Jumat, 22 Desember 2017, pagi…

Saya diminta menjadi MC dalam acara Festival Remaja yang diselenggarakan Sekolah Islam Al-Bayyinah, Makassar.

Suasana pagi itu, alhamdulillah, ditemani dengan hujan rintik-rintik. Karena, semenjak malam, kota Makassar diguyur hujan lebat. Sehingga, di beberapa titik, sudah mengalami banjir. Seperti beberapa titik di BTP, Toddopuli, dll.

Saya mempersilakan kepala SD Islam Al-Bayyinah untuk menyampaikan sambutannya. Ada hal unik yang beliau paparkan, katanya, “Hujan itu cuma membasahi, bukan menghalagi.”

Beliau menyampaikan hal itu, sebagai “penyemangat” kepada seluruh peserta yang hadir.

Acara Festival Remaja diikuti oleh beberapa sekolah yang ada di Makassar, Gowa, Takalar, Jeneponto, Bone. Di antaranya; Pesantren Khalid bin Walid Gowa, MTs Darul Abrar Bone, Pondok Tahfizul Qur’an Raudhatul Jannah, Sekolah Islam Tanwirussunnah Gowa, Ponpes Parapa Takalar, Ponpes Al Ihsan Gowa, Ponpes Ulul Albab Jeneponto, Sekolah Islam Al Bayyinah Makassar.

Acara Festival Remaja ini adalah perdana diselenggarakan oleh Sekolah Islam Al Bayyinah. Memang sekolah ini dikenal inovatif. Ada saja event unik yang kadang diselenggarakan. Seperti beberapa bulan sebelumnya, ada dauroh anak. Seluruh peserta dauron adalah usia SS kelas 3 – 5 SD.

Pukul 09.00 lewat, akhirnya, saya mempersilakan seluruh peserta lomba memasuki ruangan lomba masing-masing.

Ada lomba Pidato Bahasa Arab dan Inggris, lomba hifzhul Quran kategori juz 30 dan 5 juz. Sekolah Islam Al-Bayyinah menyiapkan juri yang kompetibel di bidangnya masing-masing.

Juri pertama Hifzhul Quran untuk ikhwah, oleh Al Ustadz Aliadin. Beliau adalah pengisi materi tahsin Quran di radio an-Nashihah Makassar. Juri ke-2 Al Ustadz Anshari, S.Th.I, MA, dai Kabupaten Gowa dan Makassar.

Juri pertama Hifzhul Quran untuk akhwat, ialah Ustadzah Asma Ummu Darda, merupakan alumni dari Yaman. Juri ke-2, Ustadzah Ummu Abdillah Yusuf, murid senior juri 1.

Adapun juri pertama pidato Bahasa Arab adalah Al Ustadz Irfandi Makku, Lc, alumni Universitas Islam Madinah. Juri ke-2 Al Ustadz Dedi Mansa, guru bahasa Arab SMP Islam Al-Bayyinah.

Untuk juri pertama pidato Bahasa Inggris oleh Ustadzah Ummu Izza, S.Pd., guru Bahasa Inggris sekolah Islam Al-Bayyinah. Juri ke-2 Ustadzah Sulmawati, S.Pd., mahasiswi pasca UNM jurusan Bahasa Inggris.

Peserta mulai duduk di posisi masing-masing. Suasanya terasa agak tegang. Kami selaku panitia, berbagi tugas. Saya, saat itu, sebagai pemandu lomba pidato Bahasa Arab.

Adapun lomba pidato bahasa Arab, peserta tampil dengan ragam penilaian.

“Penilaian kami dari beberapa hal. Dari isi materi, penampilan, ekspresi,..” jelas diantara pemaparan Ustadz Dedi Mansa.

Peserta pun dipersilakan dari pertama hingga akhir. Ada yang menggunakan teks dan ada yang tidak. Ala kulli hal, menurut saya, ternyata secara global, mereka mantap. Punya kecerdasan luar biasa dalam bahasa Arab. Dari situlah saya sadar, ada potensi besar dari sekolah salaf. Sekolah salaf punya aset, anak-anak yang masyaallah.

