Unik, subuh tadi (23/5) penceramah di Masjid Darul Falah, Minasa Upa, Makassar. Pasalnya dia angkat tema sederhana tentang adab mendengarkan adzan.

Penceramah menyebutkan beberapa adab mendengarkan azan seperti (-ed) :

1. Menjawab sesuai apa yang diucapkan muadzzin.

Abu Sa’id Al-Khudri mengabarkan bahwa Rasulullah shollallohu alayhi wasallam bersabda:

إِذَا سَمِعْتُمُ النِّدَاءَ فَقُوْلُوْا مِثْلَ مَا يَقُوْلُ الْمُؤَذِّنُ

“Apabila kalian mendengar adzan maka ucapkanlah seperti yang sedang diucapkan muadzin.” (HR. Al-Bukhari no. 611 dan Muslim no. 846)

Kecuali pada kalimat hayya alassolah dan hayya allal falaah maka dijawab:

لاَ حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ

2. Disunnahkan bagi orang yang mendengar adzan adalah bila selesai menjawab adzan, ia bershalawat untuk Nabi shollallohu alayhi wasallam.

Ada beberapa lafadz shalawat, di antaranya yang paling ringkas adalah:

اللُّهَمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ وَبَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَآلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

“Ya Allah, berilah shalawat kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad. Berilah keberkahan kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad. Sebagaimana Engkau bershalawat dan memberikan keberkahan kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.”

3. Setelah bershalawat, orang yang mendengar adzan memohon al-wasilah untuk Nabi shollallohu alayhi wasallam.

Nabi shollallohu alayhi wasallam bersabda, “Siapa yang ketika mendengar adzan mengucapkan doa,

اللُّهَمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ، آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيْلَةَ وَالْفَضِيْلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُوْدًا الَّذِيْ وَعَدْتَه

‘Ya Allah! Wahai Rabbnya seruan yang sempurna ini dan shalat yang akan ditegakkan ini, berikanlah kepada Muhammad al-wasilah dan keutamaan, dan bangkitkanlah beliau pada tempat yang dipuji (maqam mahmud) yang telah Engkau janjikan kepadanya.’

Niscaya ia pasti akan beroleh syafaatku pada hari kiamat.
(HR. Al-Bukhari no. 614, 4719)

4. Setelah itu, ia berdoa dengan doa apa saja yang ia inginkan terkait perkara dunia dan akhiratnya, niscaya akan diberikan permintaannya. Karena doa di antara adzan dan iqomah adalah mustajab.

Nah, usai memaparkan adab-adab menjawab azan, penceramah menjelaskan (secara makna, ed-),

“Inilah adab-adab mendengarkan muaddzin. Jangan cerita. Apalagi biasanya, imam sudah bertakbir masih ada juga yang cerita. Adzan itu panggilan Allah subhanahu wa ta’ala, kita tinggalkan semua masalah dunia. Bagaimana mungkin kita baik solatnya kalau adzan saja masih cerita. Mohon maaf kalau ada yang salah.”

Beberapa jamaah ada ketawa. Sepertinya mereka “tertampar” dengan penjelasan penceramah. Di awal ceramahnya, penceramah sudah memaparkan agar jamaah jangan cerita saat adzan, apalagi membahas pilkada.[]