Saya pernah mendengarkan sebuah ucapan menarik,

“Batas akhir terbangun dari tidur keluarga muslim ialah adzan kedua di waktu subuh.”

Gitu kira-kira penyampaiannya.

Ini menarik, karena bicara bangun tidur. Boleh saja kita beranggapan selama ini, bahwa bangun tidur itu, ya paling tidak, tidak terlambat salat subuh.

Itu tidak sepenuhnya salah, tapi mesti dilengkapi.

Keluara muslim yang terdiri dari elemen; ayah, ibu, anak, kakek, nenek, dll, semua sudah bangun lebih awal. Dan waktu deadlinenya adzan kedua subuh.

Jam berapa azan kedua?

Tentu ini dinamis. Setiap bulan akan bergeser waktu.

Namun, kalau berbicara sekarang, kurang lebih pukul 04.35. Itu waktu azan kedua. Kalau azan pertama jam 04.00.

Karena itulah, perlu kita merubah mindset, khususnya yang sudah berkeluarga. Bangun tidur harus lebih awal, jangan kebablasan lagi.

Miris sekali, jika keluarga dakwah:

Istrinya bangun jam 06.00
Suaminya bangun jam 06.30
Anak-anak bangun jam 07.00.

Inikah keluarga yang bervisi dakwah?

Perlu kita merenung sejenak. Mengapa selama ini telat bangun? Dan kerap terulang.

Sebab, bicara bangun tidur, bukan tentang persoalan membuka kelopak mata semata. Bukan soal mengucek mata.

Tapi, bangun lebil awal adalah tentang kebangkitan Islam.

Lihatlah bagaimana Nabi sholllallohu alahi wasallam saat mengutus pasukan, waktunya subuh.

Lihatlah keluarga muslim di sekitar kita, mereka sudah punya manajemen waktu yang baik. Ayah, ibu, anak mereka, melaksanakan qobliyah subuh. Sehingga pahalanya bagaikan mereka meraih dunia dan isinya!

Bakda subuh anak-anak mereka menghafal Quran dan berbagai aktifitas bermanfaat lainnya.

Teringat bulan Romadhon, bagaimana kaum muslimin begitu semangat bangun lebih awal.

Tidakkah ini menjadi ibroh?

Ini pelajaran indah buat keluarga muslim. Harusnya bulan Romadhon memberi inspirasi untuk tetap bangun lebih awal.

Tentu ini butuh kerjasama. Suami membantu istri, istri membantu suami. Saling membangunkan.

“Kalau masih jomblo?”

Bisa dengan alarm dulu.

Sebab, keterlambatan solat subuh, tak lepas dari makar syaiton.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu , Nabivshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﻋَﻘِﺪَ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥُ ﻋَﻠَﻰ ﻗَﺎﻓِﻴَﺔِ ﺭَﺃْﺱِ ﺃَﺣَﺪِﻛُﻢْ ﺇِﺫَﺍ ﻫُﻮَ ﻧَﺎﻡَ ﺛَﻼَﺙَ ﻋُﻘَﺪٍ ، ﻳَﻀْﺮِﺏُ ﻛُﻞَّ ﻋُﻘْﺪَﺓٍ ﻋَﻠَﻴْﻚَ ﻟَﻴْﻞٌ ﻃَﻮِﻳﻞٌ ﻓَﺎﺭْﻗُﺪْ ، ﻓَﺈِﻥِ ﺍﺳْﺘَﻴْﻘَﻆَ ﻓَﺬَﻛَﺮَ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺍﻧْﺤَﻠَّﺖْ ﻋُﻘْﺪَﺓٌ ، ﻓَﺈِﻥْ ﺗَﻮَﺿَّﺄَ ﺍﻧْﺤَﻠَّﺖْ ﻋُﻘْﺪَﺓٌ ، ﻓَﺈِﻥْ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻧْﺤَﻠَّﺖْ ﻋُﻘْﺪَﺓٌ ﻓَﺄَﺻْﺒَﺢَ ﻧَﺸِﻴﻄًﺎ ﻃَﻴِّﺐَ ﺍﻟﻨَّﻔْﺲِ ، ﻭَﺇِﻻَّ ﺃَﺻْﺒَﺢَ ﺧَﺒِﻴﺚَ ﺍﻟﻨَّﻔْﺲِ ﻛَﺴْﻼَﻥَ

“Setan membuat tiga ikatan di tengkuk (leher bagian belakang) salah seorang dari kalian ketika tidur.