Pidato bahasa Arab berakhir hinggal pukul 11.00.

“Insyaallah, pengumuman pemenang hari Ahad, ya. Bersamaan acara Dauroh Remaja,” papar saya di akhir acara.

Berakhirnya acara jam 11.00, berkesesuaian dengan kondisi para juri yang harus mengisi khutbah Jumat. Mereka harus bersiap-siap, mengantisipasi macet dan kondisi banjir di beberapa titik. Ustadz Irfandi, Lc. khutbah di masjid jln. Lasinrng Makassar. Ustadz Dedi Mansa di Gowa.

Adapun lomba Hifzhul Quran dan Pidato Bahasa Inggris dilanjukan bakda Jumat, karena jumlah peserta yang banyak. Alhamdulillah, sebelum Ashar, sudah tuntas. Dan pengumuman lomba juara 1, 2, dan 3 pada hari Ahad, yang dirangkaikan acara daoroh remaja.

Dauroh remaja pada Ahad, 24 Desember mengangkat tema “Duhai, Anda Masa Muda Bisa Kembali” di Masjid Jami Al-Abrar, jln. Sultan Alauddin, Makassar. Dengan menghadirkan 2 pemateri

Pertama, UstadzAbu Ubaidillah Bamang hafizhahullah, beliau sebagai pembina Madrosah Sunnah, Makassar. Beliau juga termasuk sosok Ustadz yang kreatif dalam meng-create event dakwah. Tema yang beliau bawakan menarik: Dimana Kamu Habiskan Masa Mudamu

Kedua, Ustadz Abu Irbadh Supriono hafizhahullah, sebagai pengasuh Pondok Pesantren Ibnu Abbas, Bulukumba. Beliau termasuk praktisi poligami. Tema beliau cukup persuasif dalam dauroh: Abi dan Ummi Kupersembahkan Mahkota Untukmu.

Sabtu, 23 Desember, malam hari..

Karena akan menjadi MC lagi, saya mencoba cari materi pembuka. Akhirnya, teringat saat mengisi materi untuk anak SMA di Maros kala itu. Dan teringat pula perkataan Ustadz Luqman Jamal, “Tanda kebangkitan Islam, adalah bangkitnya para pemudanya.”

Beberapa tambahan pula dari googling tentang tekniks MC. Semua terpikirkan, dikombinasikan seoptimal mungkin. Dengan meminta pertolongan kepada Allah azza wajalla.

Nah, dari situ saya juga belajar, tugas MC juga berat! Ada juga ilmunya.

Ahad, 24 Desember, bakda subuh..

Saya bujuk keluarga agar bergegas. Soalnya, dauroh dimulai pukul 08.00. Istri dan anak-anak ingin ikut semua.

Alhamdulillah, kami tiba di Masjid Jami’ Al Abrar, sebelum jam 08.00. Masjid ini mengingatkan saya, kala masih bekerja di toko Andalusia. Jaraknya masjid dengan toko kisaran 50 meter saja.

Masjid itu, kisaran tahun 2010 ke belakang, masih biasa-biasa saja. Belum bertigkat 3 seperti saat ini. Parkirannya sempit kala itu. Mobil pakir cuma bisa 1 baris.

Akhirnya, ada wacana untuk merenovasi dan ketua masjid ternyata seorang arsitek. Inilah mungkin titik awal, sebelum masjid ini sebaik sekarang masyaallah.

Ketua masjid yang ber-profesi arsitek dan ditopang oleh donatur yang siap menggeontorkan uang di jalan Allah, insyaallah akan berjalan baik.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ بَنَى اللَّهُ لَهُ فِى الْجَنَّةِ مِثْلَهُ

Siapa yang membangun masjid karena Allah, maka Allah akan membangun baginya semisal itu di surga.” (HR. Bukhari no. 450 dan Muslim no. 533).

Kini masjid yang terbangun kokoh di Jln. Sultan Alauddin ini, bisa kita pakai untuk beribadah. Alhamdulillah.

