fbpx

Dalam buku Fikih Sirah Nabawiyah disebutkan bahwa latar belakang perjanjian Hudaibiyah itu berawal dari mimpi Rasulullah shallallohu alayhi wasallam bahwa beliau dapat memasuki Baitul Haram bersama sahabatnya, lalu berumrah.

Setelah melakukan perjalanan dari Madinah, sampailah beliau dan sahabatnya di penghujung wilayah Hudaibiyah.

Maka, datanglah beberapa utusan dari pihak Quraisy terkait sebab kedatangan Nabi shallallohu alayhi wasallam. Nabi jelaskan bahwa untuk umroh, bukan perang.

Akhirnya terjadi diskusi yang panjang. Pihak Quraisy bahkan sampai mengirim utusan berbeda-beda kepada Nabi.

Sampai datanglah Suhail bin Amr menemui Nabi. Terjadilah negosiasi. Dan tertuanglah beberapa nota kesepakatan (perjanjian Hudaibiyah).

Intisari poinnya adalah sbb:

1. Pihak muslimin dan Quraisy sepakat melakukan gencatan senjata selama 10 tahun. Agar tercipta rasa aman.

2. Siapa yang datang kepada Muhammad dari kalangan Quraisy tanpa izin walinya maka harus dikembalikan.

3. Siapa yang datang kepada Quraisy dari kalangan pengikut Nabi Muhammad, tidak wajib dikembalikan.

4. Tidak ada pencurian dan pengkhianatan.

5. Umat Islam boleh umrah tahun depan tanpa bawa senjata.

Itulah beberapa poinnya.

Tentunya banyak peristiwa terjadi saat itu. Hanya saya singkat sebagai pengingat.

Nah, mungkin kita bertanya, “Apa hikmah dibalik perjanjian Hudaibiyah ini?

Dalam buku Fikih Sirah Nabawiyah disebutkan beberapa,

*1. Tidak boleh berkata yang batil kepada hewan.*

Karena saat itu, sebagaian orang berkata kepada Qoshwa (unta Nabi), “Qoshwa mogok berjalan.”

Karena yang menahan unta Nabi adalah Allah azza wajalla. Nabi membela kehormatan makhluk tidak mukallaf (hewan).

Maka, membela kehormatan mukallaf (manusia) adalah lebih utama lagi.

*2. Bolehnya mengawal pemimpin sambil membawa pedang.*

Hal itu dilakukan Mughirah bin Syu’bah di dekat Nabi ketika melakukan perjanjian Hudaibiyah.

*3. Memperlihatkan penghormatan kepada pemimpin di depan musuh.*

Sebagaimana dilakukan sahabat kepada Nabi di hadapan Urwah bin Mas’ud (perwakilan Quraisy) dengan bertabarruk dari sisa wudhu Nabi.

*4. Berbaik sangka kepada kaum muslim.*

Karena saat Utsman bin Affan diutus ke Mekkah untuk melakukan nego, memakan waktu yang cukup lama. Maka, sebagian orang menyangka bahwa Utsman pergi umroh duluan. Tapi, Nabi tetap berbaik sangka bahwa Utsman tidak mungkin mendaluinya.

*5. Mendahulukan syariat daripada akal.*

Hal ini berkaitan beberapa orang yang belum bisa menerima nota kesepakatan perjanjian Hudaibiyah.
Karena pada dasarnya perjanjian ini adalah ketentuan Allah azza wajalla.

*6. Apabila seseorang melakukan kesalahan tertentu, hendaknya segera memperbanyak amalan shalih dan bertaubat.*

Kala itu, Umar bin Khottob banyak bertanya kepada Nabi tentang kesepakatan Hudaibiyah. Seolah-olah pelaksanaan perjanjian tersebut merendahkan agama Islam.

Maka Nabi jawab, “Aku adalah hamba Allah dan rasul-Nya! Aku tidak akan menyalahi perintah-Nya dan Dia tidak akan menyia-nyiakanku.”

Seketika itu Umar berkata, “Setelah peristiwa itu, aku selalu puasa, sedekah, shalat malam, dan memerdekakan budak. Karena aku khawatir akan ucapanku dan kuharap semoga jadi kebaikan.”

*7. Keteladanan memberi efek kuat.*

Yaitu saat Nabi disarankan oleh Istrinya (Ummu Salamah) untuk memanggil tukang cukur dan menyembelih. Maka, Nabi melaksanakanya.

Hal itu pun dicontoh oleh sahabatnya.

Demikian pula lah seoran ayah menjadi teladan bagi anaknya. Guru, perilakunya akan memberi pengaruh kuat terhadap murid.

Untuk itulah, da’i harus memperhatikan perilakunya dan menjadikannya sebagai modal dakwah.

*8. Memberi motivasi dalam berdakwah.*

Sebagaimana Nabi mengulang-uang doa 3 kali bagi yang mencukur rambut dengan plontos. Sementara yang memendekkan saj rambutnya, dapat 1 kali doa.

*9. Berbaurnya kaum muslimin dengan kaum musyrikin sehingga dapat memberikan pengaruh positif, memperdengarkan Islam, melihat langsung praktik amalan kaum muslimin.*

*10. Pasca perjanjian Hudabiyah, Rasulullah tidak lagi punya musuh bebuyutan (Quraisy). Sehingga, Nabi dan sahabatnya bisa melakukan aktivitas lainnya. Seperti menyerang pusat kekuatan Yahudi (Khaibar), menyurati para raja dan penguasa dunia, dan mengutus dai untuk dakwah ke seluruh umat manusia.*

===

Demikianlah secuil hikmah dari perjanjian Hudaibiyah. Tentu masih banyak lagi hikmah dari Bab kehidupan Nabi Muhammad yang diulas 622 halaman pada buku Fikih Sirah Nabawiyah ini.