fbpx

Apa yang Anda rasakan saat tahu tetangga lebih kaya?

Apa yang Anda rasakan saat tahu teman ngaji lebih sudah punya rumah duluan?

Apa yang Anda rasakan saat tahu adik kelas sudah PNS lebih dahulu?

Semoga bukan iri jawabannya. Tapi, tetap syukur kepada-Nya.

Mengapa?
Sebab, Allah azza wajalla memerintahkan hamba,

فاذكروني أذكركم واشكروا لي ولا تكفرون

“Ingatlah kepada-Ku, maka Aku akan mengingat kalian. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah ingkar.”
(QS. Al Baqarah: 152)

Harta Anda dan orang lain mungkin saja beda. Tapi jangan jadikan itu sebagai barometer mengeluh.

“Dia lebih kaya.”
“Dia sudah punya rumah.”
“Dia besok sudah dapat SK pengangkatan PNS.”

Jangan. Itu bukan sifat seorang muslim.

Ada konsep sederhana agar kita senantiasa bersyukur.

Apa itu?

Membandingkan.

Loh?

Ya, Anda bandingkan diri Anda sendiri dengan masa lalu. Pasti hal itu memandu Anda untuk lebih syukur.

Mungkin saja tahun lalu Anda,
Belum punya motor, kini sudah ada.

5 tahun lalu Anda belum punya rumah, kini bangunan itu sudah ditinggali.

10 tahun lalu Anda belum dikarunia anak, kini bocah-bocah itu sudah 4 orang.

Alhamdulillah.

So, bersyukurlah. Bandingkan dengan keadaan sebelumnya.

Olehnya itu, Allah azza wajalla berfirman,

وَإِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللهِ لاَ تُحْصُوْهَا (18)

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya.”
(QS. An-Nahl: 18)