الْحَمْدُ للَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى وَأَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلٰهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

—–
Jamaah yang dimuliakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala…
—–

Salah satu bukti keimanan seorang muslim adalah shadaqah. Ini ditunjukkan dalam hadits dari sahabat Al Harits bin Ashim Al Asy’ari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الطُّهُورُ شَطْرُ الإِيمان ، والحَمدُ لله تَمْلأُ الميزَانَ ، وَسُبْحَانَ الله والحَمدُ لله تَملآن – أَوْ تَمْلأُ – مَا بَينَ السَّماوات وَالأَرْضِ، والصَّلاةُ نُورٌ ، والصَّدقةُ بُرهَانٌ

“Bersuci adalah separuh dari keimanan, ucapan ‘Alhamdulillah’ akan memenuhi timbangan, ‘subhanallah walhamdulillah’ akan memenuhi ruangan langit dan bumi, shalat adalah cahaya, dan shadaqah itu merupakan bukti.”
(HR. Muslim)

Kenapa shadaqah disebut sebagai bukti keimanan? Hal ini karena harta adalah perkara yang dicintai oleh jiwa kita. Berat bagi diri kita untuk melepaskannya. Sehingga ketika seseorang merelakan hartanya tersebut di jalan Allah, maka ini adalah bukti yang menunjukkan kecintaannya kepada Allah subhanahu wata’ala. Maka kita lihat sendiri, semakin tinggi keimanan seseorang, semakin banyak pula dia bershadaqah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling tinggi keimanannya. Beliau tidak pernah tanggung-tanggung dalam bershadaqah. Pernah beliau menyedekahkan kambing beliau. Apakah satu ekor, atau dua ekor saja? Tidak. Beliau bershadaqah dengan satu lembah kambing.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkisah,

وَلَقَدْ جَاءهُ رَجُلٌ ، فَأعْطَاهُ غَنَماً بَيْنَ جَبَلَيْنِ ، فَرجَعَ إِلَى قَوْمِهِ ، فَقَالَ : يَا قَوْمِ ، أسْلِمُوا فإِنَّ مُحَمَّداً يُعطِي عَطَاءَ مَن لا يَخْشَى الفَقْر ، وَإنْ كَانَ الرَّجُلُ لَيُسْلِمُ مَا يُريدُ إِلاَّ الدُّنْيَا ، فَمَا يَلْبَثُ إِلاَّ يَسِيراً حَتَّى يَكُونَ الإسْلاَمُ أحَبَّ إِلَيْهِ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا عَلَيْهَا

Seorang lelaki datang kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam. Maka Nabi pun memberikannya kambing yang berjumlah satu lembah. Orang tersebut lalu kembali kepada kaumnya dan berkata, “Wahai kaumku, masuk Islamlah kalian! Sesungguhnya Muhammad telah memberikan suatu pemberian, dia tidaklah khawatir akan miskin”. Orang itu masuk Islam karena menginginkan dunia namun begitu dia masuk Islam, Islam itu lebih dicintai dari dunia dan seisinya.
(HR. Muslim)

—–
Jamaah yang dimuliakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala…
—–

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ketika turun ayat,

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai.”
(QS. Ali Imran: 92)

Abu Thalhah radhiyallahu ‘anhu lalu menghadap ke Rasulullah. Dia adalah orang Anshar yang memiliki banyak harta di kota Madinah berupa kebun kurma. Ada kebun kurma yang paling ia sukai yang bernama Bairaha’. Kebun tersebut berada di depan masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memasukinya dan minum dari air yang begitu enak di dalamnya.

Abu Thalhah berdiri menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia menyatakan, “Wahai, Rasulullah, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai.”
(QS. Ali Imran: 92)

Sungguh harta yang paling aku cintai adalah kebun Bairaha’. Sungguh aku wakafkan kebun tersebut karena mengharap pahala dari Allah dan mengharap simpanan di akhirat. Aturlah tanah ini sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’alatelah memberi petunjuk kepadamu. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bakh! Itulah harta yang benar-benar beruntung. Itulah harta yang benar-benar beruntung. Aku memang telah mendengar perkataanmu ini. Aku berpendapat, hendaknya engkau sedekahkan tanahmu ini untuk kerabat. Lalu Abu Thalhah membaginya untuk kerabatnya dan anak pamannya.”
(HR. Bukhari, no. 1461 dan Muslim, no. 998). Bakh maknanya untuk menyatakan besarnya suatu perkara.

