Saya pernah mendengar langsung seorang magister menegur dengan diksi “Bodoh!” kepada seseorang.

Hal itu kemudian dikomentari jamaah lainnya yang juga magister, kira-kira gini dia bilang,

“Ini orang punya pendidikan tinggi tapi ucapannya tidak sesuai pendidikannya.”

Realitas memang kadang gini. Ada beberapa orang yang tidak mencerminkan kualitas pendidikan yang dia lakoni selama ini.

Ada pendidikannya tinggi, jauh dari nilai ibadah.
Pendidikannya tinggi, masih kekanak-kanakan.
Pendidikannya tinggi, masih memihak kepada kebatilan.

Olehnya itu, tulisan kali ini, yuk kita bahas bagaimana sesungguhnya karakter mahasiswa S2 atau lulusannya.

*1. Mencintai Kebenaran*

Inilah ciri seorang muslim. Makin tinggi pendidikannya, makin membela kebenaran. Bukan kebatilan.

Saat dia S2, dia bagaikan dai. Yang menjunjung kevalidan sebuah problema.

Sangat disayangkan jika anak S2 hanya karena tendensi tertentu, entah harta atau sebagainya, dia membela kebatilan. Naudzubillan.

Dalil Quran dan hadits dia tidak acuh. Padahal, ihwal itu sudah terang-terangan ada kekeliruannya.

*2. Pola Pikir Matang*

Idealnya, anak S2 punya mindset lebih matang. Apa yang dia rancang, tahu akibatnya. Semua ada ukurannya.

Jika melakukan A, ini resikonya.
Kalau B, ini sisi positifnya.

Pokoknya komprehensif terhadap tantangan yang ada.

*3. Mampu Berkomunikasi*

Dia tidak pemalu. Siapa pun di depannya, dia bisa menjalin keakraban.

Di hadapan yang lebih tua usianya, mampu membangun keakraban.

Teman sebaya, ia bisa menyatukan diskusi.

Di bawah usianya, dia dapat bermusyawarah.

*4. Lebih Sering Menulis*

Mengapa harus rajin menulis?

Sebab anak S2 sudah sewajarnya punya struktur pemikiran yang dewasa. Untuk mengapresiasikannya, salah satunya dengan menulis.

Sususan argumen anak S2 saatnya hadir memberikan solusi bagi umat. Dia menjadi sebab tercapainya konten dakwah bagi masyarakat.

*5. Rajin Membaca*

Membaca adalah keniscayaan bagi anak S2. Membaca adalah “makanan primernya”. Bahkan bacaannya harusnya makin naik levelnya. Apakah ke literatur bahasa Arab dan Inggris.

Alangkah indahnya jika di rumah atau kamar anak S2 ada deretan buku-buku terpajang di lemarinya.

Minimal itu pertanda, ada referensinya dalam memantaskan diri sebagai pembelajar.

*6. Skala Prioritasnya Meningkat*

Dia tahu mana agenda penting, mendesak, sia-sia, dsb.

Jangan sampai hal ini tidak terdeteksi. Akhirnya buang-buang waktu dalam hidup ini. Sangat miris!

*7. Berinovasi dalam Profesi*

Dia punya ide baru. Tidak menjadi orang yang statis lagi.

Agendanya besar. Pikirannya tidak sama anak S1. Dia punya mimpi besar yang siap dieksekusi. Dengan meminta pertolongan kepada Allah azza wajalla.

*8. Makin Bermanfaat*

Anak S2 harus makin berharga kehadirannya di keluarganya, di masyarakatnya, di lingkungan kerjanya.

Dia makin akrab dengan anak. Makin bersahabat dengan pasangan.

Anak S2 punya daya kebermanfaatan di dada masyarakat.

Anak S2 ditunggu solusinya di lingkungan kerjanya.

*9. Anak S2 itu Zuhud*

Dunia hanya di tanganya, dia tidak meletakkan dunia di dadanya. Sebab, di dadanya hanyalah akhirat.

Dengan kondisi ini, dia makin jelas tujuan hidupnya. Makin tahu mana hal yang bermanfaat dan tidak.

*10. S2 adalah Masa Muda*

Jangan sia-siakan waktu saat S2 atau sudah selesai. Teruslah beramal shalih. Karena masa itu pun akan ditanya.

Sangat miris jika anak S2 atau lulusannya masih pacaran, masih nongkrong tidak ada manfaatnya.

Masa S2 adalah masa diantara 2 kelemahan.

Masa diantara kelemahan di masa kecil dan masa tua. So, manfaatkanlah.

‚úŹKusnandar Putra
https://kusnandarputra.com