Jam 08.20 lewat, pemateri pertama, Ustadz Bambang sudah datang. Beliau bersama anaknya yang masih kecil.

Pantia yang lain sibuk membagikan hadiah bagi peserta yang baru datang. Ada banyak doorprize akan dibagikan di acara ini. Diantara sponsornya; Ayam Geprek Mba Rahma, So Good, Balla Kanrejawa, Sosiz Sonice, dan Al Bayyinah Course (ABC).

Usai Ustadz Bambang menunaikan solat tahiyatul masjid, saya menghampirinya. Untuk bersama memenej acara.

“Assalamu alaykum, Ustadz.”

“Wa’alaykum salam.”

“Afwan, Ust, mohon di sela-sela materi, nanti ada pertanyaan yang diberikan oleh Ustadz buat peserta. Karena ada hadiah. Soal 3 buah buat ikhwah dan 3 buah untuk akhwat,” gitu kira-kira penyampaian saya.

Beliau menyanggupi. Alhamdulillah.

Sambil menunggu jam 09.00, menunggu peserta datang, saya berbincang banyak bersama beliau. Diantara beliau punya ide ke depan, gimana jika acara kajian khusus remaja ini, bisa dikembangkan lagi.

Bisa saja, acaranya di luar masjid. Seperti di pantai, sambil menikmati ciptaan Allah azza wa jalla, peserta di jam tertentu, dikumpulkan untuk dengar tausiah. Setelah itu, ada lomba, dll

====

Waktunya memulai…

Saya maju ke depan untuk memandu jalannya acara.

Ada beberapa susunan acara:

1. Pembukaan
2. Sambutan dari Ketua Panitia oleh Ustadz Imron, S.H.
3. Sesi I oleh Ustadz Bambang Abu Ubaidillah
4. Sesi II oleh Ustadz Abul Irbadh
5. Istirahat (solat zhuhur)
6. Pembacaan pemenang doorprize
7. Pembacaan pemenang lomba Festival Remaja
8. Penutupan

Usai membuka acara dan mempersilakan ketua pantia, saya lebih dahulu membaca biografi Ustadz Bambang hafizhahullah.

Salah satu yang saya tangkap, beliau sempat belajar di Jawa dan juga sempat belajar kepada Ustadz Ibnu Yunus hafizhahulloh.

Yang saya ketahui, Ustadz Ibnu Yunus ini, adalah sosok yang pakar di bidang fiqih. Beliau kerap memaparkan ragam pendalilan dari berbagai mazhab. Kini, beliau berdakwah di Jawa.

“Baiklah, marilah kita simak sesi I dengan tema ‘Dimana Kamu Habiskan Masa Mudamu’ oleh Ustadz Bambang Abu Ubadillah,” tutur saya.

Diantara poin pemaparan beliau:

  • Masa indah adalah remaja. Olehnya itu, kadang orang sudah tua, yang dia ingat ialah masa mudanya.
  • 10-20 tahun bagi remaja, mereka akan menjadi memimpin, akan menjadi tokoh masyarakat.
  • Remaja keren adalah remaja yang bisa jadi imam, punya hafalan Qur’an.
  • Remaja yang tidak diharapkan, adalah remaja yang tidak paham tata cara solat. Tidak ngerti cara wudhu.
  • Remaja sesungguhnya, ketika dia jatuh, dia bangun lagi. Yang tadinya rengkin 5, bisa bangkit jadi rangking 1.
  • Remaja yang shalih, di dadanya ada al-Quran. Bukan semata handphone.
  • Remaja yang shalih, dibanggakan di di Indonesia.
  • Remaja yang baik, adalah yang berbakti kepada orang tuanya. Mengajak sahabatnya ke majelis ilmu.
  • Remaja jaman now adalah yang beramal shalih.
  • Semua kegiatan yang baik tersebut dimulai dari sekarang, bukan nanti.

