Yang sulit dari menulis adalah memulai. Karena itulah, solusinya dengan memaksakan diawal. Lalu, insyaallah setelah itu akan mengalir begitu saja.

Kalau itu sudah kita lakukan, tema apapun, pembahasan apapun, yang kita mau sajikan, itu mudah. Apapun yang kita lihat, diindrai, menjadi inspirasi menulis.

Oh ya, kadang orang menjadikan mood sebagai alasan. Katanya, “Saya tidak punya mood, lagi banyak masalah, lagi ada konflik.”

Padahal, sesungguhnya itu semua bisa diatasi dengan memaksakan.

Bagaimana maksudnya?

Kondisi galau tentang masalah jodoh, tuliskan saja. Kita bisa jelaskan tentang itu dengan menyajikan hal-hal positif.

Contoh,

Kadang wanita galau tentang jodoh yang tidak kunjung datang (anggap ini curhat si penulis, lalu ia berikan kiat move on-nya.). Padahal, dalam penantian itu, ia lebih bisa memantaskan diri. Mengisi waktu dengan kajian ilmu. Dst.

So, kondisi apapun, sekali lagi, di balik saja. Lalu, kemudian kita bisa membahasnya.

Ada konflik bersama teman. Bisa dicarikan jalan keluarnya.
Ada masalah pendidikan. Bisa ditemukan akan persoalnnya dengan memakai sumber referensi.

Mudah, kan!

Apalagi kondisi hati yang senang, tentu lebih mudah lagi.

Gerakan tangan, ketik di handphone. Mudah sekali era sekarang. Tidak ada lagi alasan untuk tidak menulis.

Pertanyaannya cuma 1. Mau tidak memulai?

🎙 _Menulis dengan Cara Bicara_