Dari 6 wasiat Imam Asy-Syafii rohimahulloh tentang kiat diperolehnya ilmu, salah satunya ialah dengan kecerdasan (dzakaaun). Ini adalah wasiat emas. Sebab, kecerdasan adalah bisa diusahakan, kecuali bagi yang malas.

“Emang ada orang yang tidak mau cerdas?”

Jelas tidak ada lah!

Namun, kadang orang pengennya cerdas, tapi tidak mengoptimalkan usaha, tidak mengambil sebabnya. Padahal semua bisa dilakukan.

Ambil contoh, si fulan pengen menjadi penghafal Qur’an. Tapi, tidak mau membeli mushaf.

Ada mushaf, eh tidak mau memulai.

Sudah mulai menghafal, eh lusanya tidak mengafal lagi, karena alasan sibuk.

Itulah contoh cara tidak mau cerdas. Tentu di sana masih banyak lagi kasus semisal di atas. Sekali lagi, cerdas itu bisa dilatih dengan meminta pertolongan kepada Allah azza wa jalla. Makanya, kita dianjurkan berdoa sebelum belajar, “robbiy zidnii ilman warzuqni fahman”. Sudah tahu kan artinya!

So, menurut para ulama, kecerdasan menjadi dua. Pertama, muhibatun minallah (kecerdasan yang diberikan oleh Allah). Seseorang meskipun dalam majelis tidak mencatat tetapi dia bisa mengingat dan menghafalnya dengan baik dan bisa menyampaikan kepada orang lain dengan baik. Jenis kecerdasan ini harus diasah agar dapat bermanfaat lebih banyak untuk dirinya dan orang lain. Yang kedua adalah kecerdasan yang didapat dengan usaha (muktasab) misalnya dengan cara mencatat, mengulang materi yang diajarkan, berdiskusi dll.

Titik permasalahan kita hari ini adalah kecerdasa kedua ini, dengan usaha.

Sepanjang seseorang mau berusaha untuk pintar, menempuh sebab, mencatat, mengulang materi, diskusi, membaca, tentunya dengan bertawakkal kepada Allah, insyaallah, Allah azza wa jalla akan membukakan baginya pintu kecerdasan.

Teringat sebuah kisah salah seorang santri di Ma’had Baji Rupa Makassar, beberapa tahun yang lalu. Santri ini memang bersemangat sekali dalam belajar. Beliau terkenal sebagai santri yang cerdas. Tentu, karena pertolongan Allah azza wajalla. Suatu saat ada tablih akbar di Masjid UIN Alauddin Makassar, Sang Ustadz memberikan soal warisan yang lumayan rumit. Dimintalah semua yang hadir untuk menjawab di papan tulis yang disediakan. Maka, si santri inilah yang hanya seorang diri mengangkat tangan, dan menjawab soal itu dengan benar.

Masyaallah. Itulah bukti tanda kecerdasan. Ada upaya, ada keberanian, dan tentunya pertolongan dari Allah azza wajalla. Buahnya apa? Kini beliau sudah menyelesaikan studinya S1-nya dari Universitas Islam Madinah.

Usaha tak akan mengkhianati hasil, insyallah.

Olehnya itu, di saat engkau ingin memperoleh ilmu dengan cepat, bertanyalah,

“Apakah aku sudah mengupayakan untuk cerdas?”

=======

Kusnandar Putra

Ikuti >> https://t.me/sharingnulis