Judul: Bingkisan Tuk Kedua Mempelai
Terjemah Kitab: Risalah Ila Al-‘Urusain Wa Fatawa Az-Zawaj Wa Mu’asyarah An-Nisa’
Penulis: Abu Abdirrahman Sayyid bin Abdirrahman Ash-Shubaihi
Murajaah: Syaikh Muhammad Bin Jamil Zainu rahimahullah
Penerbit: Maktabah Al-Ghuroba’
Hal: 579 Hlmn
Berat: 950 gram

“Diantara hal-hal yang merintangi pernikahan adalah meninggikan mahar dan menjadikannya sebagai ajang (arena) untuk berbangga-banggaan dan perdagangan, tidak ada tujuan lain dari hal itu selain agar majelis dipenuhi dengan pembicaraan tentang tingginya mahar tersebut tanpa memikirkan akibat dari semua itu. Dan mereka tidak mengetahui bahwa mereka telah memberikan contoh yang jelek dalam Islam, dia akan mendapatkan dosa dia sendiri dan dosa orang-orang yang mencontohnya tanpa mengurangi sedikitpun dari dosa-dosa mereka. Di samping itu mereka telah menyengsarakan dan memberatkan orang lain, yang mana hal itu menyebabkan mereka dibenci, dimarahi dan diremehkan oleh manusia. Tinggi dan besarnya mahar kadang menyebabkan kebencian seorang suami kepada istrinya, bahkan akan keluar keputusan yang tidak bisa dielakkan darinya (yakni cerai) ketika mencul sebab yang ringan.”

(Bingkisan Tuk Kedua Mempelai, hal. 87)

Itulah salah satu paragraf yang terterapa pada Buku “Bingkisan ‘Tuk Kedua Mempelai” karya Abu Abdirrahman Sayyid bin Abdirrahman Ash-Shubaihi, cetakan Makhtabah al-Ghuroba.

Di dalam buku ini, kita diajak untuk bersegera untuk menikah bagi pemuda. Selain itu, tentunya buku ini mendidik para pengantin baru memiliki adab dalam pra nikah, menikah, hubungan intim, fatwa-fatwa, dan pengasuhan anak. Penulis sangat apik dalam menyajikan karyanya, beliau memberikan panduan seraca gamblang dari A sampai Z beserta dalil-dalil shohihnya. Sehingga, pembaca tidak kikuk dalam mencerna makna kalimat per kalimat.

Diksi yang sangat kuat, membuat pembaca semakin tertarik membaca buku ini sampai tuntas. Maka dari itu, penulis mengatakan pada mukaddimah,

“Aku sangat senang untuk mempersembahkan risalah tipis yang terpancar dari lubuk hati yang dalam ini dengan puncak kesenangan dan angan-angan yang paling manis kepada setiap pemuda dan pemudi yang akan menjalin hubungan melalui pernikahan yang syar’i.”

(Bingkisan Tuk Kedua Mempelai, hal. 29)

Kalau kita menelaah kalimat-kalimat indah ini, ternyata penulis menuliskan dengan semangat dan ilmu yang kokoh. Tidak kemudian memblow up tulisan asal-asalan. Sehingga, pembaca bisa meneguk ilmu lebih dalam pada soal pernikahan.

Kita ketahui bersama bahwa pernikahan adalah sarana memperkuat semangat beribadah antar pasangan. Mengokohkan iman satu sama lain. Sehingga, sangat disayangkan sekali jika ada sebuah kasus pernikahan yang kemudian diakhirkan dengan kata perceraian.

“Saudaraku muslim… Menikah adalah ladang untuk menanam keturunan, tempat ketenangan bagi jiwa, perhiasan kehidupan, ketentraman hati, serta penjagaan terhadap anggota badan sebagaimana nikah itu sendiri merupakan kenikmatan, ketenangan, sunnah, tabir (tirai) penutup dan pelindung serta sebab dihasilkannya keturunan-keturunan shalih yang akan bermanfaat bagi seseorang dalam kehidupannya dan setelah kematiannya.”

(Bingkisan Tuk Kedua Mempelai, hal. 40)

Yang paling menyita ‘konsentrasi’ pembaca adalah di saat masuk pada Bab. Adab-Adab Jima’. Mengapa? Karena di sinilah penulis memaparkan bagaimana Islam mengatur hubungan atau nafkah batin suami istri. Agar mereka tidak seperti hewan yang tidak ‘beradab’.

“Selayakinya bagi suai apabila hendak melakukan jima’ dengan istrinya untuk menjaga dirinya dari perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh sebagaian orang-orang awam yang merupakan perbuatan terlarang, yaitu mendatangi istri dalam keadaan lalai.”

(Bingkisan Tuk Kedua Mempelai, hal. 208)

Oleh karena itu, sangat disayangkan jika buku ini terlewatkan oleh para pemuda yang hendak menikah. Dan juga bagi para suami istri yang ingin ‘menyegarkan’ kembali suasana rumah tangganya, silahkan membaca buku ini.

Wallohu alam…[]