya, hatiku pun luluh. Aku pun berbicara kepadanya, bahkan pembicaraan itu menjadi panjang dan melantur kemana-mana.

Aku mulai simpatik dengannya dan suka menunggu-nunggu telepon darinya.

Suatu hari, seusai perkuliahan, aku keluar dari kampus sambil mataku larak-lirik mencari sosok laki-laki yang telah mengusik pikiranku. Tetapi
sayang, aku tidak menemukannya.

Beberapa hari kemudian, saat ingin pulang dari kampus, aku mendapatkannya berdiri di hadapanku.

Aku senang luar biasa, serasa hati ini terbang melayang. Lalu,aku pergi bersamanya menggunakan mobil pribadinya. Kami berjalan-jalan ke penjuru sudut kota.

Entah mengapa, waktu itu aku tak sadar seolah-olah akal sehatku hilang. Dengan mudah, aku membenarkan seluruh kata-kata manisnya, terlebih ketika dia mengatakan,

“Kamu adalah wanita pujaanku dan akan menjadi istriku satu-satunya.Kita akan tinggal di sebuah rumah yang dipenuhi kebahagiaan.”

Setiap kali aku mendengar kata-katanya itu aku serasa terbang melayang dalam khayalanku yang tak terhingga.

Suatu hari, dia menghancurkan kehidupan dan masa depanku. Hari itu sangat kelam bagiku. Awalnya seperti biasa aku jalan-jalan bersamanya.

Tak kusangka, aku dibawa ke sebuah apartemen yang cukup mewah dan dilengkapi dengan berbagai perlengkapan rumah tangga. Aku lupa, jika laki-laki dan perempuan duduk berduaan maka setan adalah yang ketiga.

Ketika itu, setan benar-benar telah memperdaya hatiku. Dalam hatiku yang ada hanyalah janji-janji manis laki-laki yang berada di sampingku.

Saat itu, aku duduk sambil menatapnya dan dia pun balik menatapku. Lalu, bencana itu datang. Aku telah kehilangan sesuatu paling berharga
yang dimiliki oleh seorang wanita.

Aku sadar, ternyata aku telah menjadi
korban laki-laki itu. Aku bangun seperti orang gila, dan bertanya kepadanya,

“Apa yang telah kamu lakukan padaku?”

Dengan gampangnya dia menjawab, “Tenang, jangan takut, kamu adalah istriku.”

“Bagaimana bisa aku jadi istrimu, padahal kamu belum menikahiku?”

“Aku akan menikahimu dalam waktu dekat.”

Setelah peristiwa itu, aku pulang ke rumah dengan sempoyongan. Kedua kakiku tak kuasa membawa diriku. Tubuhku terasa panas. Dalam hati aku berkata,

“Ya Tuhan, apa yang telah aku lakukan?”

Aku benar-benar telah berbuat dosa besar, lalu apa yang bisa menutup dosa itu? Bagiku dunia begitu suram.

Aku pun tak kuat menahan tangis. Selanjutnya, aku mulai malas belajar, kondisiku memburuk dan terus memburuk.

Meski demikian, aku tak ingin keluargaku mengetahui masalahku. Aku cuma berharap laki-laki itu menepati janjinya untuk menikahiku.

Hari terus berlalu, aku merasa bebanku semakin hari semakin berat, lebih berat daripada tertimpa gunung, hingga bencana yang lebih besar
datang tiba-tiba, menghancurkan sisa-sisa kehidupanku.

Dari jauh dia meneleponku. Dia katakan bahwa dia ingin bertemu denganku untuk urusan yang sangat penting.

Dengan niatannya itu, aku merasa senang. Aku kira dia akan menepati janjinya untuk menikahiku.

Aku lalu menemuinya. Namun, ketika itu, aku melihat wajahnya berubah menjadi bengis. Tanpa basa-basi dia langsung berkata,

“Sebelum beranjak lebih jauh, kamu jangan pernah berpikir aku mau menikahimu. Aku ingin kita hidup bebas tanpa ikatan.”

Tanpa sadar,aku telah menamparnya. Ini dikarenakan perasaan kesal yang amat sangat atas sikapnya itu. Lalu aku katakan kepadanya,

“Aku pikir kamu akan memperbaiki kesalahanmu. Tapi, justru aku mendapatimu sebagai laki-laki yang tidak berakhlak dan bermoral.”

Aku pun cepat-cepat turun dari mobilnya sambil menangis, tetapi dia memanggilku,

“Tunggu sebentar!”

Aku melihat di tangannya ada sebuah video. Kemudian dia mengacungkan video itu lalu berkata kepadaku dengan nada keras,

“Aku akan menghancurkan hidupmu dengan video ini.”

“Memang isinya apa?” tanyaku penasaran.

“Mari ikut aku kalau kamu ingin tahu isinya, kamu pasti dibuatnya tercengang,” jawab dia.

Kemudian, aku pergi bersamanya untuk melihat isi video itu. Tidak kusangka, ternyata isinya adalah seluruh adegan maksiat yang telah aku
lakukan bersamanya di apartemen tersebut.

Lalu aku katakan kepadanya, “Dasar brengsek, kamu memang benar-benar keji!”

“Tahukah kamu, di setiap sudut apertemen itu terpasang beberapa kamera tersembunyi yang merekam seluruh tindak-tanduk dan gerak-gerik kita?! Perlu kamu tahu, video ini akan menjadi senjataku untuk menghancurkan hidupmu, kecuali jika kamu mengikuti apa yang aku mau.”

