Ini adalah dialog awal pernikahan Syuraih al-Qadhi bersama istrinya. Syuraih adalah seorang tabi’in yang ditunjuk oleh Umar bin Khattab menjadi pejabat hakim di wilayah kekhalifahan Islam. Istrinya bernama Zaenab binti Hadhir dari bani Hanzhalah.

Mari kita dengarkan dialog mereka diawal kali menikah.

Zaenab berkata kepada suaminya di malam pertama,

“Aku adalah wanita Arab. Demi Allah, aku tidak melangkah kecuali untuk perkara yang diridhai Allah. Dan kamu adalah laki-laki asing, aku tidak mengenal akhlak kepribadianmu.

Katakan apa yang kamu sukai, sehingga aku bisa melakukannya. Katakan apa yang kamu benci, sehingga aku bisa menjauhinya.”

Sang suami menjawab, “Aku suka ini dan ini (Syuraih menyebut ucapan-ucapan, perbuatan-perbuatan, dan makanan-makanan yang dia sukai) dan juga membenci ini dan ini.”

Zaenab melanjutkan, “Jelaskan kepadaku tentang kerabatmu. Apakah kamu ingin mereka mengunjungimu?”

“Aku seorang hakim. Aku tidak mau mereka membuatku jenuh.”

Perhatikan…

Indahnya dialog persuasif ini. Semacam panduan sebelum mengarungi lautan pernikahan lebih jauh. Tanya-jawab ini bak kompas agar tidak salah beramal terkait suka-bencinya pasangan terhadap sesuatu.

Hari ini bisa kita simak, betapa banyak panduan semacam ini tidak digubris. Tidak dibangun.

Apa yang disuka suami, tidak ditahu.
Apa yang dibenci suami, tidak terdeteksi.

Contoh:

Ada suami yang tidak suka melihat istrinya memakai parfum, tapi istri tidak tahu.

Ada suami yang tidak senang jika si istri main HP berjam-jam, namun istri cuek.

Ada suami yang tidak senang makan ikan A, tapi istri tetap beli.

Dsb.

Kalau ihwal ini ditabrak terus. Alias dilanggar, inilah menjadi bibit retakan kecil dalam rumah tangga. Rawannya, akan menjadi sesuatu yang besar.

Muslimah yang baik adalah yang senantiasa taat kepada suaminya, termasuk di dalamnya apa saja yang suami suka dan dia benci.

Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Siapakah wanita yang paling baik?”

Jawab beliau, “Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci.”
(HR. An-Nasai no. 3231 dan Ahmad 2: 251. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih)

Saatnya para istri bertanya kembali kepada suaminya,

“Wahai suamiku, apa yang engkau sukai dan benci?”

Agar rumah tangga menjadi sakinah.

Sebagaimana testimoni Syuraih saat sang istri telah tahu apa yang disukai dan dibenci suami,

“Dua puluh tahun aku bersamanya. Aku tidak pernah mencelanya atau marah kepadanya.” []

✏Kusnandar Putra