Itulah beberapa poin yang beliau sampaikan. Sembari di sela-sela pemateri, beliau mengajukan pertanyaan buat para peserta dauroh.

Pukul 10.30, selesailah sesi I. Berikutnya, sesi ke-2, yaitu Ustadz Abul Irbadh.

Teringat bahwa beliau adalah praktisi poligami. Masyaallah. Dulu waktu di Masjid Darul Mustofa saat member pengatar pernikahan Ustadz Sunusi Daris, beliau bilang,

“Kalau ingin mengetahui gimana asyiknya poligami, dikalikan saja. Kalau 2 istri, berarti kali 2 kenikmatannya. Kalau 3 istri, kali 3,..”

Jamaah tertawa kala itu.

Nah, kali ini sesi beliau. Saya membacakan biografi beliau dahulu.

Beliau ternyata pernah jadi PNS. Lalu, memilih resign. Dan selanjutnya pergi menuntut ilmu ke Yaman. Guru terakhir beliau ialah Syaikh Al-Imam hafizhahulloh.

Tema yang dibawakan saat itu “Abi dan Ummi Kupersembahkan Mahkota Untukmu”.

Diantara hal yang beliau sampaikan:

  • Tentang Ibu, saat melahirkan adalah saat mempertaruhkan nyawa bagi seorang Ibu. Rasa kantuk dia lawan, demi anak. Menyusui sang anak.
  • Sang ayah berjuang menafkahi anak.
  • Orangtua rela tidak makan, yang penting anak makan.
  • Remaja yang baik, ingin menjadikan orangtuanya dikenal oleh penduduk langit. Dengan cara menjadi anak soleh, tidak berbuat syirik.

Saya memerhatikan selama sesi ke-2 ini, jamaah banyak merenung. Mungkin karena pembahasan ink memang mendalam.

Pukul 11.50, sesi ke-2 alhamdulillah selesai.

Semua peserta diharapkan tidak pulang dahulu karena bakda zhuhur masih ada agenda selanjutnya. Yaitu, pengumuman pemenang doorprize dan pemenang fesitiva remaja.

Selesai solat zhuhur, saya menyapa seorang remaja. Remaja ini sudah lama tak berjumpa dengannya. Barangkali 2 atau 3 tahun.

Dulu dia adalah murid saya kala dia masih SMP, kini dia sudah kelas 3 SMA. Sudah gede.

Namanya Muhammad bin Muhammad Ruli.

Ananda yang cerdas. Kerap rangking 1 waktu kelas 1 sampai kelas 3 SMP Islam Tanwirusunnah, Kab. Gowa. Saat ini dia bersekolah di Al-Madinah, Solo.

Usai salam,

“Tambah besar, ya,” seru saya.

Dia senyum.

“Sudah bisa baca kitab?”

Dia senyum, sambil menampakkan tanda ia sudah insyaallah bisa.

“Sudah biasa ceramah?”

“Nanti satu tahun pengabdian, Ustadz.”

Karena memang, peraturan di sekolahnya, selesai SMA masih ada pengabdian 1 tahun. Di situlah nanti, ilmu anak ini akan di-upgrade.

Tibalah saatnya pegumuman pemenang doorprize. Diantara kategorinya, peserta terjauh, paling banyak mencatat faedah, dll.

Uniknya, Ananda Muhammad bin Muhammad Ruli yang dapat doorprize untuk kategori peserta terjauh. Maklum, dia kan dari Solo sekolahnya. Liburan ceritanya, dia balik kampung dulu.

Menuju ke pengumuman pemenang festival. Ini yang ditunggu-tunggu para peserta festival.

Sebab, akan ada pemenang dan ada yang sabar. Di sinilah masa-masa orang tua yang ikut tegang. Guru ikut tegang.

Saya pernah membaca, termasuk tanda berbakti kepada orangtua ialah dengan berprestasi. Inilah mungkin momentumnya. Bukan berarti yang kalah itu tidak berbakti, tapi ini mungkin tanda perjuangan untuk membagaiakan orang tua.

Tibalah saatnya diumumkan oleh Ustadz Jusran, S.Pd.