Air mataku semakin mengalir deras, hatiku menjerit. Kini persoalan menjadi lebih besar, tidak hanya menyangkut diriku, tetapi juga keluargaku.

Dia menolak untuk memberikan video itu kepadaku. Sejak saat itu, aku menjadi bulan-bulanannya. Dia menjual diriku kepada para lelaki hidung belang dan mengambil keuntungan dariku.

Aku benar-benar telah jatuh ke kubangan lumpur. Aku harus menjalani hidup sebagai seorang
pelacur.

Tak seorang pun dari keluargaku yang mengetahui kelakuanku ini. Mereka semua masih memercayaiku sebagai anak yang baik.

Hingga akhirnya video itu pun akhirnya tersebar luas, bahkan sampai jatuh ke tangan sepupuku. Masalah pun bertambah rumit.

Ayah dan semua keluargaku mengetahui perbuatan bejatku itu. Aku benar-benar telah mencoreng muka keluargaku sendiri.

Setelah semuanya terbongkar, aku kabur untuk melindungi diriku. Aku bersembunyi dari khalayak ramai. Sementara itu, aku mendapatkan
kabar bahwa keluargaku mengasingkan diri ke daerah lain.

Tetapi sayangnya, berita buruk tersebut tetap terdengar di tempat pengasingan
mereka. Sejak saat itu, aku menjadi buah bibir masyarakat.

Bagaimana tidak, video itu dengan mudah berpindah dari satu tangan ke tangan yang lain.

Aku hidup di antara para WTS yang telah tenggelam dalam lumpur kehinaan, walaupun aku harus menjalani ini tanpa keinginanku.

Aku ini tak lebih hanya sebagai boneka bagi laki-laki itu. Dialah penyebab rusaknya kehidupan banyak keluarga.

Dia pula penyebab hancurnya masa depan gadis-gadis di usianya yang bagaikan bunga sedang mekar.

Oleh karena itu, aku bertekad untuk membalas semua perbuatannya.

Suatu hari dia datang menghampiriku dalam keadaan mabuk berat. Aku pun tak menyia-nyiakan kesempatan ini.

Aku lantas menusuknya dengan pisau lipat. Aku bunuh iblis berwujud manusia itu. Dengan demikian, aku berhasil membebaskan manusia dari kebiadabannya.

Aku jalani sisa-sisa hidupku sambil menanggung pahitnya hinaan, lecehan, dan pengucilan dari masyarakat.

Aku menyesal atas semua keburukan yang telah aku lakukan. Setiap kali aku ingat video itu, aku selalu membayangkan bagaimana kamera-kamera itu merekam seluruh gerak-
gerikku di semua ruangan apartemen.

Aku tulis kisahku ini agar menjadi pelajaran bagi setiap remaja putri yang gampang percaya dengan kata-kata cinta yang mereka dengar dari
ujung telepon dan yang mereka baca dari secarik kertas.

Jauhilah dia wahai saudariku! Aku tulis kisahku yang berakhir dengan kehancuran kehidupanku dan keluargaku ini untuk kalian, wahai saudariku.

Ayahku meninggal karena sesal yang dirasakannya akibat perbuatanku.

Sebelum dia meninggal, dia selalu memanjatkan doa berikut.

“Cukuplah Allah menjadi penolongku dan Allah adalah penolong terbaik.”

Selain itu, ayahku juga sering mengulang kata-katanya,

“Aku membencimu sampai Hari Kiamat.”

Sungguh berat memang kata-kata ini. Aku benar-benar telah menghancurkan semuanya dengan tanganku sendiri.

***

Cerita ini dikisahkan oleh Syaikh Ahmad bin Abdul Azis al-Hushain dalam sebuah tulisannya dengan tema Video yang telah Menghancurkan
Hidupku.

Dalam muqaddimahnya, beliau mengatakan,

“Perkataan terbaik adalah Kitabullah, dan petunjuk terbaik adalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad. Sementara itu, perkara terburuk adalah yang bertentangan dengan al-Qur’an dan as-Sunnah, yang berarti ia adalah bid’ah. Setiap bid’ah itu sesat, dan setiap kesesatan akan berakhir ke neraka.”

Kisah ini terjadi di masyarakat dan negara Islam pada tahun 1408H.

la merupakan kisah nyata seorang gadis yang menjadi korban kata-kata manis seorang pria. Dampaknya tidak hanya menimpa dirinya sendiri, tetapi keluarganya dan bahkan masyarakatnya.

Salah seorang sepupu pelakunya menceritakan kisah tersebut kepada saya. Dia sendiri mendapatkan video itu.

Dia sangat menyesali hilangnya kehormatan keluarganya yang telah tercoreng karena kegegabahan dan ketidakhati-hatian gadis itu, yang membenarkan kata-kata manis dan indah yang dijanjikan kepadanya.

Tak sedikit para korbannya berasal dari keluarga besar yang terhormat. Sungguh banyak para gadis yang dibunuh akibat kejahatan seperti ini.

Di antara mereka juga ada yang nekat
bunuh diri, atau harus masuk rumah sakit karena gangguan jiwa.La haula wala quwwata illa billah (tiada daya dan kekuatan kecuali bersumber dari
Allah).

—-

Sumber:
Buku Victims of Love
Abul Hamid Abid al-Maslamani

#bahayafitnah