Ramai lagi dibahas soal Naruto. Kajian Hikmah Kematian Naruto memang lebih banyak mengambil “nilai positif” dari si tokoh.

Mulai masa kecilnya yang yatim piatu, dikucilkan, masuk ke sekolah ninja, dijadikan pahlawan, dsb.

Akhirnya, Ustaz Abul Irdbadh Supriano memberikan kritik cerdas di kolom komentar.

“Jangan pernah menjadikan kitab agama lain atau film yang penuh kesyirikan dan kekufuran sebagai rujukan-rujukan untuk mengambil istimbat-istimbat hukum.

Sekalipun yang diambil hanya yang baik-baiknya saja.

Karena Alquran dan hadis telah sempurna untuk kita jadikan rujukan dan istimbat hukum.

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ الَّله أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ أَتَى النَّبِيَّ بِكِتَابٍ أَصَابَهُ مِنْ بَعْضِ أَهْلِ الْكُتُبِ فَقَرَأَهُ النَّبِيُّ فَغَضِبَ فَقَالَ: أَمُتَهَوِّكُونَ فِيهَا يَا ابْنَ الْخَطَّابِ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَدْ جِئْتُكُمْ بِهَا بَيْضَاءَ نَقِيَّةً لَا تَسْأَلُوهُمْ عَنْ شَيْءٍ فَيُخْبِرُوكُمْ بِحَقٍّ فَتُكَذِّبُوا بِهِ أَوْ بِبَاطِلٍ فَتُصَدِّقُوا بِهِ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ مُوسَى كَانَ حَيًّا مَا وَسِعَهُ إِلَّا أَنْ يَتَّبِعَنِي

Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiallahu ‘anhuma,

Suatu saat ‘Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membawa sebuah kitab yang ia dapatkan dari sebagian Ahli Kitab.

Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membacanya.

Beliau kemudian marah dan bersabda,
“Apakah engkau termasuk orang yang bingung, wahai Ibnul Khaththab? Demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya sungguh aku telah datang kepada kalian dengan membawa agama yang putih bersih. Jangan kalian bertanya sesuatu kepada mereka (Ahlul Kitab) karena (boleh jadi) mereka mengabarkan al-haq kepada kalian namun kalian mendustakan al-haq tersebut, atau mereka mengabarkan satu kebatilan lalu kalian membenarkan kebatilan tersebut. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya Musa ‘alaihissalam masih hidup niscaya tidak diperkenan baginya melainkan dia harus mengikutiku.”

Dalam riwayat al-Baghawi, Umar radhiallahu ‘anhu berkata,

إِنَّا نَسْمَعُ أَحَادِيثَ مِنْ يَهُودٍ تَعَجَّبْنَا، أَفَتَرَى أَنْ نَكْتُبَ بَعْضَهَا؟

“Sesungguhnya kami mendengar beberapa ucapan orang Yahudi yang kami kagum padanya, apakah menurutmu boleh kami mencatat sebagiannya?”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

أَمُتَهَوِّكُونَ أَنْتُمْ كَمَا تَهَوَّكَتِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى؟ لَقَدْ جِئْتُكُمْ بِهَا بَيْضَاءَ نَقِيَّةً، وَلَوْ كَانَ مُوسَى حَيًّا مَا وَسِعَهُ إِلاَّ اتِّبَاعِي

“Apakah kalian adalah orang-orang yang bingung seperti bingungnya Yahudi dan Nasrani? Sungguh, aku telah membawa untuk kalian syariat yang putih dan bersih. Seandainya Musa ‘alaihissalam hidup sekarang ini, maka tidak diperkenankan baginya kecuali harus mengikutiku.”
(Dihasankan olh assyaikh al-albani dalm kitab irwaul ghalil)

Saya yakin kalau sekedar mencari hikmah maka dalam Injil dan Taurat yang sudah diubah akan lebih banyak dibanding dalam film Naruto yang hanya cerita fiksi dan penuh kesyirikn dan kekufuran.

Namun, sangat jelas bagaimana hadis di atas melarang keras untuk kita mempelajari dan mengambil kebaikan-kebaikannya. Karena dalam Al-Qur’an dan hadist sudah sempurna,” ujar Ustaz Abul Irbadh.

Lanjut Ustaz, “Tolong dijelaskn bahwa nonton film Naruto adalah haram karena di dalamnya banyak kesyirikan, kekufuran, dan maksiat.

Jika rid dengan isinya, bisa batal Islamnya.

Kenapa film bathil tersebut dipetik hikmah-hikmahnya padahal masih banyak kisah para Nabi dan Rasul yang jauh lebih hebat dan luar biasa hikmanya.”

Komentar Ustaz yang juga sebagai Dai di Kabupaten Bulukumba Sulsel ini banyak hikmahnya.

Saya teringat tulisan dari Ustaz Abdul Qadir yang justru menulis nilai negatif sebuah film kartun. Beliau menulis dengan judul “Membongkar Kesesatan Doraemon Cs.”

Dalam tulisan ini ada bahaya aqidah di kantong ajaib doraemon dan meminta berdoa kepada selain Allah. Silakan baca di sini selengkapnya >> https://akhwat.web.id/muslimah-salafiyah/permata-hati/membongkar-kesesatan-doraemon-cs/

Saya kira, model desain dakwah bisa dicontoh dari perspektif Ustaz Abdul Qadir, Lc. Jika ada tontonan atau ada video viral, coba berikan kritikan dan apa saja bentuk riskannya dalam aqidah dan akhlak.

Sebab, kalau bukan Anda memulai, siapa yang mau melanjutkan dakwah ini? []