Memang betul seorang muslim wajib solat berjamaah di masjid.

Namun, ada perilaku yang mesti diubah. Yang kadang ini menjadi hal yang lumrah dan tidak ada kesedihan.

Apa itu?

Yaitu masbuq.

Masbuq dalam istilah para ulama fikih adalah orang yang ketinggalan imam dalam sebagian raka`at shalat atau seluruhnya atau mendapati imam setelah satu raka`at atau lebih.

Entah alasan apa yang menjadi motor penggerak masbuq ini.

Apakah karena Whatsapp-an.
Facebook-an.
Internetan-an.

Ini harus diubah. Dan mesti menjadi bahan evaluasi.

Karena kita tahu bersama keutamaan berada di shof pertama, alias tidak masbuq.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

خَيْرُ صُفُوفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا وَشَرُّهَا آخِرُهَا

“Sebaik-baik shof laki-laki adalah shof yang pertama dan seburuk-buruk shof laki-laki adalah shof yang terakhir.”
(HR. Muslim)

Dan hal ini menjadi miris saat di sebuah perumahan Islam, masih banyak yang masbuq. Masih banyak menambah rakaat saat imam sudah salam.

Menjadi miris jika masbuq menjadi kebiasaan dalam diri kita. Orang lain tahu bahwa kita adalah jamaah yang selalu terlambat. Malu.

Dan menjadi aneh saat kita sudah berjanggut dan tidak isbal, tapi selalu saja masbuq.

Astagfirulloh.

Apa yang salah ini?

Tentunya, setiap diri tahu penyebabnya.

Coba kita simak ulama dalam kontinuitas berada di shaf pertama

Muhammad bin Sama’ah rahimahullahu berkata,

“Saya tinggal selama 40 tahun tidak pernah luput dari takbir pertama melainkan satu hari saja, yaitu hari ketika ibuku meninggal.

Maka, luput dari saya satu shalat berjamaah..”
(Tahdzibut Tahdzib 9/204, Mathba’ah Dairatil Ma’arif, India, cet. I, 1326 H, Asy-Syamilah)

Lihatlah bagaimana semangat ulama untuk berada dalam garda terdepan untuk kebaikan.

Dan inilah manifestasi keimanan dalam ayat,

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ

“Berlomba-lombalah dalam kebaikan.”
(QS. Al Baqarah: 148)

Mari kita sadar akan urgennya berada di shaf pertama. Bukan menjadi hamba yang selalu masbuq, masbuq, dan masbuq.

✏Kusnandar Putra


#masbuq