Judul Buku: Mengenal Pokok Keyakinan Ahlus Sunnah

Penulis: Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
Penerbit: Hikmah Ahlus Sunnah
Ukuran: 14,5 cm  x 20,5 cm
Cover: Soft Cover
Berat: 350 Gram
Tebal: 260 halaman

Orang-orang yang dipastikan masuk neraka dalam as-Sunnah adalah Abu Thalib ‘Abdi Manaf bin ‘Abdul Muthalib. Nabi -sholallohu alayhi wasallam- bersabda,

“Penduduk neraka yang paling ringan adzabnya adalah Abu Thalib, yaitu dipakaikan padanya 2 sandal yang karena sandal itu otaknya mendidih.

(HR. al-Bukhori No. 6564)

Di antara mereka adalah ‘Amr bin ‘Amir bin Luhai al-Khuza’i, Nabi -sholallohu alayhi wasallam- bersabda,

“Aku melihat menarik-narik ususnya di neraka.”

(HR. al-Bukhori No. 3521)

(Mengenal Pokok-Pokok Keyakinan Ahlus Sunnah, hal. 223)

Itulah salah satu isi dari buku yang dijadikan rujukan oleh umat Islam saat ini. Sebuah karya dari asy-Syaikh Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin. Judul aslinya: Syarh Lum’atil I’tiqaad. Diterjemahkan oleh al-Ustadz Fathul Mujib in Bahruddin, cetakan Hikmah Ahlus Sunnah.

Kitab ilmiah ini adalah berisi konten-konten seputar keyakinan primer bagi umat Islam, karena di dalamnya memuat item terpenting yaitu keimanan kepada Alloh -azza wa jalla-, yaitu bagaimana umat Islam bisa beriman kepada wujud Alloh, bagaimana beriman kepada hal-hal yang diciptakan oleh Alloh, bagaimana beriman kepada hal-hal yang mewajibkan umat Islam beribadah hanya kepada Alloh, dan bagaimana umat Islam bisa beriman kepada nama-nama dan sifat-sifat Alloh.

Allohu akbar.

Ini adalah sebuah kenikmatan yang diberikan Alloh dengan dituliskannya kitab ini. Sehingga, jika ada hal-hal yang meragukan kita simak, bisa kita simak bandingkan pembenarannya di kitab setebal 259 hal ini.

Penulis dalam memaparkan rincian kitabnya, beliau mendahuluinya dengan metodolongi pengkajian yang tepat, dengan mengembalikannya kepada orang yang kokoh ilmunya. (hal. 45). Dan penulis rohimahulloh pula, mengeritik metodologi menyimpang yang sengaja menghancurkan umat Islam,

“Cara yang ditempuh oleh orang-orang yang menyimpang. Mereka adalah orang-orang yang mencari-cari ayat mutasyabihat (samar) dengan tujuan untuk menyebarkan fitnah (kerancuan) dan menghalangi kaum muslimin dari agama mereka dan jalan yang ditempuh oleh para salaf yang sholeh.”

(Ibid, 45)

Penulis mencoba memberikan gambaran bagaimana tokoh-tokoh ‘menyimpang’ memberikan kerancuan dalam memahami ayat. Mereka mengambil ayat sebagian dan kemudian membuang yang lainnya. Untuk apa? Tiada lain untuk menyesatkan manusia dari jalan yang haq. Maka dari itu, jangan heran ketika kita menyaksikan beberapa ‘oknum’ yang mengambil ayat al-Qur’an atau hadits kemudian mereka menafsirkan sesuai ‘selera’ mereka. Dengan dalih logika praktis dan nuansa tendensius. Tujuan mereka adalah untuk menjauhkan umat Islam dari ulamanya. Lalu, kemudian mereka mengajak para pembacanya agar ikut alur ‘ulama’nya. Naudzubillah.

Apakah sama antara orang yang berilmu dan orang yang berlogika nafsu?

Kemudian penulis berkata,

“Sahabat adalah orang yang berjumpa dengan nabi shollallohu alayhi wasallam, beriman kepada beliau, dan meninggal di atas keislaman. Sahabat nabi sholallohu alayhi wasallam adalah sahabat para nabi yang utama, Nabi shollallohu alayhi wasallam bersabda:

“Sebaik-baik manusia setelah para nabi adalah orang -orang yang ada pada kurunku (para sahabat).

(HR. al-Bukhori, No. 3650)”

(Ibid, hal.211)

Kalau kita meneliti lebih eksplisit, apa sebenarnya tujuan penulis menyantumkan dalam buku primer ini keutamaan para sahabat? Ada apa? Maka, kita bisa menarik benang merah, bahwa ternyata di sana ada beberapa kelompok yang tidak senang kepada para sahabat, bahkan ada yang mengkafirkan para sahabat. Oleh karena itu, semua hadits yang alur periwayatannya dari sahabat, itu tertolak. Mengapa? Karena manhaj ‘takfiri’ mereka idap. Naudzubillah. Semoga Alloh azza wa jalla menjaga kita dari sifat ‘bejat’ ini.

Penulis pula memaparkan wajibnya kita menyerahkan urusan kaum muslimin kepada penguasa yang muslim. Penulis mengatakan,

“Taat kepada khalifah dan bentuk penguasa yang lainnya adalah wajib dalam perkara yang bukan maksiat kepada Alloh subhanahu wa ta’ala.”

(Ibid, hal. 239)

Nah, itulah beberapa konsern penulis yang terakam di kitab bagus ini. Sangat disayangkan apabila kita tidak memiliki kitab rujukan umat Islam ini. Masih banyak sekali kandungan isi kitab ini, seperti dorongan untuk mengikuti sunnah, menjauhi bid’ah, sifat-sifat Alloh (seperti wajah Alloh, cintanya Alloh, marahnya Alloh, dst), al-Qur’an bukan makhluk, tentang Dajjal, turunya Isa bin Maryam, siksa kubur, nikmat kubur, al-hisab, hukum mencela sahabat nabi, hak para istri nabi, kelompok bid’ah seperti Rafidhoh, Jahmiyah, Khawarij, Qodariyah, Murji’ah, Mu’tazilah, as-salimah, dan hukum taqlid. Karena itulah, sudah semestinya kita memiliki kitab rujukan ini.

“Kita memohon kepada Alloh agar menjadikan kita sebagai orang-orang yang berpegang dengan kitab-Nya dan sunnah Rosul-Nya, baik secara dzohir maupun batin, mematikan kita di atasnya, menjaga kita di dunia dan akhirat, tidak membuat hati kita menyimpang setelah Ia memberikan hidayah kepada kita, dan agar mengaruniai kita kasih sayang-Nya, sesungguhnya Dia adalah Maha Pemberi.”

(ibid. hal. 258)

Wallohu a’lam…[]