Masa kekosongan itu rawan untuk bersantai semata.

Hal ini rawan buat anak SMA/SMP/SD yang sedang liburan pasca Ujian Nasional.

Selepas dari pondok, akhirnya santai.
Hafalan tidak dimurojaah lagi.
Hafalan baru tidak dimulai lagi.

Akhirnya santai saja.

Saya temukan fakta, selepas UN ini ternyata ada anak akhirnya puas bermain smartphone di rumahnya. Mungkin bebas chat dengan lawan jenis. Puas bermain game. Dan orang tua pun seolah-olah memakai prinsip “mumpung mereka liburan”.

Masyaallah.

Kita ingat betul, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang”. (HR. Bukhari no. 6412, dari Ibnu ‘Abbas).

Bukankah pasca UN ini adalah waktu senggang? Mengapa bermain-main?

Waktu itu sangat berharga. Waktu libur sesungguhnya bukanlah waktu kekosongan. Tapi, dia adalah momentum untuk terus belajar.

Dan hakikat belajar adalah semua lini waktu. Mau libur atau tidak, ya tetap belajar.

Saya teringat seorang ustadz di Yaman dahulu, katanya Syaikh al-Imam pelajarannya tidak mengenal liburan. Pelajaran selalu ada.

Bahkan usai sholat Id pun, tetap ada dars (pelajaran).

Masyaallah.

Bayangkan betapa mulianya ilmu itu. Sampai selalu ditekuni.

Ini pelajaran berharga buat para orang tua agar jangan lengah dari penjagaan anak. Tetap pandu dengan jadwal di waktu liburan. Kapan menghafal, kapan murojaah, dst.

Bukan berarti, “Wah, ini menyiksa anak.”

Tidak.

Malah ini adalah langkah agar anak terbiasa dengan pola yang teratur. Mereka paham bahwa belajar tanpa batas waktu. Agar mereka cinta dengan ilmu.

Semoga Allah azza wajalla senantiasa menjaga keluarga kita dengan kebaikan. []