Boleh saya bagi sebuah kisah?

Dulu…

Datang seseorang kepada Ibnu Uyainah lalu mengatakan, ‘Wahai Abu Muhammad (Ibnu Uyainah) saya mengadu kepadamu mengenai Fulanah (yakni istrinya). Saya orang yang paling rendah dan hina menurutnya.’

Sufyan pun diam beberapa saat. Lalu, beliau mengangkat kepalanya dan mengatakan, “Apa engkau menikahinya karena ingin bertambah kehormatan?” Dia pun menjawab, “Ya, wahai Abu Muhammad.”

“Siapa yang haus kehormatan, akan ditimpa kerendahan. Siapa yang haus harta, akan ditimpa kemiskinan. Siapa yang mencari agama, maka Allah akan mengumpulkan untuknya kemuliaan dan harta, bersama dengan agama.”

đź“š Hilyatul Auliya
(Sumber: tashfiyah.com)

Kisah di atas, baru saja saya baca dari group WA Al-Qomar.

Membacanya membuat kita sadar akan pentingnya orientasi pernikahan.

Teringat seorang kawan….

Dia membisiki saya di atas motor, “Akhi, kalau nikah bukan karena agama, tunggu saja akibatnya.”

Pesan itu dia bagi saat pasca perceraiannya dengan janda hartawan. Sebab, dahulu dia nikah, disinyalir karena alasan wanita itu adalah janda yang kaya raya.

Akhirnya… Dia pun cerai.

Saudaraku yang masih bersendiri, cobalah revisi niatmu. Perbaiki alasanmu menikah. Hendaknya landasan nikah, karena engkau mencari wanita berdasar agamanya yang baik.

“Apa ciri wanita yang baik agamanya?”

Tentu banyak dalil tentang ihwal itu.

Namun, Ustadz Sunusi menjelaskan…

Apabila wanita itu berhijab, itu wanita yang baik.
Apabila dia senang taklim, itu wanita yang baik.

Dan masih banyak lagi.

Olehnya itu, perbaikilah orientasimu.

Dan untuk wanita, perpantas dirimu. Jadilah wanita yang shalihah. Agar kelak lelaki yang datang ke walimu berniat menikahi karena alasan baiknya agamamu.

Engkau mungkin berparas cantik maka sembunyikan itu di balik hijabmu. Biarkan keshalihan yang mewakili.

Engkau mungkin hartawan maka sembunyikan itu. Biarkan kebaikan akhlak membersamaimu.

Engkau mungkin dari nasab yang baik. Biarkan yang nampak adalah tawadhu’mu sehingga keegoisan tidak timbul.

Semua tentu butuh proses, dan sebaik-baik proses adalah yang detik ini juga, engkau sudah mengevaluasi.

Mungkin ada yang bertanya, “Gimana yang sudah terlanjur nikah dan niatnya bukan karena agama?”

Masih ada waktu. Segera “banting stir”. Hijrahkan niat. Yang dulunya karena kecantikan istri, kini karena keshalihannya.

So, mari kita berbenah.

đź–ŠKusnandar Putra
https://t.me/sharingnulis