Salah satu nasehat Luqmanul Hakim kepada buah hatinya,

“Jangan kamu berbuat syirik, sesungguhnya kesyirikan adalah dosa yang paling besar….”

Dalam kajian pedagogi, ini adalah sebuah pendidikan supremasi (baca: teratas). Karena bersamaan dengan melarang, maka disajikan pula alasan pelarangan. Mengapa anak Luqmanul Hakim dilarang berbuat kesyirikan? Lihat kelanjutan ayatnya, “…karena kesyirikan adalah dosa yang paling besar….”

Pembaca yang budiman, kadangkali kita selaku orangtua atau pendidik, melarang anak tanpa menyebutkan alasan pelarangan. Ini justru menjadi kontribusi mubazzir. Ambil contoh, seorang anak yang dilarang berbohong, apakah kita sudah menyebutkan dosa yang ditanggung bagi seorang pendusta? Anak yang sedang bermain smartphone berjam-jam, sudahkah kita menjelaskan pentingnya kedudukan waktu? Wallohu a’lam.

Inilah yang kerapkali menjadi topik “rapuh”, yang malas dibahas oleh orangtua dan pendidik. Sehingga, jangan heran jika menemukan nantinya kedzoliman, itu tiada lain karena jarangnya memberikan “alasan”.

Orangtua dan para pendidik harus menjadi profil visoner, yang jelas arah pendidiaknnya. Bukan sekedar menjadi orangtua biologis yang hanya melahirkan dan melepas tanggungjawab.

Kita juga bukanlah guru robot, yang hanya kemudian bekerja sesuai program buruk “Datang, Duduk, Diam, Dapat!” Harus ada evaluasi.

Benang merahnya, setiap kita adalah da’i. Itulah petikan dari nasehat Ustadz Nashr Abdul Karim. Maka dari itu, jangan sia-siakan amanah pendidikan ini. Kita hidup harusnya memiliki manfaat di tengah keluarga, masyarakat, dan strata lainnya. Sebagaimana Nabi Isa alayhi salam, yang berberkah di setiap keberadaannya.

Mendidik adalah memberikan faedah, membagikan ilmu, sehingga berberkah di setiap kedatangan.

–Minasa Upa, 14 Muharrom 1435 H