الْحَمْدُ للَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى وَأَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلٰهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

—–
Jamaah yang dimuliakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala…
—–

Salah satu yang wajib kita syukuri di saat ini adalah berjumpa dengan bulan Romadhon.

Mengapa?

Ada sebuah kisah menarik:

Thalhah bin Ubaidillah bertutur, ‘Ada dua orang sahabat yang masuk Islam bersamaan di hadapan Rasulullah shollallohu alayhi wasallam. Satu dari dua sahabat tersebut lebih rajin dan lebih giat dalam beribadah dari pada sahabatnya yang satu lagi. Bahkan, sahabat yang rajin ibadah ini, kemudian ikut berperang dan gugur syahid di medan perang. Sementara sahabatnya yang biasa-biasa saja, tidak ikut berperang juga tidak gugur syahid. Ia hidup sampai satu tahun setelahnya, dan gugur di atas kasur.

Setelah keduanya meninggal, Thalhah bin Ubaidillah bermimpi. Dalam mimpinya, ia sedang berada di depan pintu surga, memperhatikan orang-orang yang dimasukkan ke dalamnya. Thalhah pun melihat kedua sahabat tadi juga sudah berdiri di depan pintu surga untuk sama-sama masuk ke dalamnya.

Namun, ada satu hal yang aneh dan sangat mengherankan. Temannya yang ibadahnya biasa-biasa dan meninggal di atas kasur, justru lebih dahulu dimasukkan ke dalam surga, dari pada temannya yang lebih rajin ibadahnya, bahkan gugur syahid di medan perang.
Thalhah merasa sangat heran, dan ia pun segera menyampaikan mimpinya itu kepada para sahabat lainnya. Semua sahabat pun sama-sama heran dan serasa tidak percaya akan berita yang diterimanya itu.

Sampai akhirnya, mereka menemui Rasulullah shollallohu alayhi wasallam untuk menanyakan mengapa hal itu bisa terjadi.

Setelah diceritakan keheranan para sahabat saat itu, Rasulullah shollallohu alayhi wasallam. kemudian bersabda, “Apakah dengan kejadian itu kalian merasa kaget dan heran?”

Para sahabat menjawab: “Iya, Rasul. Kami sangat heran dan kaget. Bagaimana tidak, temannya yang satu lebih rajin beribadahnya dari teman yang satunya lagi, bahkan ia ikut berjihad dan gugur syahid di medan perang untuk membela agama Allah. Namun, justru yang dimasukkan ke surga lebih dahulu malah temannya yang meninggal di atas kasur itu”.

Rasulullah shollallohu alayhi wasallam kembali bersabda, “Bukankah temannya yang gugur di atas kasur itu, masih diberikan umur satu tahun dari temannya yang gugur syahid?”

“Betul, ya Rasulullah”, jawab para sahabat.

“Bukankah temannya yang gugur di atas kasur itu, masih dapat bertemu dengan bulan Ramadhan, kemudian ia berpuasa di dalamnya?” tanya Rasulullah shollallohu alayhi wasallam kembali.

“Betul, ya Rasulullah”, jawab para sahabat.

“Bukankah, temannya yang gugur di atas kasur itu, masih dapat melakukan shalat itu dan ini selama satu tahun lamanya?” tanya Rasulullah shollallohu alayhi wasallam kembali.

“Betul, ya Rasulullah” jawab para sahabat.

Rasulullah shollallohu alayhi wasallam lalu kembali bersabda: “(Ketahuilah), perbedaan di antara keduanya ini adalah seperti perbedaan antara langit dan bumi”.
(HR. Ahmad, Ibn Majah, Ibn Hibban dalam Shahih nya, Baihaki dan lainnya, dengan sanad hasan.)

—–
Jamaah yang dimuliakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala…
—–

Masyaallah. Sungguh luar biasa. Mengapa? Karena ia masih dapat bertemu dengan bulan Ramadhan dan mengoptimalkan ibadah di dalamnya dalam bentuk puasa juga ibadah-ibadah lainnya.
Sungguh luar biasa keistimewaan dan kemuliaan bulan Ramadhan ini. Sungguh tiada tara keutamaan bulan Ramadhan. Maka, mari kita optimalkan ibadah kita di bulan ini, siang dan malamnya.

