Saya selalu dapatkan sosok-sosok yang kalau ditanya tentang sebuah kesuksesan, dia malah melihat ke bawah.

Contoh, suatu saat, ada kawan yang sudah lama kuliah, tapi belum juga selesai.

“Kenapa belum selesai?”

“Iya, nih. Beberapa teman saya juga ada yang gitu,” ia tersenyum.

Nah, model seperti ini kerap ditemui. Ia disodorkan soal yang standar. Yang memang ia harus selesai sejak dulu, malah ia santai saja. Lalu, mencari teman yang “sederajat” dirinya. Miris sekali, kan.

Itu.

Banyak sekali percontohan sikap seperti ini di luar sana.

Ada yang belum ujian meja, padahal sudah lewat dari waktu normal.
Ada yang belum perbaikan skripsi, sementara kawannya yang lain sudah terima ijazah.
Begitu seterusnya.

Bagaimana denganmu? Semoga tidak.

Mindset mereka adalah: “Masih ada kok seperti saya”.

Itu yang membuat mereka nggak maju. Nggak membuat mereka move up. Nggak nyadar.

Harusnya mereka tuh mikir, usia habis percuma kalau bertahan pada kondisi seperti itu. Biaya pasti membengkak lagi. Bensin makin banyak yang ludes. Dana makin banyak keluar. Dan orang tua pasti makin malu.

Biasanya tetangga bertanya ke orang tua, “Si Ahmad belum selesai S1-nya?”

Orang tua pun menunduk. Malu. Karena si Ahmad sudah 7 tahun di bangku kuliah, tapi nggak juga selesai. Iya, kan!

Kalau begitu, ada yang mesti diubah. Tentang kesadaran berharganya waktu dan mindset kesuksesan.

Waktu itu sangat berharga, kawan. Alangkah baiknya di masa muda, sudah banyak yang bisa kita tuntaskan. Demikian pula mindset kesuksesan, bahwa percepatan itu penting. Jangan berlama-lama. Kalau bisa sukses semuda mungkin, lakukan.

Allah azza wajalla mengingatkan,
“Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan.” (QS. Al Ma’idah: 48)

Olehnya itu, lihatlah selalu ke atas terhadap kebaikan.

Ada rekan yang hafalannya banyak, kamu juga berlomba.
Ada teman yang sudah punya karya, kamu juga bersemangat.
Ada rekan yang berprestasi, kamu juga berupaya.

Bukan berkata, “Masih ada kok yang seperti saya!”

Nah, ada soal…

Kalau teman-temanmu sudah pada nulis buku, kamu ngapain coba?

🖊Abu Abdirrahman