Di setiap ikatan setan akan mengatakan, “Malam masih panjang, tidurlah!”

Jika ia bangun lalu berdzikir pada Allah, lepaslah satu ikatan. Kemudian jika dia berwudhu, lepas lagi satu ikatan. Kemudian jika dia mengerjakan sholat, lepaslah ikatan terakhir. Di pagi hari dia akan bersemangat dan bergembira.
Jika tidak melakukan seperti ini, dia tidak ceria dan menjadi malas.” (HR. Bukhari no. 1142 dan Muslim no. 776)

Hadits di atas juga membimbing kita dalam hal antusiasme beraktifitas, siapa yang mau semangat, gembira, move un maka bangunlah di awal subuh.

Dan…

Salah satu penyebab krusial mengapa keluarga muslim selalu saja telat bangun subuh, ialah tidak meminta pertolongan kepada Allah azza wajalla agar dibangunkan lebih awal.

Keluarga muslim harus paham ini. Tidak ada dan upaya, kecuali meminta pertologan kepada-Nya. Maka, mintalah kepada-Nya agar bisa lebih awal bangun. Lalu berdzikir sebelum tidur.

Jangan sampai juga sering begadang. Ini tidak baik.

Diriwayatkan dari Abi Barzah, beliau berkata,

ﺃَﻥَّ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﻛَﺎﻥَ ﻳَﻜْﺮَﻩُ ﺍﻟﻨَّﻮْﻡَ ﻗَﺒْﻞَ ﺍﻟْﻌِﺸَﺎﺀِ ﻭَﺍﻟْﺤَﺪِﻳﺚَ ﺑَﻌْﺪَﻫَﺎ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum shalat ‘Isya dan ngobrol-ngobrol setelahnya. ”
(HR. Bukhari no. 568)

Ibnu Baththol menjelaskan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak suka begadang setelah shalat ‘Isya karena beliau sangat ingin melaksanakan shalat malam dan khawatir jika sampai luput dari shalat shubuh berjama’ah. ‘Umar bin Al Khottob sampai-sampai pernah memukul orang yang begadang setelah shalat Isya, beliau mengatakan, “Apakah kalian sekarang begadang di awal malam, nanti di akhir malam tertidur lelap?!”
(Syarh Al Bukhari, 3: 278)

Semoga Allah azza wajalla senantiasa memberi taufik kepada kita semuaya

Yuk, bangun lebih awal!

Oleh: Kusnandar Putra

======

NB.

Untuk subuh memang ada dua adzan. Adzan pertama dikumandangkan beberapa waktu sebelum shalat subuh dengan tujuan membangunkan orang yang tidur, mengingatkan orang yang shalat tahajjud/qiyamul lail agar tidur sejenak hingga nantinya mengerjakan shalat subuh dalam keadaan segar. Tujuan lainnya, agar orang yang ingin puasa keesokan harinya bisa segera makan sahur. Adapun adzan kedua diserukan ketika masuk waktunya.

Jarak antara dua adzan ini tidaklah berjauhan, sebagaimana diisyaratkan dalam ucapan Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma dari hadits di atas yang diriwayatkan Al-Imam Muslim rahimahullahu:

ﻭَﻟَﻢْ ﻳَﻜُﻦْ ﺑَﻴْﻨَﻬُﻤَﺎ ﺇِﻻَّ ﺃَﻥْ ﻳَﻨْﺰِﻝَ ﻫَﺬَﺍ ﻭَﻳَﺮْﻗَﻰ ﻫَﺬَﺍ .

“Tidaklah jarak antara kedua adzan ini kecuali sekadar muadzin yang satu turun dari tempatnya beradzan dan muadzin yang lain naik.”

Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu menjelaskan: Para ulama, “Makna kalimat di atas adalah Bilal biasa mengumandangkan adzan sebelum fajar. Setelah itu ia mengisi waktunya dengan berdoa dan semisalnya. Kemudian ia melihat-lihat fajar. Apabila telah dekat terbitnya fajar, ia turun untuk mengabarkannya kepada Ibnu Ummi Maktum. Maka Ibnu Ummi Maktum pun bersiap-siap dengan bersuci dan selainnya. Setelahnya ia naik dan mulai mengumandangkan adzan bersamaan dengan awal terbitnya fajar. Wallahu a’lam.” (Al-Minhaj, 7/203)

Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Tamamul Minnah (hal. 146) memperkirakan adzan pertama itu diserukan sekitar seperempat jam sebelum masuk waktu shalat subuh.

(darussalaf.or.id)