Seorang ikhwah bertanya di sebuah group WA,

“Ada ta’lim besok malam, Ustadz ***, di Masjid ***?” dia bertanya tentang kajian di masjid dekat rumahnya.

Tiba-tiba ada yang balas sambil memberikan pamflet kajian di beberapa tempat. Dia kasih keterangan seperti ini,

“Ayo bersemangat ikut kajian. Mari luangkan waktu. Jangam cuma di Masjid ***?”

Dialog ini sebenarnya sudah mewakili kita. Yang kadang hanya kajian di suatu tempat karena alasan dekat dari rumah.

Adapun kalau sudah jauh, malasnya minta ampun. Nas alulloha salamah wal afiyah.

Padahal, menuntut ilmu memang harus didatangi. Mencurahkan tenaga ke lokasinya.

Coba kita diam sejenak, mendengarkan penuturan Imam Al-Hakim saat menyebutkan sifat orang yang bepergian menuntut ilmu,

“Mereka lebih memilih menempuh padang sahara yang tandus dan tanah yang kosong daripada bersenang-senang di tempat tinggal dan negerinya.

Mereka merasakan kenikmatan dengan kesengsaraan di perjalanan jika tinggal bersama ahli ilmu dan riwayat.

Mereka jadikan masjid-masjid sebagai rumah,

Mereka jadikan menulis sebagai makan siang,

Mencocokkan tulisan sebagai percakapan di waktu malam,

Mengulang pelajaran sebagai istirahat,

Tinta sebagi parfum,

Begadang sebagai tidur, dan..

Bantal mereka adalah kerikil…”
(Ma’rifah ‘Ulum Al-Hadits, hal. 2)

Masyaallah. Demikianlan karakter penuntu ilmu. Indah sekali kehidupan para pendahulu kita. Kesenangan dunia tidak bisa menggantikan indahnya ilmu di hati mereka.

Sebenarnya kita kadang harus malu, mengapa?

Kadang info kajian berhamburan di smartphone, tapi adakah yang mau kunjungi?

Teks-teks ilmu bertebaran di group WA, tapi adakah yang mau membaca dan mengamalkan isinya?

Kita sebenarnya cuma cari alasan, jam full mengajar, tidak ada kajian bisa diikuti. Padahal hal itu bisa disiasati. Apakah bakda magrib ikut kajian. Dsb.

Sudah saatnya kita sejenak merenung, apa yang salah di diri kita ini.

Sehingga, kita rajin bermajelis ilmu. Mendatangi ilmu walaupun radiusnya jauh dari rumah.[]

✏Abu Abdirrahman
­