fbpx

 

Malam itu, usai sholat isya’ saya keluar dari masjid. Terlihat anak kecil jualan gorengan dan telur rebus.

Anak ini sudah tidak asing. Saya sering melihatnya jualan saat sore di pinggir jalan kompleks Markiz Fiyuys, Yaman.

Biasanya dia jualan gorengan dan telur rebus sudah habis seblum maghrib. Tapi, malam itu masih banyak yang tersisa. Lalu, dia pindahkan jualannya ke depan jalan di luar masjid, dekat dari hurros/satpam masjid.

Saya penasaran dengan anak itu. Ya, kira-kira umurnya 13 tahun. Berbadan kecil.

Melihat dia tiap hari jualan dan berpenampilan acak-acakan, dalam hati saya,

“Apa anak ini masih belajar? Masih punya orang tua?”

Akhirnya saya mendatanginya. Kebetulan, dia lagi sendiri tidak ada pembeli.

Saya pun bertanya,

“Yaa walad (wahai anak kecil), siapa yang menyuruhmu jualan ini?”

“Keluarga.”

“Terus, bapakmu tidak kerja?”

“Tidak. Dia seorang penuntut ilmu di markiz ini.”

“Yang kerja hanya kamu?”

“Iya. Hanya saya yang kerja.”

“Keluarga kamu berapa orang dalam rumah?”

“Di rumah ada 9 orang (2 orang tua dan saudaranya).”

“Kamu anak ke berapa?”

“Saya anak ke-3.”

“Kedua kakak yang di atasmu tidak membantu bekerja?”

“Tidak! Keduanya penuntut ilmu, bahkan sudah hafal al-Qur’an.”

“Kamu tidak belajar?”

“Saya juga belajar. Hanya di waktu pagi. Sore saya jualan.”

“Kamu hafal al-Qur’an?”

“Sisa 8 juz baru selesai (hafalannya 22 juz).”

Sampai sini, saya benar-benar takjub, masyaallah, tidak nampak sama sekali dari penampilannya dia hafal 22 juz.

Saya lanjut bertanya,

“Apakah hasil jualan ini mencukupi keluargamu?”

“Iya. Ini mencukupi kami.”

“Barakallahufik.”

Kemudian saya pergi meninggalkannya. Beberapa langkah jauh dari dia, saya langsung berfikir ngasih uang karena iba.

Saya ambil 500 real Yaman (sekitar 15rb rupiah) dan kembali ke anak tadi. Saya memegang tangannya lalu menyerahkan uang itu.

Dia ambil karena dia kira saya mau beli jualannya. Tapi, saya langsung pergi.

Seketika itu, dia langsung berdiri dengan tergesa-gesa. Lalu, mengejar. Dia tarik tangan saya lalu mengembalikan uang tadi.

Saya menolak. Tapi, karena tingkahnya yang bersikeras mengembalikan uang itu, akhirnya semua mata tertuju pada kami. Saya takut orang-orang su’udzon.

Akhirnya saya katakan kepadanya,

“Baiklah, saya mau ambil 2 telur.”

Saya ambil. Ternyata, masih ada kembalian uangnya. Namun, sudah bergegas pergi. Dia kejar saya lagi.

“Ambillah! Ambillah..!” saran saya.

“Tidak. Tidak! Ambil ini! Aib.., aib… Demi Allah!” dia juga menolak.

“Baik. Baik. Saya ambil 2 gorengan lagi…”

Masih ada sisa uang. Tapi, saya sudah berlari hingga dia tidak bisa mengejar.

Tingkahnya ini menunjukkan kejujuran. Masyaallah. Subhanallah.

Mungkin kalau anak-anak biasa mudah menerimanya. Tapi, anak ini beda.

Semoga Allah melimpahkan rezki kepada dia dan keluarganya. Allahumma aamiin..[]

✍Sufyan Abu ‘Abdilfattaah
🕌Markiz Darul Hadits Fiyuys, Yaman
Editor: Abu Abdirrrahman