Istilah ini, pertama kali saya dengar dari Pak Firmansyah Lafiri. Yang merupakan pimpinan redaksi sebuah koran Islami di Makassar.

Taklim hunter, bisa diterjemahkan sebagai “pemburu taklim”.

Artinya apa?

Dia ada sosok yang senang dengar ilmu syar’i dalam bingkai taklim.

Mayoritas kebahagiaannya terpenuhi dalam suasana taklim. Mendengar ayat, hadits, dan beserta syarahnya merupakan ihwah yang selalu didambakan.

Rosulullah shollallohu alayhi wasallam bersabda tentang soso yang senang menuntut ilmu ini,

“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid) untuk membaca Kitabullah dan mempelajarinya di antara mereka. Melainkan ketenteraman turun atas mereka, rahmat meliputi mereka, malaikat mengelilingi mereka, dan Allah menyanjung mereka di tengah para Malaikat yang berada di sisi-Nya…”
(HR. Muslim)

Kita banyak berkawan dengan orang-orang seperti ini. Semisal di Makassar.

Ada taklim di Galangan, dia kejar.
Di Baji Rupa, ikut lagi.
Di Antang, semangat terus.

Keringatnya tidak melunturkan semangatnya.
Peluhnya tidak menghentikan nawaitunya.

Subahanallah.

Itulah taklim hunter. Semoga Allah azza wajalla senantiasa memberikan mereka kesehatan. Amiin.

Namun, tentu dengan semangat menuntut ilmu, ada perlu yang diupgrade.

Maksudnya?

Jadi gini, jangan sampai para taklim hunter itu, tidak membawa alat tulis menulis. Sehingga, hanya jadi penikmat saja.

Menulislah. Ambil pena, bawa buku. Catat segala faedah.

Karena menulis itu, adalah adab seorang pembelajar.
Pengingat kala lupa.

Lalu, apa setelah menulis?

Share.

Bagikan ilmu kepada orang lain. Sharing faedahnya kepada yang tidak hadir saat itu.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

“Menyampaikan/menyebarkan sunnah (petunjuk) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umat manusia lebih utama daripada menyampaikan (melemparkan) panah ke leher musuh (berperang melawan orang kafir di medan jihad).

Karena menyampaikan panah ke leher musuh banyak orang yang (mampu) melakukannya, sedangkan menyampaikan sunnah (petunjuk) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umat manusia hanya (mampu) dilakukan oleh (para ulama) pewaris para Nabi ‘alaihis salam dan pengemban tugas mereka di umat mereka.

Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita termasuk golongan mereka dengan karunia dan kemurahan-Nya.”
[Kitab “Jala-ul afhaam” (hal. 415)]

Karena zaman ini adalah media sosial. Jangan sampai ilmu agama kurang, bahkan tidak di akses oleh orang awam.

Kok bisa?

Bisa jadi karena taklim hunter tidak mengambil bagian dari penyebarluasan ilmu.

Sangat disayangkan jika:

Komunis menulis.
Syiah menyajikan syubhat.
Ahlul bid’ah berkoar di media.

Dimana dirimu taklim hunter?

Jangan diamkan ilmu hanya untuk diri sendiri.

Bergerak. Sebarkan. Ada tombol post di media sosialmu. Klik itu!

Taklim Hunter, _go a head!_

🖊Abu Abdirrahman