fbpx

Bismillah

Berdoa adalah bukti kita adalah seorang yang tidak sombong. Berdoa adalah ciri seorang muslim yang butuh kepada pertolongan kepada Allah azza wa jalla. Karena itulah, Nabi shollallohu alayhi wasallam mengajarkan sejumlah sahabatnya doa.

Tentu saja, agar kita umatnya juga bisa mengamalkannya.

وَعَنْ مُعَاذٍ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، أَخَذَ بِيَدِهِ ، وَقَالَ :(( يَا مُعَاذُ ، وَاللهِ إنِّي لَأُحِبُّكَ )) فَقَالَ : (( أُوصِيْكَ يَا مُعَاذُ لاَ تَدَعَنَّ في دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ تَقُوْلُ : اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ )) . رَوَاهُ أَبُوْ دَاوُدَ بِإِسْنَادٍ صَحِيْحٍ .

Dari Mu’adz radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang tangannya dan beliau berkata,

“Wahai Mu’adz, demi Allah, aku mencintaimu.”

Lalu beliau berkata, “Aku wasiatkan kepadamu, wahai Mu’adz, janganlah engkau sekali-kali meninggalkan doa ini di akhir setiap shalat,

‘ALLOOHUMMA A’INNII ‘ALAA DZIKRIKA WA SYUKRIKA WA HUSNI ‘IBAADATIK (Ya Allah, tolonglah aku dalam berdzikir, bersyukur, dan beribadah yang baik kepada-Mu).’”

(HR. Abu Daud dengan sanad shahih) [HR. Abu Daud, no. 1522; An-Nasa’i, no. 1304. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih.]

1. Berdzikir

Zikir yang dimaksud disini bukanlah sekedar dzikir (mengingat dan menyebut nama Allah) dengan lisan, namun dzikir dengan hati dan lisan.

Dan bentuk dzikir kepada Allah itu meliputi dzikir-dzikir dengan menyebut nama-nama dan sifat-sifatNya, mengingat akan perintah dan laranganNya, dan juga berdzikir dengan firman-firmanNya. Dan semua itu harus disertai dengan pengetahuan (ilmu) yang benar dan keimanan terhadapNya. Dan juga disertai dengan iman terhadap kesempurnaan dan kemuliaan sifat-sifatNya, dan juga dengan senantiasa memujiNya dengan segala macam bentuk pujian. Dan tentu saja hal itu tidak akan sempurna tanpa dilandasi dengan tauhid.

Kata Syaikh Abdurrozzaq,
“Bentuk mengingat Allah yang sesungguhnya itu mengharuskan seorang hamba untuk juga mengingat nikmat-nikmat, karunia, dan kebaikan-kebaikanNya kepada makhluk-makhlukNya.

Setiap engkau selesai shalat, di akhir shalat berdoalah dengan doa ini:

اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“Ya Allah, tolonglah aku untuk selalu mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu dan beribadah dengan baik kepada-Mu.”

Meminta pertolongan adalah wasilah (perantara atau jalan), dan ibadah adalah tujuannya.

Allah Ta’ala berfirman, “Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan”.

Dan tidak mungkin sebuah tujuan dicapai tanpa wasilah (jalan yang akan membawa kepada tujuan). Tujuannya adalah ibadah, dan wasilah-nya adalah pertolongan (dari Allah)

Oleh karena itu, Allah menggabungkan antara keduanya, “Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan”.

Dan Allah berfirman di dalam Al-Quran, “Maka sembahlah Dia dan bertawakallah kepada-Nya”.

Nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallambersabda di dalam sebuah hadits, “Berusahalah meraih segala hal yang bermanfaat bagimu dan minta tolonglah kepada Allah”.

Artinya, mintalah pertolongan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Oleh karena itu, disyariatkan bagi kita ketika diseru untuk menunaikan shalat,

“Hayya ‘alash-shalah hayya ‘alal-falah (marilah shalat, marilah menuju kemenangan)” maka kita meminta pertolongan kepada Allah dengan mengatakan,

“La haula wa la quwwata illa biLlah (tidak ada daya dan upaya kecuali dari Allah)”.

Karena ini adalah kalimat permintaan tolong, meminta bantuan. Dan disyariatkan juga bagi kita ketika keluar rumah, baik itu untuk kemaslahatan urusan agama maupun dunia, untuk mengucapkan

“Bismillah, tawakkaltu ‘alaLlah, la haula wa la quwwata illa biLlah (Dengan menyebut nama Allah, aku bertawakal kepada Allah, tidak ada daya dan upaya kecuali dari Allah)”.