JUARA LOMBA
FESTIVAL REMAJA 2017

1. HIFZHUL QUR’AN KATEGORI 5 JUZ IKHWAH

I. MUH. ALI HASAN dengan total skor 417.5 dari Pesantren Khalid bin Walid Gowa.
II. M. SYAKIR dengan total skor 417 dari MTs Darul Abrar Bone.
III. IDHAM IBRAHIM dengan total skor 405 dari MTs Darul Abrar Bone

2. HIFZHUL QUR’AN KATEGORI 5 JUZ AKHWAT
I. DIAN HAYATI dengan total skor 500 dari Pondok Tahfizul Qur’an Raudhatul Jannah.
II. SHOFIYAH BINTU NURALAM dengan total skor 494 dari SMA Islam Tanwirussunnah Gowa.
III. RAHMADANI dengan total skor 473 dari Ponpes Parapa Takalar.

3. HIFZHUL QUR’AN KATEGORI JUZ 30 IKHWAH
I. M. AHYAR IDRIS dengan total skor 417.5 dari Ponpes Al Ihsan Gowa.
II. MUH. ZYASLI BAHSYAM dengan total skor 413 dari Ponpes Ulul Albab Jeneponto.
III. REZKI PRATAMA dengan total skor 412.5 dari Ponpes Al Ihsan Gowa.

4. HIFZHUL QUR’AN KATEGORI JUZ 30 AKHWAT
I. MARYAM SALSABILA dengan total skor 496 dari Ponpes Al Ihsan Gowa.
II. AMIRA RIHADATUL AISYAH dengan total skor 495 dari SMP Islam Al bayyinah.
III. ATIKAH ALIADIN dengan total skor 493 dari Ponpes Parapa Takalar.

5. ARABIC SPEECH
I. RIMA AYU dengan total skor 472 dari Ponpes Putri Panciro Gowa
II. ASIYAH SYAHARUDDIN dengan total skor 457,5 dari SMP Islam Al Bayyinah.
III. ST. AISYAH HARZUKI dengan total skor 456 dari SMP Islam Al Bayyinah

6. ENGLISH SPEECH
I. AISYAH dengan total skor 390 dari SMA Islam Al Bayyinah.
II. HUMAYRAH ALI dengan total skor 377 dari Ponpes Putri Parapa.
III. AHMAD SHOBIR dengan total skor 366 dari SMP Islam Al Bayyinah.

Demikianlah dalam perlombaan, ada juara, ada yang kalah. Ada yang bersyukur dan ada yang bersabar. Semua adalah kebahagiaan dalam hidup seorang muslim.

Yang manarik bagi saya, 2 orang remaja dari Bone itu: MTs Darul Abrar Bone.

Mengapa?

Sebab, dia basicnya bukan ponpes. Tapi sekolah agama biasa saja.

Akhirnya, usai pembagian hadiah buat seluruh pemenang, saya temui 2 anak ini. Berdialog.

Intinya, mereka boarding (sistem mondok) di sekolahnya. Ada jam menghafal.

“Di sana, aktif bahasa Arab?”

“Iya, setiap 2 pekan, ganti lagi.”

Ternyata, 2 pekan bahasa Arab aktif. Lalu 2 pekan lagi bahasa Inggris. Masyaallah.

Demikianlah, ternyata semua kejadian ini punya hikmah yang besar. Dimana ada usaha dengan bertawakkal, insyaallah akan ada hasil yang baik.

Hendak pulang, saya sudah menaiikan standar motor,

“Ayo, naik,” pinta saya ke istri.

Tiba-tiba ada yang tarik tangan istri saya. Dia tuntun istri menjauh dikit dari motor.

Seorang ummahat yang tarik.

Istri kembali, oh ternyata istri Ustadz Abu Muadz yang menghadiahi sekantung bakso. Ada bakso keju, bakso kecil, bakso mercon, bakso telur. Alhamdulillah.

Jazahumullohu khoiron buat Ustadz sekeluarga.