Bulan romadhon ini, juga sebagai bulan istigfar. Momentum buat kita sebagai hamba Allah subhanahu wa ta’ala untuk meminta ampunan kepada-Nya.

Mengapa?

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

كل بني آدم خطاء

“Setiap Bani Adam (manusia) banyak melakukan kesalahan (dosa),..”
(Hasan, lihat shahih at-Targhib wa at-Tarhib 3139)

Setiap dari kita melakukan kesalahan, tidak ada yang suci.

Tapi, Allah subhanahu wa ta’ala memerintahan kita,

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا

“Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun.”
(QS. Nuh/71 : 10)

—–
Jamaah yang dimuliakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala…
—–

Istigfar berasal dari kata “migfar”. Yang artinya menutup.

Apa maksudnya?

Jadi, jika seseorang melakukan kebaikan maka kebaikan itu akan memanggil kebaikan lain. Saat orang puasa maka ia akan jujur, dermawan, dsb.

Demikian pula saat melakukan dosa. Maka dosa itu akan memanggil kawannya. Dari 1 cosa, menjadi 2 dosa, dst.

Nah, dengan istigfar bukan hanya seseorang bertaubah kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Namun, Allah subhanahu wa ta’ala pun akan MENUTUP akses ke dosa selanjutnya. Sehingga ia benar-benar berhenti. Tentunya dengan taubat yang jujur.

Syarat istigfar itu sama dengan syarat taubat.

1. Ikhlas
Semata-mata mengharap wajah Allah subhanahu wa ta’ala. Bukan karena ingin dipuji manusia. Bukan kerena menghindari hukuman.

2. Menyesal
Dia merasa rugi dan sedih atas dosa yang dilakukan. Dia akui salah perbutannya, tidak membenarkan.

3. Berhenti
Ini syarat paling penting. Dia bukan hanya stop dari perbuatan keji, tapi ada upaya berbenah.

Apabila dosanya karena meninggalkan kewajiban maka doa harus laksanakan kewajiban.

Dia tidak mengelarkan zakat maka dia keluarkan zakat.

Dia tidak berbakti kepada orang tua maka dia wajib berbakti. Dst.

Apabila terkait hak manusia, dia kembalikan atau meminta keridhoannya. Seperti mencuri, dia kembalikan. Atau pukulan kepada orang lain, biarkan orang itu memukul juga. Datangi dan minta maaf, atau dengan kesepakatan bersama, dipunggung juga dipukul.

4. Bertekad tidak mengulangi.

Jika ada tekad mengulangi, berarti kita belum diterima taubatnya. Misalnya, dia taubat dari mencuri, lalu tertangkap, kemudian dalam hatinya berucap “Saat keluar dari penjara, saya akan mencuri lagi.”

5. Istigfar Sebelum Waktunya Ditutup

Yaitu tatkala:
1. Sebelum sakratul maut.
2. Sebelum matahari terbit dari barat.

Inilah 5 syarat istigfar atau taubat diterima.

—–
Jamaah yang dimuliakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala…
—–

Perhatikan akhlak Nabi kita dalam beristigfar. Beliau pernah bersabda,

“Wahai manusia, hendaknya kalian bertaubat dan memohon ampunan kepada Allah:

فاني أتوب في اليوم مائة مرة

Sesungguhnya aku bertaubat sebanyak seratus kali dalam sehari.”
(HR. Muslim)

Bagaimana lagi dengan kita? Yang penuh dengan banyak kesalahan!

—–
Jamaah yang dimuliakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala…
—–

Mungkin ada bertanya, “Apa faedah, dampak dari istigfar kita?”

Ada sebuah kisah menarik dari Kitab Manakib Imam Ahmad. Kisah Inspiratif ini dikemukakan oleh Imam Ahmad bin Hambal Rahimahullah (murid Imam Sya fi’i) dikenal juga sebagai Imam Hambali.

Dimasa akhir hidup beliau bercerita:

“Satu waktu (ketika saya sudah usia tua) saya tidak tahu kenapa ingin sekali menuju satu kota di Irak”. Padahal tidak ada janji sama orang dan tidak ada hajat.

