Anak-anak itu mulai bermain di rumah. Tiba-tiba, anak pemilik rumah meminta makanan kepada temannya.

Seolah-olah dia meminta, “Bagi dong makananmu!”

Tanpa sadar, salah seorang anak nyeletuk, “Hei, nggak boleh minta-minta, teman! Ada haditsnya tentang larangan meminta-minta.”

Pemilik rumah yang tengah menyaksikan dialog itu berkata kepada si anak, “Nak, kamu dimana sekolah?”

Ternyata tuan rumah terkesima dengan argumentasinya. Ia takjub dengan keberanian si anak untuk berkata ada larangan meminta-minta.

Lalu, beberapa hari kemudian, si tuan rumah, memindahkan 2 anaknya ke sekolah anak tetangganya itu. Ya, sekolah ahlussunnah.

Inilah potret sederhana. Sebuah kalimat yang mampu menyadarkan arti sebuah pendidikan. Meskipun penutur masih anak SD. Tapi, keberanian untuk mengungkapkan alasan, itu yang istimewa.

Hanya dengan menyatakan bahwa ada larangan meminta-minta, membuat perubahan di sebuah keluarga.

Karena memang, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa meminta harta benda kepada orang lain dengan tujuan memperbanyak (kekayaan), maka sebenarnya dia meminta bara api, oleh karena itu terserah kepadanya mau memperoleh sedikit atau memperoleh banyaknya .” (HR. Muslim: 1041)

Itulah larangannya.

Mari kita belajar dari kisah ini, tentang ilmu anak kita. Apakah ia sudah bisa membagi ilmu itu kepada teman sejawatnya? Apakah ada keberanian untuk berdakwah kepada rekannya?

Bukan berarti, anak diembankan kewajiban menjadi penceramah. Bukan!

Namun, saat-saat tak terduga, ini bisa menegakkan amar makruf nahi mungkar. Itu yang nggak semua anak miliki.

Ini juga pentingnya memilihkan sekolah baik buat anak. Sekolah yang bernuansa Islam. Yang guru-gurunya punya Islamic worldview yang shahih. Materi pelajaran yang berlandaskan al-Qur’an dan as-Sunnah. Sehingga, anak punya pendamping yang senantiasa membekali anak-anak kita dengan wawasan keislaman.

Orang tua pun tak boleh lengah. Jangan hanya menyerahkan tanggung jawab pendidikan anak kepada sekolah. Tapi, masing-masing ada porsinya.

Dan orang tua punya peran paling urgen dalam pendidikan ini. Bagaimana ini mendidik anak untuk berani bicara kebenaran. Berani jujur, berani menjadi teman yang baik, dan berani menjadi pribadi yang shalih.

Sudah saatnya anak-anak itu diperhatikan masa depannya. Karena merekalah umat Muhammad shallallahu alayhi wasallam ke depannya.

Semoga anak-anak kita menjadi anak yang shaleh.

🖊Abu Abdirrahman