—–
Jamaah yang dimuliakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala…
—–

Apa yang dimaksud dengan
“Kebajikan (yang sempurna).”?

Banyak ahli tafsir yang menerangkan bahwa al-birr yang dimaksud oleh ayat ini adalah surga. Penafsiran ini diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Atha’, Mujahid, Amr bin Maimun, dan as-Suddi (Tafsir ath-Thabari dan al-Qurthubi).

Sebagian ahli tafsir berpendapat bahwa al-birr yang dimaksud adalah amalan saleh.

Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shollallohu alayhi wasallam,

إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ

“Sesungguhnya kejujuran mengantarkan kepada al-birr (amalan saleh), dan al-birr akan mengantarkan kepada surga.”
(HR. al-Bukhari no. 5743 dari Abdullah bin Mas’ud)

Ada pula yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan al-birr adalah ketaatan dan ketakwaan. Dengan demikian, maknanya adalah kalian tidak akan meraih kemuliaan agama dan ketakwaan hingga kalian bersedekah dalam keadaan kalian sehat dan butuh akan harta/materi, kalian berangan-angan kehidupan yang lebih panjang dan takut akan kemiskinan.”
(Tafsir al-Qurthubi)

Yang jelas, semua penafsiran ini tidak saling bertentangan karena al-birr adalah sebuah nama yang mengumpulkan seluruh makna kebaikan, yang balasan dari seluruh kebaikan itu adalah surga.
(Lihat Taisir al-Karim ar-Rahman)

—–
Jamaah yang dimuliakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala…
—–

Diriwayatkan pula bahwa Umar bin Abdul Aziz membeli beberapa karung gula lalu menyedekahkannya. Lalu beliau ditanya,

“Mengapa engkau tidak bersedekah dengan uangnya saja?”
Beliau menjawab, “Gula adalah harta yang paling aku sukai, maka aku ingin bersedekah dengan apa yang aku sukai.”

Al-Hasan al-Bashri berkata, “Sesungguhnya kalian tidak akan meraih apa yang kalian sukai melainkan dengan meninggalkan apa yang kalian senangi. Kalian juga tidak akan menggapai angan-angan kalian melainkan dengan bersabar atas apa yang kalian benci.”
(Lihat Tafsir al-Qurthubi)

Diriwayatkan pula dari Ibnu Umar bahwa dia berkata bahwa Umar bin Khaththab pernah berkata kepada Rasulullah shollallohu alayhi wasallam, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ada seratus bagian di Khaibar yang aku tidak pernah mendapatkan harta yang lebih aku sukai darinya. Aku ingin menyedekahkannya.”

Rasulullah shollallohu alayhi wasallam bersabda:

احْبِسْ أَصْلَهَا وَسَبِّلْ ثَمْرَتَهَا

“Wakafkan tanahnya dan sedekahkan hasilnya!”
(HR. an-Nasai no. 3603, Ibnu Majah no. 2397 dan dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah)

—–
Jamaah yang dimuliakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala…
—–

Sekedah adalah juga merupakan pelindung dari api neraka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بشقِّ تَمْرَةٍ

“Takutlah kalian dari api neraka, walaupun hanya dengan (bersedekah) potongan kurma.” (Muttafaq ‘alaih)

—–
Jamaah yang dimuliakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala…
—–

Sufyan Ats Tsauri pernah mengatakan,

“Aku pernah melakukan thawaf mengelilingi Ka’bah. Kemudian aku melihat seseorang berdo’a,

اللَّهُمَّ قِنِي شُحَّ نَفْسِي

“Ya Allah, hilangkanlah dariku sifat pelit (lagi tamak).”

Dia tidak menambah lebih dari itu…

Laki-laki yang berdo’a tadi ternyata adalah ‘Abdurrahman bin ‘Auf, seorang sahabat yang mulia (yang dijamin masuk Surga).

(Dibawakan oleh Ibnu Katsir pada tafsir Surat Al Hasyr ayat 10).

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menjauhkan kita dari sifat pelit. Dan menjadikan kita sebagai Hamba yang mencintai bersedekah.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

===

NB.
Naskah ini disajikan terinspirasi dari ceramah/khutbah para ustadz. Kami hanya mengedit dan menambah yang perlu dari artikel lain. Silakan Anda improvisasi.