Kita meminta pertolongan. Dan ketiga kalimat ini: bismillah, tawakkaltu ‘alaLlah, la haula wa la quwwata illa biLlah, semuanya adalah kalimat permintaan tolong kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala.

Dan berapa banyak perkara yang telah menyibukkan dan memalingkan manusia dari mengingat Allah?

Dan Allah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (sebutlah nama) Allah dengan dzikir yang banyak; dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang”.

Dan manusia menjumpai.. menjumpai dirinya sendiri sekonyong-konyong ketika berakhirnya satu hari dan hari berikutnya, kemudian hari ketiga dan keempat, ternyata dia melalui hari-hari tersebut dalam keadaan sedikit mengingat Allah Jalla wa ‘Ala.

Maka seorang hamba butuh kepada pertolongan dan bantuan Allah, dan dia meminta kepada Allah Jalla wa ‘Ala dengan sungguh-sungguh: Allahumma a’inni ala dzikrik (Ya Allah, tolonglah aku untuk mengingat-Mu).

Ada manusia karena urusan harta, dia lupa Allah azza wajalla. Sehingga ia menghalalkan segala cara demi mendapatkan apa pun.

Karena fitnah wanita, dia lupa Allah azza wajalla. Dia pun berpacaran, berselingkuh. Nauzubillah.

Olehnya itu hendaknya kita mengingat Allah azza wajalla.

2. Bersyukur.

“.. wa syukrik (dan bersyukur kepada-Mu)”, bersyukur kepada Allah atas segala nikmat-Nya.

Yaitu bersyuku di dalam hati.
Lisan
dan amalan.

Nikmat Allah kepadamu sangat banyak dan tidak terhitung. “Dan nikmat apa saja yang ada padamu maka dari Allah-lah (datangnya)”.

“Dan jika kalian menghitung nikmat Allah niscaya kalian tidak akan mampu untuk menghitungnya”.

Nikmat (dari Allah) sangat banyak, namun rasa syukur (dari kita) begitu sedikit. “Dan sedikit sekali dari hamba-Ku yang bersyukur”.

Sampai engkau mengisi hidupmu (dengan rasa syukur) dan termasuk ke dalam golongan orang-orang yang bersyukur, maka teruslah meminta kepada Allah untuk menolongmu dalam hal tersebut: Allahumma a’inni ‘ala dzikri-Ka wa syukri-Ka (Ya Allah, tolonglah aku untuk selalu mengingat-Mu dan bersyukur kepada-Mu).

Sebuah kisah,

Ibnu Hibban dalam kitab beliau Ats-Tsiqat, menyebutkan bahwa suatu hari Abdullah bin Muhammad keluar untuk mengawasi daerah pantai. Dia melihat ada sebuah kemah, di dalamnya ada seorang yang telah hilang kedua kaki dan tangannya. Mata dan telinganya telah melemah. Satu-satunya anggota badan yang masih bisa dimanfaatkan adalah lisannya. Orang itu berkata, “Ya Allah tunjukilah aku untuk memuji Mu, agar aku bisa mensyukuri nikmat yang telah Engkau berikan padaku. Dan karena Engkau telah melebihkanku atas hamba-Mu yang lain”.

Mendengar perkataan itu Abdullah merasa takjub dan berniat untu mendatangi orang itu. Setelah bertemu, Abdullah bertanya kepadanya, “Nikmat apa yang telah Allah berikan kepadanya. Dan apa yang membuatnya utama dari pada yang lain?”.

Orang itu berkata, “Tidakkah engkau melihat apa yang telah Rabbku perbuat? Demi Allah,  seandainya Dia mengirim api dari langit hingga memerintahkan membakarku gunung agar menindihku hingga hancur memerintahkan laut menenggelamkanku agar memerintahkan bumi agar menelanku semua itu hanyalah akan menambah rasa syukurku kepada-Nya.  Karena Dia telah memberikan kenikmatan kapadaku berupa lisan ini”.

Ia melanjutkan, “Wahai hamba karena engkau telah mendatangiku maka aku memerlukan bantuanmu Engkau telah melihat keadaanku. Aku tidak mampu untuk mencegah gangguan dan tidak mampu berbuat apa-apa. Aku memiliki seorang putra yang selalu melayaniku. Saat tiba waktu shalat, dia mewudhukanku. Saat aku lapar, dia memberiku makan. Dan saat aku haus, dia memberiku minum. Namun, sudah tiga hari ini aku kehilangan dia. Maka tolong carikan kabar tentangnya, semoga Allah merahmatimu.”

