Usai memperdengarkan kisah 4 pemuda yang bercita-cita tinggi. Yaitu: Abdullah bin Umar, Abdullah bin Zubair, ‘Urwah bin Zubair, dan Mush’ab bin Zubair maka Sang Ustadz mulai membuka diskusi.

“Nah, Nak, coba kalian sebutkan cita-cita kalian?” Sang Ustadz bertanya di hadapan murid-muridnya kelas IV.

Mulailah mereka berpikir.

“Bedakan cita-cita dan keinginan, ya. Kalau keinginan, seperti mau makan ayam crispy,” jelas Sang Ustadz.

Para murid tertawa, tersenyum.

“Adapun cita-cita, yang tinggi,” Sang Ustadz menatap tajam ke murid-muridnya.

Mulailah mereka ditanyai satu per satu.

“Insyaallah, saya ingin menjadi dokter,” tukas seorang murid dengan malu-malu.

Yang lain menjawab, “Insyaallah, saya ingin menghafalkan 30 juz dari Al-Qur’an”.

Dan mayoritas menjawab, “Insyaallah, saya bercita-cita ingin memakaikan orang tuaku mahkota nanti di akhirat kelak.”

Masyaallah, cita-cita yang tinggi.

Sebagaimana hal ini disebutkan dari Buraidah radhiyallahu ‘anhu , Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﻣﻦ ﻗﺮﺃ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻭﺗﻌﻠَّﻢ ﻭﻋﻤﻞ ﺑﻪ ﺃُﻟﺒﺲ ﻭﺍﻟﺪﺍﻩ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﻘﻴﺎﻣﺔ ﺗﺎﺟﺎً ﻣﻦ ﻧﻮﺭ ﺿﻮﺅﻩ ﻣﺜﻞ ﺿﻮﺀ ﺍﻟﺸﻤﺲ ، ﻭﻳﻜﺴﻰ ﻭﺍﻟﺪﺍﻩ ﺣﻠﺘﻴﻦ ﻻ ﺗﻘﻮﻡ ﻟﻬﻤﺎ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﻓﻴﻘﻮﻻﻥ : ﺑﻢ ﻛﺴﻴﻨﺎ ﻫﺬﺍ ؟ ﻓﻴﻘﺎﻝ : ﺑﺄﺧﺬ ﻭﻟﺪﻛﻤﺎ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ

Siapa yang menghafal al-Quran, mengkajinya dan mengamalkannya, Allah akan memberikan mahkota bagi kedua orang tuanya dari cahaya yang terangnya seperti matahari. Dan kedua orang tuanya akan diberi dua pakaian yang tidak bisa dinilai dengan dunia.

Kemudian kedua orang tuanya bertanya, “Mengapa saya sampai diberi pakaian semacam ini?”

Lalu disampaikan kepadanya, “Disebabkan anakmu telah mengamalkan al-Quran.”
(HR. Hakim 1/756 dan dihasankan al-Abani)

Demikianlah. Potret sederhana tentang sebuah harapan. Harapan anak kepada orang tua. Cita-cita anak kepada orang tua.

Jangan kita memandang kisah di atas adalah rangkaian peristiwa di sekolah semata. Tapi, lihatlah itu sebagai cerminan kita semua, dalam skala lebih luas, untuk bersama-sama orang tua di surga.

Itulah harapan mahasiswa kepada orang tuanya.
Harapan para pekerja kepada orang tuanya.
Harapan yang sudah berkeluarga kepada orang tuanya yang telah sepuh.

Bersama di jannah…

Sering kita berdoa, “Allohummagfirlii waliwaalidayya warhamhumaa kamaa robbayaani sogiiro”, tapi adakah usaha untuk meniti jalan bersama orang tua ke surga?

Sebuah kisah menarik, seorang ikhwah, yang telah kenal dakwah, ditanya oleh ibunya yang masih awam.

“Nak, tolong ajari saya mengaji… Sebentar pengajian ibu-ibu.”

Tanpa, basa-basi, sang anak pun mengambil mushaf. Lalu, mengajari ibunya makhroj, dan mad, dalam surah al-Kahfi.

Inilah usaha dari seorang anak. Bagaimana mencari sebab-sebab jalan kebaikan bersama.

Miris memang…

Kadang, ada beberapa oknum yang telah kenal dakwah, itu tidak peduli dengan keluarganya sendiri. Tidak _care_ dengan cara membaca Quran orang tuanya.

Dia lebih senang ngajar orang lain, daripada sosok yang telah membesarkannya.

Dia lebih suka sharing agama ke rekan kerjanya, daripada membenarkan aqidah orang tuanya sendiri.

Tidak ada yang salah sebenarnya, tapi dimana kesadaran prioritas itu? Dimana perhatian kita dengan orang tua?

Harusnya, makin bertambah usia kita, makin paham bahwa orang terdekat jangan dilupa.

ﻓَﺈِﻧَّﻚَ ﻣَﻊَ ﻣَﻦْ ﺃَﺣْﺒَﺒْﺖ

“Sesungguhnya kamu bersama yang engkau cintai,” itulah pesan Rosululloh shollallohu alaihi wasallam dalam riwayat Muslim.

Apakah kita tidak mencintai orang tua? Naif sekali jika tidak!

Olehnya itu, mari kita tumbuhkan kesadaran itu.

🖊Abu Abdirrahman