fbpx

Selasa siang (5/2), saya membaca status WA teman. Dia meng-screenshot checkout jualan emasnya di sebuah marketplace.

Saya memulai balas statusnya,

“Antum jual?”

“Iya jual, Pak.”

“Lebih baik sistem offline, Mas.”

“Iya, kalau deket, saya biasa COD. Kalau jauh, ga bisa, Pak.”

“Kalau sistem online, riba namanya, Mas.”

“Kenapa, Pak? …”

“Di antara sumber pendalilan hal ini adalah sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الذَّهَبُ بِالْوَرِقِ رِبًا إِلاَّ هَاءَ وَهَاءَ
“Membeli emas dengan perak adalah riba kecuali dengan serah terima secara tunai.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim)

بِيْعُوا الذَّهَبَ بِالْفِضَّةِ كَيْفَ شِئْتُمْ يَدًا بِيَدٍ
“Silakan kalian ingin membeli emas dengan perak asalkan dengan serah terima dari tangan ke tangan.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Semua ulama sepakat itu riba, Mas.”

“Maksudnya kan kontan.”

“2 syaratnya, Mas:
1. Kontan
2. Serah terima langsung

Kalau salah satunya tidak ada, kena riba, Mas.”

“Suhun infonya.”

Saya kasih ikon jempol setelahnya.

Dari sini kita ambil ibroh, berjualan/berbisnis hendaknya punya ilmu. Jangan sampai kita berbangga dengan bisnis yang grow-up tapi fakta syariatnya menyimpang.

Ilmu dibutuhkan di segala lini kehidupan. Sejak bangun tidur, hingga kembali tidur.