Maka Abdullah bin Muhammad pergi mencari putra orang itu.  Belum jauh ia berjalan, ternyata ia mendapati di suatu gundukan pasir, putra orang itu telah diterkam binatang buas.

Ia langsung beristija’ (mengucapkan Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun). Ia berpikir keras bagaimana cara mengabarkan hal itu. Lalu, saat dia kembali menemui orang tadi muncul dalam benaknya untuk menyebutkan kisah Nabi Ayyub ‘alahi salam.

Setelah bertemu, Abdullah mengucapkan salam kepadanya. Setelah menjawab salam, itu menanyakan kabar anaknya. Mulailah Abdullah berkata, “Apakah engkau lebih mulia di sisi Allah ataukah Nabi Ayyub?” Ia menjawab, “Tentu Nabi Ayyub”. Abdullah berkata, “Tahukah engkau cobaan yang telah Allah berikan kepada Nabi Ayyub?  Bukankah Allah mengujinya dengan kehilangan harta,  keluarga,  serta anaknya?”. Orang itu berkata, “Tentu aku tahu”.Abdullah berkata, “Bagaimanakah sikap Nabi Ayub terhadap cobaan tersebut?”, ia berkata, “Nabi Ayyub bersabar bersyukur,  dan memuji Allah”. Abdullah berkata lagi,  “Tidak hanya bahkan ia dijauhi oleh karib kerabat serta sahabat-sahabatnya” ia berkata, “Benar,” Abdullah berkata, “sikapnya?”  Ia berkata, “Bersabar, bersyukur, dan memuji Allah,”  Abdullah berkata, “Tidak hanya Allah menjadikan ia menjadi bahan ejekan dan gunjingan orang orang yang lewat di jalan.  Tahukah engkau akan hal itu?” Ia berkata, “lya”, Abdullah berkata,  “Bagaimanakah sikap Nabi Ayyub?”. Ia berkata, “Ia bersabar bersyukur,  dan memuji Allah. Langsung jelaskan maksudmu!. Semoga Allah merahmatimu.

Maka,  Abdullah pun menjelaskan, “Sesungguhnya temukan keadaan telah pasir dalam diterkam binatang buas.  Semoga Allah melipatgandakan pahala dan menyabarkanmu”. orang itu berkata, “Segala puji bagi Allah yang tidak menciptakan untukku keturunan yang bermaksiat kepada-  Nya lalu la menyiksanya dengan api neraka.”

Ia pun ber-istirja’ lalu menarik nafas panjang, kemudian meninggal dunia. Abdullah ber-istirja’ kemudian menyelimutinya dengan kain yang ada ditubuhnya. Ia duduk di dekat kepalanya seraya menangis. Tiba tiba datanglah empat orang.  Salah seorang dari mereka bertanya, “Hai Abdullah, ada apa denganmu?”  Maka Abdullah menceritakan peristiwa yang baru dialaminya.

Lalu mereka berkata, “Bukalah wajah orang itu, siapa tahu kami mengenalnya”. Lantas Abdullah pun membuka wajahnya. Seketika mereka pun bersungkur mencium kening dan kedua tangannya Mereka berkata, “Demi Allah, matanya selalu tunduk, berpaling dari melihat hal hal yang diharamkan oleh Allah. Demi Allah, tubuhnya selalu sujud tatkala orang-orang nyenyak dalam tidur” Abdullah bertanya kepada mereka. “Siapakah orang ini?,” Mereka berkata, “Abu Qilabah Al-Jarmi, Murid Ibnu Abbas la sangat cinta kepada Allah dan Rasul-Nya”

Lalu mereka memandikan dan mengafani Abu Qilabah dengan pakaian yang mereka pakai. Mereka menshalati jenazah mulia tersebut dan menguburkannya. Kemudian mereka pergi. Malam harinya, saat Abdullah tidur, ia bermimpi melihat orang tadi berada taman surga. Ia memakai dua lembar kain dari kain surga sambil membaca firman Allah

سَلَامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ ۚ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ
“Keselamatan bagi kalian (dengan masuk ke dalam surga), karena kesabaran kalian,  Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” [QS.  Ar-Ra’d:24]

Abdullah bertanya kepadanya, “Bukankah engkau adalah orang yang aku temui tadi siang?. la berkata, “Benar”. Abdullah berkata, “Bagaimana engkau bisa memperoleh semua ini. Ia berkata,

