Judul: Bunga Rampai
Sub Judul: Aqidah para Imam as-Salaf
Penulis: Fawwaz Ahmad Zamarli
Penerbit:  Pustaka As-Sunnah, Bekasi
Tebal:  80 hal
ISBN:  979-3913-57-6

“Wahai Syu’aib bin Harb, tidaklah bermanfaat bagimu apa yang engkau tulis sampai engkau beriman kepada al-Qadar, yang baik maupun yang buruk, yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan, bahwa kesemuanya berasal dari Alloh -azza wa jalla-.” (Bunga Rampai, Aqidah para Imam Salaf, hal. 26)

Itulah petikan item dari aqidah al-Imam Abi Abdillah Sufyan bin Sa’id ats-Tsauri -rohimahulloh-, yang kemudian direkam oleh Fawwaz Ahmad Zamarli dalam bukunya bertajuk Bunga Rampai, Aqidah para Imam Salaf, penerjemah Ummu Nafisah. Buku ini sesungguhnya hanya tipis, yaitu 80 halaman, tetapi memuat semua aqidah umat Islam secara umum. Sehingga para pembaca bisa membacanya secara santai dan tidak mengernyitkan dahi.

Persoalan aqidah memang sangat urgen diketahui oleh setiap muslim. Apalagi di tengah banyaknya godaan dari luar, sehingga kadang membuat kerancuan di tengah masyarakat. Ambil contoh pada persoalan takdir, begitu banyak manusia yang mengingkari adanya takdir ini.

Ada yang berkata, “Takdir itu tidak ada, karena semua manusia adalah pelaku.”

Ada juga yang bertutur, “Manusia tidak bisa berbuat apa-apa, karena semua sudah tertakdirkan.”

Kesemuanya ini perlu mendapatkan ‘koreksi’ sebab manusia apabila tak memiliki aqidah yang shohih, nantinya akan dimintai pertanggungjawaban oleh Alloh -azza wa jalla-. Karena itulah, al-Imam Abi Abdillah Sufyan bin Sa’id ats-Tsauri -rohimahulloh- berkata,

“Wahai Su’aib, saat engkau berada dihadapan Alloh -azza wa jalla- dan Dia menanyaimu tentang perkataan ini (maksudnya point-point aqidah Sufyan bin Sa’id ats-Tsauri seperti tentang takdir), maka katakanlah, “Wahai Robbku, perkataan ini disampaikan kepadaku oleh Sufyan bin Sa’id ats-Tsauri.” (Bunga Rampai, Aqidah para Imam Salaf, hal. 33)

Betapa pentingnya aqidah ini kita ketahui, sampai-sampai Sufyan bin Sa’id ats-Tsauri siap mempertanggungjawabakan apa yang beliau sampaikan kepada  Su’aib. Karena itulah, ini semua kembali kepada kesiapan untuk belajar, berilmu sebelum beramal. Takdir harus kita imani keberadaannya, dan semua adalah ketentuan Alloh. Yang mana manusiapun punya kehendak, tetapi ketentuan Alloh di atas kehendak manusia. Inilah inti dari pemahaman keimanan terhadap takdir.

Buku ini sesungguhnya menyatukan 3 kitab, yaitu I’tiqah Sufyan ats-Tsauri, Muqaddimah Risalah ibnu Abi Zaid Al-Qairawani, dan Ushul as-Sunnah al-Imam al-Hafidz Abu Bakr Abdullah bin Az-Zubair al-Humaidi. Kompilasi 3 risalah ini membuat bobot buku ini semakin bertambah. Ditambah lagi adanya catatan-catatan kaki yang diberikan oleh penerjemah. Catatan kaki sendiri menjawabarkan keabsahan hadist dan penjelasan tambahan.

Dimana Alloh?

Soal ini, bagi kaum muslimin sesungguhnya sangat klasik, artinya orang yang berakal sudah mengetahui bahwa keberadaan Alloh itu di atas. Tapi, sebagian manusia ada yang mempelajari buku-buku ‘menyimpang’, sehingga berkata, “Alloh dimana-mana.” Astagfirulloh.

Alloh sesungguhnya di atas Arsy, dan pengetahuan-Nya-lah dimana-mana. Bukan Dzat-Nya yang dimana-mana.

“Dan sesungguhnya Dzat Alloh berada di atas Arsy-Nya, sedangkan Dia akan berada di setiap tempat dengan ilmu-Nya.” (Bunga Rampai, Aqidah para Imam Salaf, hal. 40)

Sesungguhnya ini adalah teguran bagi sekte Jahmiyah yang mengatakan, “Sifat istiwa’ (bersemayam di atas Arys) Alloh sesungguhnya hanya majaz.” Naudzubillah.

Soal, “Dimana Alloh?” ini kerapkali menyita perhatian manusia sehingga menjawab sesuai akal, sesuai selera. Sementara aqidah adalah perkara yang sudah termaktub dalam al-Qur’an dan hadits-hadits shohih. Karena itulah, pemahaman aqidah seperti ini harus kembali kepada penjelasan para ulama salaf. Bukan setiap manusia menjawab, karena kalau semau diserahkan kepada manusia, akan terjadi ketimpangan dalam bernalar. Bahkan tragisnya ada yang mengatakan Alloh bersama manusia, menyatu! Sesuatu yang menakjubkan! Naudzubillah.

Samakan antara orang yang berilmu dan tidak berilmu?

Apakah Bisa Melihat Alloh -azza wa jalla-?

“Pembenaran adanya Ru’yah -melihat kepada wajah Alloh- setelah meninggal.” (Bunga Rampai, Aqidah para Imam Salaf, hal. 73)

Ini merupakan kegembiraan setiap muslim yang meninggal, mereka pasti akan melihat Alloh tentunya dengan menjaga tauhid. Manusia akan melihat Alloh dengan jelas, sebagaimana bisa melihat bulan tanpa berdesak-desakan. Dan tempat melihat Alloh ada 2, di saat di sela-sela hari kiamat dan di surga.

Dua tempat ini yang akan menjadi titik tolak melihat kepada pencipta kita. Pencipta seluruh makhluk, dan di sinilah terlihat kegembiraan yang sangat bagi setiap muslim. Bagaimana tidak, bukankah kita senang melihat orang tua -yang melahirkan kita- yang lama berpisah kemudian berjumpa kembali? Bagaimana pula dengan pencipta kita, tidakkah kita ingin melihat Dzat yang memberikan kita kesehatan, rezki, menciptakan kita? Allohu akbar. Dan bulan puasa ini, ada 2 kegembiraan didapatkan oleh setiap musim: berbuka puasa dan berjumpa dengan Alloh nantinya.

Buku setebal 80 halaman ini adalah cerminan aqidah primer bagi setiap manusia. Penulis telah memaparkan dengan gamlang dan rincian sumber yang sangat jelas. Maka, tidak ada kata terlambat untuk belajar kembali. Mari kita pelajari aqidah kita yang penting ini. Sebagaimana Imam Ahmad -rohimahulloh- pernah ditanya seseorang,

“Sampai kapan kita menuntut ilmu?”

“Sampai kaliau mati!” jawab Imam Ahmad -rohimahulloh-.

Selamat membaca!