Akhirnya Imam Ahmad Rahimahullah pergi sendiri menuju ke kota Bashrah. Beliau bercerita:“Begitu tiba disana waktu Isya’, saya ikut shalat berjamaah isya di masjid, hati saya merasa tenang, kemudian saya ingin istirahat“.

Begitu selesai shalat Imam Ahmad Rahimahullahingin tidur di masjid, tiba-tiba Marbot masjid datang menemui Imam Ahmad sambil bertanya:“kamu mau ngapain disini.”

Marbot tidak tau kalau beliau adalah Imam Ahmad Rahimahullah. Imam Ahmad menjawab:“Saya ingin istirahat, saya musafir.” Kata marbot:“tidak boleh, tidak boleh tidur di masjid !“.

Imam Ahmad bercerita:“Saya didorong-dorong oleh orang itu disuruh keluar dari masjid, Setelah keluar masjid, dikunci pintu masjid. Lalu saya ingin tidur di teras masjid“.

Ketika sudah berbaring di teras masjid Marbotnya datang lagi, marah-marah kepada Imam Ahmad:“Mau ngapain lagi syaikh?” Kata marbot. “Mau tidur, saya musafir” kata imam Ahmad.

Lalu marbot berkata:“di dalam masjid gak boleh, di teras masjid juga gak boleh.” Imam Ahmad diusir. Imam Ahmad bercerita:“Saya didorong-dorong sampai jalanan”.

Disamping masjid ada penjual roti (rumah kecil sekaligus untuk membuat dan menjual roti). Penjual roti ini sedang membuat adonan, sambil melihat kejadian Imam Ahmad didorong-dorong oleh marbot tadi. Ketika Imam Ahmad sampai di jalanan, penjual roti itu memanggil dari jauh, “mari syaikh, anda boleh nginap ditempat saya, saya punya tempat, meskipun kecil”.

Kata imam Ahmad “baik” Imam Ahmad masuk ke rumahnya, duduk dibelakang penjual roti yang sedang membuat roti (dengan tetap tidak memperkenalkan siapa dirinya, hanya bilang sebagai musafir).

Penjual roti ini punya perilaku khas, kalau Imam Ahmad ajak bicara dijawabnya. Kalau tidak, dia terus membuat adonan roti sambil melafalkan istighfar, “Astaghfirullah“.

Saat memberi garam, Astaghfirullah, menecah telur Astaghfirullah, mencampur gandum Astaghfirullah. Dia senantiasa mendawamkan istighfar. Sebuah kebiasaan mulia. Imam Ahmad memperhatikan terus.

Lalu imam Ahmad bertanya “sudah berapa lama kamu lakukan ini?” Orang itu menjawab, “sudah lama sekali syaikh, saya menjual roti sudah 30 tahun, jadi semenjak itu saya lakukan“.

Imam Ahmad bertanya “maa tsamarotu fi’lik?”, “apa hasil dari perbuatanmu ini?”
Orang itu menjawab:“(lantaran wasilah istighfar) tidak ada hajat yang saya minta,kecuali pasti dikabulkan Allah. semua yang saya minta ya Allah….,langsung diwujudkan.”

Lalu orang itu melanjutkan:“Semua dikabulkan Allah kecuali satu, masih satu yang belum Allah beri.”

Imam Ahmad penasaran lantas bertanya: “apa itu?”
Kata orang itu:“Saya minta kepada Allah supaya dipertemukan dengan Imam Ahmad”.

Seketika itu juga Imam Ahmad bertakbir:“Allahu Akbar..! Allah telah mendatangkan saya jauh dari Bagdad pergi ke Bashrah dan bahkan sampai didorong-dorong oleh marbot masjid itu sampai ke jalanan, ternyata karena istighfarmu.. ”

Penjual roti itu terperanjat, memuji Allah, ternyata yang didepannya adalah Imam Ahmad…

Ia pun langsung memeluk dan mencium tangan Imam Ahmad.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan seluruh aktivitas berberkah di bulan suci ini. Sehingga, kita bisa keluar dari bulan Romadhon menyandang predikat orang yang bertakwa.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

===

NB.
Naskah ini disajikan terinspirasi dari ceramah/khutbah para ustadz. Kami hanya mengedit dan menambah yang perlu. Silakan Anda improvisasi.