“Sesungguhnya Allah menyediakan derajat derajat kemuliaan yang tinggi, yang tidak bisa diperoleh kecuali dengan sikap sabar tatkala ditimpa bencana, dan rasa tatkala lapang disertai rasa takut kepada Allah baik dalam keadaan bersendirian maupun di depan khalayak ramai”

3. Beribadah dengan Baik

“.. wa husni ‘ibadatik (dan beribadah kepada-Mu dengan baik)”,

Renungkanlah di sini tidak sekedar berkata “wa ‘ibadatik (dan beribadah kepada-Mu)”, tapi berkata “wa husni ibadatik (dan beribadah kepada-Mu dengan baik)”, karena ibadah tidak akan diterima kecuali jika disifati dengan baik. Dan suatu ibadah tidak disifati dengan baik kecuali jika terkumpul dua perkara di dalamnya, yaitu

1. ikhlas kepada Al-Ma’bud (Dzat yang diibadahi) dan
2. mengikuti (petunjuk) Rasul shallaLlahu ‘alaihi wa sallam.

Oleh karena itu, ketika Al-Hasan Al-Bashri rahimahuLlahu Ta’ala – atau Fudhail bin ‘Iyadh menjelaskan tentang firman Allah, “Supaya Dia menguji kalian, siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya”

maka ia berkata, “Yang paling ikhlas dan paling benar dalam beramal”. Inilah makna firman-Nya, “ahsanu amala (yang lebih baik amalnya)”.

Dia (Fudhail) berkata, “Yang paling ikhlas dan paling benar dalam beramal”.

Ia pun ditanya, “Wahai Abu ‘Ali! Apakah yang dimaksud dengan yang paling ikhlas dan paling benar dalam beramal?”.

Dia menjawab, “Jika amalnya ikhlas namun tidak dikerjakan dengan benar maka tidak akan diterima, dan jika benar namun tidak ikhlas juga tidak diterima, hingga amal tersebut dilakukan dengan ikhlas dan benar (sekaligus). Ikhlas adalah dikerjakan karena Allah, dan benar adalah dikerjakan di atas (sesuai) sunnah”.

Dan dua landasan ini terkumpul dalam ucapanmu, dalam ucapan doamu: “wa husni ibadatik (dan beribadah kepada-Mu dengan baik)”.

Dengan permohonan ini, kita seolah-olah meminta agar saat kita sholat, kita bisa thuma’ninah. Itulah ibadah yang baik.

Kita menulaikan sholat Jumat, mengikuti rangkaiannya dengan sempurna. Datang lebih awal, mendengarkan khutbah tanpa cerita.

Bila ada yang mengantuk, hendaknya ia berupaya melawannya. Dia hendaknya mandi sebelum ke masjid. Memakai minyak wangi, memakai pakaian terbaik.

Kemudian perlu diingat wahai kaum muslim, jika engkau berdoa kepada Allah dengan doa ini pada akhir shalat: “Allahumma a’inni ‘ala dzikri-Ka wa syukri-Ka wa husni ‘ibadati-Ka (Ya Allah, tolonglah aku untuk selalu mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu dan beribadah dengan baik kepada-Mu)”, ikutilah doa tersebut dengan mengambil sebab. Ikutilah doa dengan mengambil sebab, berusahalah untuk menjadi orang yang selalu berdzikir, menjadi orang yang selalu bersyukur, dan menjadi orang yang baik dalam beribadah kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala. Jika engkau mengumpulkan dua hal ini, yaitu meminta pertolongan (kepada Allah) dan berusaha (mengambil) sebab maka engkau akan meraih kebaikan di dunia dan akhirat, dan engkau telah melaksanakan sabda Nabi kita ‘alaihish-shalatu was-salam:

احرص على مَا يَنفعكَ وَاستعِنْ باللهِ وَلا تَعْجزنّ

“Berusahalah meraih apa-apa yang bermanfaat bagimu dan minta tolonglah kepada Allah dan jangan bersikap lemah.”(12)

Aku memohon kepada Allah agar menolongku dan juga kalian semua untuk senantiasa mengingat-Nya, bersyukur kepada-Nya dan beribadah dengan baik kepada-Nya. Allahu a’lam (Allah yang lebih mengetahui). Shalawat dan keselamatan semoga tercurah kepada RasuluLlah.

Alhamdulillah

===

Teks ini disadur dari ragam situs dan buku.