fbpx

Bismillah

Diantara fenomena yang tampak dewasa ini adalah

  • rendahnya cita-cita kaum muslimin,
  • puasnya diri mereka dengan sesuatu yang rendah,
  • keenggangan melakukan sesuatu yang besar, serta
  • cenderung sibuk pada hal-hal yang tidak bermanfaat bahkan memalukan.

Olehnya itu, tidak heran jika umat Islam menjadi mangsa bagi musuh-musuhnya. Padahal dulu mereka begitu perkasa dan disegani.

Berdasarkan kenyataan itu, alangkah perlunya umat Islam kembali meninggikan cita-cita agar kemuliaan yang telah dirampas direnggut kembali.

Dengan kata lain, apa yang saya perbuat sehingga cita-cita tinggi kembali bersemai? Kembali kuat di dalam hati?

Cita-cita dalam bahasa Arab disebut al-himmah.

Al himmah berasal dari kata al-hamm. Artinya keinginan.

Adapun al-‘aliyah artinya tinggi.
Kalau disematkah kesebuah tempat,
Aliyatul Hijaz, dataran yang paling atas dan paling tinggi di Hijaz.

Sehingga himaatul ‘aliyah adalah cita-cita yang tinggi. Lawan dari dunuwwul himmah (rendahnya cita-cita).

Apa saja langkah mewujudkan cita-cita yang tinggi itu?

1. Adanya pendidik hebat

Mereka adalah orang yang menghiasi pribadi dengan ilmu, kesabaran dan keberanian.

Pengaruhnya sangat kuat.

Syaikh Muhammad al Basyir al Ibrahimi rohimahulloh berkata,
“..berusahalah semaksimal mungkin agar perkataan yang kalian sampaikan ke murid-murid sejalan dengan amal perbuatan yang mereka lihat dan saksikan dari kalian. Karena masa pertumbuhan akan memantau hal hal detail..
Jika kalian memperlihatkan bahwa kejujuran itu indah maka jadilah kalian orang-orang yang jujur. Jika kalian menampakkan bahwa kesabaran itu baik maka hehndaklah kalian menjadi orang-orang yang sabar.”

2. Motivasi

Motivasi bukan tanggung jawab pendidik dan pengajar saja. Tapi, itu adalah tanggung jawab bersama.

Lihatlah Imam Ahmad,
Seorang yang diuji karena fitnah menyatakan bahwa al Quran adalah makhluk.

Apa yang memotivasinya? Hanya dari seorang lelaki awam.

Dari Abdullah bin Ahmad (anak imam Ahmad)

“Seringkali dahulu aku mendengar ayahku (al-Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah) berkata:

Ya Allah, ampunilah Abul Haitsam
Ya Allah, rahmati Abul Haitsam.

Maka aku bertanya padanya: “Wahai ayahanda, siapakah Abul Haitsam?”

Beliau menjawab: “Seseorang dari kalangan A’rab (Badui) yang wajahnya sama sekali tak pernah kulihat.

Suatu malam ketika aku selesai dicambuk dahulu (karena fitnah al-Qur’an makhluk-pent), mereka (penguasa) menahanku di penjara bawah tanah yang gelap. Lalu seseorang mencolekku dan bertanya:”Apakah engkau Ahmad bin Hambal?”

Al-Imam Ahmad:”Benar.”

Dia berkata:”Apakah engkau mengenalku?”

Al-Imam Ahmad: “Tidak.”

Dia berkata kembali: “Aku adalah Abul Haitsam, sang perampok, peminum khamr, dan tukang begal. Tertulis dalam catatan Amirul Mukminin bahwasanya aku telah dicambuk sebanyak 18 ribu kali cambukan yang bermacam macam. Dan sungguh aku telah mampu bersabar menanggung  semua (siksaan) ini di atas jalan setan. Maka bersabarlah engkau wahai Ahmad, (karena engkau disiksa) di JALAN ALLAH.

Maka ketika mereka mengikatku dan memulai cambukannya, setiap kali cambuk mendarat di punggungku, aku teringat ucapan Abul Haitsam dan aku berkata dalam hati:

“Bersabarlah, engkau di jalan Allah wahai Ahmad!”

Sumber: Manaqib al-Imam Ahmad bin Hambal hal 450-45

3. Aqidah yang Benar

Lurusnya aqidah akan menjaga pemiliknya dari kehancuran, kejatuhan, dan kesia-siaan.

Karena aqidah yang kuat akan memandu untuk melakukan kebaikan dan mencegah dari setiap keburukan.

