Saya nggak tahu persis, kapan Ibu menghadiahkan tempat sampah. Yang jelas, saat masih bersekolah. Ya, sebagai wujud pembersihan kamar, Ibu memberikan saya tempat sampah ini.

Seolah-olah Ibu mau mengatakan, “Nak, belajarlah mengelola sampahmu sendiri. Karena sudah ada tempat sampah di kamarmu!”

Akhirnya, saya banyak belajar dari hadiah sederhana ini. Tentang konsep kebersihan, merapikan, dan menempatkan sesuatu pada tempatnya, semua komplit.

Ketika ada sobekan kertas, saya langsung saja cemplungin ke tempat sampah. Ada makanan ringan, dll, bungkusnya siap diposisikan ke sana. Asyik sekali. Soalnya saya belajar tentang pengelolaan kebersihan.

Sehingga, pikiran untuk buang sampah di bawah tempat tidur, tidak ada. Pikiran untuk sobek kertas lalu buang di bawah meja belajar, itu sama sekali nggak ada.

Yang ada adalah mindset saya sudah terbentuk, apa itu? Sampah dibuang pada tempatnya.

Konsep ini memang terlihat sederhana, tapi saya belajar mengaplikasikan ke luar rumah. Ketika ada sampah, saya tidak buang ke jalan. Nggak ada pikiran buang di sembarang lokasi. Nanti ada tempat sampah, barulah dibuang ke sana.

Tentu, kerap di ruas jalan kita melihat, mobil mewah yang melaju, lalu pintu kaca dibuka, sampah puh dibuang ke jalanan. Miris.

Entah apa dipikiran mereka! Padahal bicara strata pendidikan, bisa saja sudah sarjana. Tapi, mengapa? Apa yang salah?

Jangan salahkan pendidikan. Apalagi guru-guru! Tapi, coba arahkan jari telunjuk ke kepala kita.

“Mengapa saya masih buang sampah di jalanan? Mengapa anak saya buang sampah di jalan?”

Apakah defenisi tempat sampah itu sinonim dengan jalanan?

Di Makassar sendiri, Walikota, Ramdhan ‘Danny’ Pomanto telah menyemarakkan program MTR (Makassar Tidak Rantasa/Makassar Tidak Jorok), sebagai platform kota yang bersih. Namun, tentu butuh kerjasama dengan warga itu sendiri. Ia wajib ubah mindsetnya.

Yuk, belajar dari rumah kita sendiri dulu. Bahwa terkadang “miniatur pendidikan” itu penting.

Mendidik tentang kebersihan, sediakan fasilitasnya. Jangan cuma ngultimatum, “Nak, jangan buang sampah sembarangan!”

Lha, memangnya kemana yang benar? Itu yang kadang sulit diterjemahkan.

Gitu juga mendidikan anak tentang semangat belajar maka sediakan akses dan fasilitas terbaik buat anak kita. Bukunya, pena, dst.

Bicara pendidikan adalah bicara keseriusan menyediakan fasilitas. Jangan lupa itu!

Makasih, Ibu atas tempat sampah yang dulu itu. Jazaahallahu khoir

🖊Abu Abdirrahman