“Ustadz, bacakan buku ini!” pinta seorang anak saat saya masuk ke kelasnya.

Dia kemudian menuntun, memperlihatkan sebuah deretan buku di samping meja guru.

Oo, saya perhatikan, ternyata ada pipa yang didesain sedemikan rupa sebagai penyangga buku-buu. Yap, itulah perpustakaan mini di dalam kelas mereka. Kelas VA.

Unik.

Sebab, bicara perpustakaan, adalah perkara yang tidak asyik lagi. Orang sudah jarang ke perpustakan.

Tengok saja ke perpustakaan dimana pun Anda kunjungi, sepi.

Itupun jika ada pengunjung, palingan para mahasiswa yang tengah diberi tugas oleh dosen. Atau pengen menyelesaikan tugas makalah dan skripsi.

Dan mungkin juga sih yang datang ke perpustakaan hanya untuk menikmati kesejukan AC semata, lalu memaikan smartphonenya.

“Daripada di luar panas, mendingan di dalam perpustakaan.” Itu kira-kira ilustrasinya.

Perpuskaan, dalam pengertiannya adalah sebuah koleksi buku dan majalah. Namun, untuk konteks kontemporer, bukan hanya buku dan majalah. Ada koran, bundel, dsb.

Semua tercakup untuk memenuhi kebutuhan nutrisi otak bagi setiap manusia. Tinggal manusianya, maj apa nggak menciduk ilmu itu.

Apalagi kita bicara lingkup anak SD, apakah mereka suka membaca? Apakah masih ada di mindset mereka bahwa buku adalah jendela ilmu?

Seperti kata guru-guru dulu, “Nak, kalau kamu baca buku, berarti kamu membuka jendela ilmu. Kamu sudah bisa keliling dunia.”

Itu konsep dulu.

Tapi, sekarang? Entahlah.

Kayaknya, anak-anak lebih suka main HP. Kepoin status temannya, selfie, update foto di instagram, dll.

Olehnya itu, kesadaran untuk menularkan kembali pentingnya membaca, saya kira urgen sekali. Tinggal bagaimana teknisnya.

Apa yang diusahakan oleh guru kelas VA di atas, saya kira patut dicontoh. Bagaimana buku itu bisa berada di kelas. Sehingg mudah dijangkau.

Sebab, kadang murid ingin membaca, tapi karena perpustakaan itu jauh dari kelasnya, akhirnya nggak jadi.

Suatu saat, seorang murid kelas VA bertanya sembari membaca buku Diary Warna-warni dari perpustakaan mininya,

“Ustadz, apa artinya sontak?”

Saya jawab sesuai kapasitas mereka. Dari situ saya paham, o, ternyata, dengan membaca, mereka pun akan bertambah diksinya. Kosa katanya bertambah.

Di sinilah juga akan terisi waktu kekosogan para murid.

Saat istirahat, dia membaca.
Sambil menunggu guru, dia menelaah buku.
Sambil diskusi, dia membaca.

Menarik memang dunia literasi ini. Bicara buku, menulis, dan membaca, insyaallah selalu menyegarkan.

Ada pemandangan menarik.

Imam Muhammad Bin Hasan As Syaibani tidak tidur malam. Dia meletakkan kitab (buku) disisinya untuk dibaca. Apabila bosan dengan satu kitab berpindah kepada kitab yang lain. Dia mengusir kantuk dengan air. Dia berkata, “Sesungguhnya tidur itu karena panas.”

Demikianlah para pendahulu kita dalam potret dunia membaca.

Semoga Allah azza wajalla senantiasa menumbuhkan semangat menuntut ilmu di hati anak-anak kita.

🖊Abu Abdirrahman