10 Rintangan Menuntut Ilmu

10 Rintangan Menuntut Ilmu

Judul: 10 Rintangan dalam Menuntut Ilmu disertai 20 Nasehat bagi Penuntut Ilmu dan Da’i Ilalloh
Penulis: asy-Syaikh Dr. Abdus Salam bin Barjas Ali Abdul Karim, dan Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab al-Wushobi
Penerjemah : Abu Muhammad Ibnu Hamzah
Penerbit:  Pustaka al-Haura, Jogyakarta
Tebal:  192 hal
ISBN:  979-18750-3-0

“Termasuk adab-adab seorang ulama dan pelajar adalah memberi nasehat dan menyebarkan ilmu yang bermanfaat yang mungkin, sampaipun kalau seorang manusia mengetahui suatu masalah kemudian dia menyebarkannya, maka itu termasuk barokah ilmunya. Dan karena buah-buah ilmu yaitu manusia mengambil ilmu darinya. Barangsiapa yang bakhil dengan ilmunya, maka ilmunya akan mati dengan kematiannya.”

(10 Rintangan dalam Menuntut Ilmu disertai 20 Nasehat bagi Penuntut Ilmu dan Da’i Ilalloh, halaman 94)

Itulah sebuah konsekuensi dalam dakwah, seseorang mestinya menyebarkan ilmu dan hal tersebut termasuk dari berkah dari sebuah ilmu. Sebab ilmu akan memanggil amalan. Kalau amalan tidak terpanggil, maka percumalah ilmu itu. Tentunya dengan hal demikian, semakin membuat antusiasme dalam dakwah. Dan dakwah ini adalah buah dari akhlak dalam menuntut ilmu. Ilmu yang baik tentunya akan berbuah akhlak yang beradab. Sehingga ia beradab kepada Alloh dan Rosul-Nya.

Ilmu harus tersebar sebagai keinginan hilangnya kejahilan dari seorang hamba. Karena niat berilmu adalah mengangkat kebodohan pada diri sendiri dan diri orang lain. Sehingga, sangat jelek sekali orang yang menyembunyikan ilmu. Ia hanya berdiam diri. Sehingga, masyarakat hanya terdiam dalam kebodohan, baik itu kesyirikan, bid’ah, dan maksiat. Jangan sampai ilmu itu mati dengan didiamkannya. Apalagi dengan meninggalnya para ulama.

Janganlah membuat blunder dalam menuntut ilmu, dalam artinya membuat kesalahan sendiri dalam menuntut ilmu dengan tidak mengindahkan dakwah. Tidak melajutkan sarana ilmu dengan kesabaran. Kita semua harus semangat, jangan menyerah dalam belajar, berilmu, kemudian mengamalkannya, mendakwahkannya, dilanjutkan dengan pakaian kesabaran.

Jangan Tertipu!

Perbuatan maksiat kepada Alloh adalah salah satu penghalang untuk memperoleh ilmu syar’i. Karena ilmu itu adalah nur (cahaya) yang Alloh letakkan di hati-hati orang-orang yang Dia kehendaki di antara hamba-Nya. Tidak akan terkumpul cahaya dan kegelapan dalam satu hati.

(10 Rintangan dalam Menuntut Ilmu disertai 20 Nasehat bagi Penuntut Ilmu dan Da’i Ilalloh, halaman 54)

Ada 2 penghalang besar bagi seorang penuntut ilmu, itulah yang kita kenal dengan ujub (bangga diri) dan kibr (sombong). Betul sekali apa yang dikatakan oleh Ali bin Tsabit:

Ilmu itu, perusaknya rasa ujub dan emosi

Sedang harta itu, perusaknya sikap boros dan dirampas

Memang ini adalah virus tersendiri bagi para pelajar, karena adanya bangga dalam diri kadang membuat keikhlasan hilang. Mengharap pujian, mengharap ‘amplop’ dalam berceramah, sehingga niat belajar yang suci tadinya akhirnya pudar. Karena itulah ini dianggap sebagai perusak. Begitu pula dengan sombong, saking tingginya hafalan, akhirnya sombong dan merendahkan orang lain. Hati-hatilah dengan sifat ini. Bahkan menjadi godaan tersendiri buat kita. Bagaimanakah cara menghilangkan virus sombong ini?

Penulis buku menyajikan solusinya yaitu dengan mengetahui bahwa yang pantas untuk ‘sombong’ hanyalah Alloh. Tidak pantas seorang hamba menyandang sifat sombong ini.

Menunda-Nunda!

Al-Kumaili berkata,

“Sikap menunda-nunda bagi para pemuda adalah satu makanan

Mereka hidup dan memberi makan keluarga dengannya”

(Asas al-Balaghoh hal 220)

Terkadang para penuntut ilmu hanya melihat waktu, dalam artinya mereka mengatakan ‘masih lama’. Akhirnya, menunggu dan menunggu. Berangan-angan dan berangan-angan. Dan akhirnya waktu pun berlalu begitu saja. Kita harus ingat bahwa waktu ibarat aliran sungai, yang mengalir terus dan manusia tidak sadar akan peristiwa ini. Hanya orang yang baik cara pandangannya, maka ia memanfaatkan aliran sungai ini dengan sebaik mungkin. Begitupula dengan orang yang mengalokasikan waktu dengan amalan-amalan berbuah pahala, tentunya lebih baik.

“Adapun sikap menunda-nunda, maka itu adalah sifat orang yang dungu perasaannya, tidak peduli. Setiap kali dirinya mempunyai cita-cita yang baik, dia menghalanginya dengan ‘nanti’ dan ‘akan aku kerjakan’, sampai kematian datang dengan tiba-tiba kepadanya…”

(10 Rintangan dalam Menuntut Ilmu disertai 20 Nasehat bagi Penuntut Ilmu dan Da’i Ilalloh, halaman 70)

Karena itulah, kita mesti berhati-hati dengan rintangan ini. Sifat menunda-nunda adalah metodologi syaiton untuk menghindarkan kaum muslimin dari perkara-perkara yang bermanfaat. Karena itulah, penulis memberikan motivasi untuk tetap bersemangat dan tidak menunda-nunda dengan firman Alloh,

“Berlomba-lombalah dalam kebaikan.” (al-Baqoroh: 148)

Penutup

Dalam buku setebal 192 halaman ini, sangat banyak sekali rintangan yang wajib diketahui oleh setiap muslim untuk dihindari. Di dalam buku ini masih banyak faedah-faedah  bermanfaat seperti: adab pelajar dan pengajar, mutiara dalam menuntut ilmu, rintangan-rintangan dalam menuntut ilmu, dan nasehat-nasehat dari Syaikh Muqbil kepada para penuntut ilmu.

“Dan yang menjadi pendorong penulisan buku ini adalah rasa simpatiku terhadap kebangkitan ilmiyyah kita dari dalam di atas dasar pokoknya yang kokoh yang telah ditancapkan oleh salafush sholeh kita –semoga Allah meridhoi mereka semua dan juga untuk mengambil tangan para pemuda kebangkitan yang diberkahi ini ke arah jalan yang paling utama untuk memperoleh ilmu-ilmu syar’i.”

(10 Rintangan dalam Menuntut Ilmu disertai 20 Nasehat bagi Penuntut Ilmu dan Da’i Ilalloh, halaman 12)

Oleh karena itu, buku ini sangat apik Anda baca!

Wallohu a’lam…[]