“Ustadz, memang itu anak saya susah di suruh belajar,” keluh seorang Ibu tentang anaknya di kelas 3 SD.

Sang guru menimpali, “Bu, memang begitu anak-anak. Tidak bisa disuruh belajar, tapi didampingi belajar.”

Jleb.

Orang tua hari ini, banyak menjadi penyuruh semata. Dikit-dikit,

“Hei, Irfan, belajar sana. PR-mu ada, kan?”

“Nak, kamu punya tugas dari Ustadz, nggak? Kalau ada, jangan main dulu, kerjakan!”

“Nak, kerjakan tugasmu sana. Daripada kamu main game terus,” lalu si orang tua asyik online.

Beginilah hari ini. Orang tua sudah jarang mengambil bagian untuk mengedukasi anak-anak. Bisanya cuma perintah dan mengunggu hasil yang baik.

Padahal, pendidikan itu butuh kerjasama. Anak butuh didampingi. Mereka pengen melihat role-model pembelajar. Bahwa anak belajar, ternyata orang tua pun sosok yang senang belajar.

Saat anak kesulitan menghafal Qur’an, orang tua hadir menyemangati. Mendiktekan ayatnya, atau mengoreksi bacaan yang keliru.

Anak nggak ngeh dengan pelajaran matematika, orang tua hadir memberikan pendekatan pemahaman. Memberikan contoh.

Begitu seterusnya.

Sehingga, anak kita merasa ada yang dampingi. Anak memiliki mindset “Oh, orang tuaku bersemangat pengen aku cerdas”.

Anak yang cerdas, itu tak lepas dari orang tua yang bekerja keras. Dari usaha, semangat, dan membersamai.

🖊Abu Abdirrahman