4. Doa

Karena Allah azza wajalla menyuruh kita, artinya,

“Berdoalah kepada-Ku, niscaya aku mengabulkannya untuk kalian.”
(QS. Al Mu’min: 60)

5. Membaca al Qur’an dan Memahaminya

Al Quran memberi petunjuk kepada manusia ke jalan yang lurus. Al Quran mengisi jiwa dengan kebesaran mentalitas, membersihkan jiwa, mengokohkan keimanan.

Tujuan diturunkannya Al Quran bukan semata dibacakan pada saat perlombaan, bukan tujuan2 semisalnha.

Tetapi, Al Quran untuk ditadabburi, direnungi, dipahami, sebagai pedoman hidup.

==

Itulah 5 pendongkrak agar cita-cita tinggi tercapai.

Ada kisah menarik..

Kisah ini dimulai seperti yang tertulis di dalam Kitab Syiar A’lam An-Nubala’.

Imam Adz Dzahabi sang penulisnya menceritakan kisah pertemuan empat pemuda istimewa.

Pemuda pertama adalah Abdullah bin Umar, putra Umar bin Khottob.

Ketiga pemuda lainnya adalah putra Zubair bin Awwam yang dilahirkan dari rahim Asma’ binti Abu Bakar-shahabiyah yang disebut Nabi sebagai Dzatun Niqatain- .

Mereka adalah Abdullah bin Zubair, ‘Urwah bin Zubair, dan Mush’ab bin Zubair.

Mereka berkumpul di Hijr Ismail, setengah lingkaran yang ada di Ka’bah. Kemudian mereka duduk bersama. Ini pertemuan yang unik karena mereka membukanya dengan sebutan tamannaw yang berarti “Sebutkan cita-cita kalian!”.

Ya, ini adalah majelis cita-cita.
Majelis ini dimulai dengan kalimat Abdullah bin Zubair, “Saya ingin kekhilafahan.”

Masya Allah… Anak muda yang ingin menjadi khalifah. Sejak muda telah berfikir cita-cita dan tanggung jawab yang besar.

Selanjutnya Urwah bin zubair berkata,
“Saya ingin menjadi tempat masyarakat ini mengambil ilmu.”

Keinginannya sangat mulia, ingin menjadi seorang ulama, seorang ilmuan besar.

Kemudian Mush’ab bin Zubair pun menyampaikan keinginannya, ”Saya ingin menjadi Amir Iraq dan menikahi Aisyah binti Thalhah dan Sukainah binti Husain.”

Lihatlah! Mush’ab bercita-cita dua hal sekaligus: menjadi pemimpin di Iraq dan menikahi wanita sholihah yang sangat cerdas dan cantik di zamannya. Keduanya putri dari sahabat-sahabat Nabi shalallahu alaihi wassalam.

Terakhir, sebuah asa disampaikan Abdullah bin Umar, “Aku ingin Allah mengampuniku.”

Sebuah cita-cita yang terkesan sederhana, tapi sesungguhnya bermakna sangat dalam dan didamba tiap insan bertaqwa.

Detik demi detik berganti. Waktu pun berlalu. Hijr Ismail menjadi saksi bahwa cita-cita tulus yang mereka katakan ternyata Allah sampaikan pada takdirnya.

Abdullah bin Zubair benar-benar menjadi khalifah selama kurang lebih sembilan tahun. ‘Urwah sungguh menjadi ulama besar di Kota Madinah.

Banyak sanat hadits darinya yang diambil dari ‘Aisyah binti Abu Bakar, Ummul Mu’minin yang merupakan bibinya. Mush’ab pun benar menjadi pemimpin di Iraq dan bisa menikahi dua wanita sholihah yang sangat cerdas dan cantik tesebut.

Masya Allah … kekuatan keinginan, cita, dan asa yang Allah ijabah. Allah izinkan harapan-harapan itu terwujud.
Keinginan yang belum bisa kita lihat adalah ketercapaian cita-cita Abdullah bin Umar. Allah yang memiliki segala rahasia. Apakah Allah mengampuni dosa-dosa Abdullah bin Umar seperti yang ia sampaikan di majelis itu?

Tapi Imam Adz Dzahabi rahimahullah menuliskan keyakinannya bahwa Allah akan mengampuni dosa-dosa Abdullah bin Umar sebagaimana yang ia inginkan.

Semua berawal dari cita-cita..

==

Tulisan ini disusun dari buku Mental Juara karya Syaikh Dr. Muhammad bin Ibrahim al-Hamad