Unik membahas tentang penerjemah (mutarjim) ini. Khususnya penerjemah bernama al-Ustadz Ali Basuki, Lc.

Tabligh Akbar bertemakan “Rumahku adalah Surgaku” pada 23 Juli 2017 di Masjid Al-Markaz Makassar menjadi momentum beliau untuk menerjemahkan tausiyah Fadhilatusy Syaikh Abdul Hady Al-Umairy, MA.

Kejelian beliau memilih diksi, sangat detail dan jleb. Dipadukan dengan intonasi yang pas. Retorika yang akurat. Itulah ragam kepandaian beliau.

Coba kita simak bagaimana contoh kejelian ustadz yang merupakan alumni Universitas Islam Madinah ini. Saat Syaikh menyebutkan kata “nuriidu”, yang arti normalnya “kita ingin/menginginkan”. Tapi, diksi Ustadz Ali Basuki beda!

“Nuriidu” diterjemahkan “kita mendambakan”.

Pilihan yang sangat apik. Mendalam, pas untuk orang awam. Dan masih banyak lagi pilihan kata yang tepat dan membumi dari beliau.

Silakan dengar langsung metode penerjemahan beliau di sini
>> http://bit.ly/2uwvJOb

Demikianlah keutamaan beliau. Masyaallah.

Wajar, bahwa beliau memang kerap diundang oleh panitia Markaz Dakwah Makassar saat datang para ulama, untuk mengambil bagian. Sebagai mutarjim (penerjemah).

Terhitung dalam catatan, sudah 3 kali menjadi penerjemah ulama. Saat tabligh akbar tanggal 2 Agustus 2015, bertema “Menjadi Muslim Terbaik”. Tanggal 30-31 Juli 2016 bertema “Sakinah bersama Sunnah”. Dan, pekan kemarin, 23 Juli 2017 bertema “Negeriku adalah Surgaku”.

Karena itulah, hendaknya kita senantiasa mensyukuri keberadaan para penerjemah ini.

Syaikh Abdul Aziz Al-Bura’iy (Ulama Yaman), yang juga mengisi tabligh akbar, bertutur, “Kami juga berterima kasih kepada para mutarjim.” Syaikh mengisyaratkan bahwa para mutarjim inilah yang menjadi jembatan tersebarnya ilmu.

Kita ingat betul, Rosululloh shollallohu alayhi wasallam bersabda,

“Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla akan memasukkan tiga orang ke dalam surga lantaran satu anak panah. Yakni orang yang saat membuatnya mengharapkan kebaikan, orang yang menyiapkannya di jalan Allah, dan orang yang memanahkannya di jalan Allah.”
(HR. Ahmad)

Hadits yang menunjukkan keutamaan menjadi sebab kebaikan. Dan menerjemah tentunya ialah sebab dari kebaikan itu.

Itulah peran Ustadz Ali Basuki _-hafizhahullah-_.

Lalu, dimana peran kita yang _dhoif_ ini dalam tersalurnya dakwah?

_Barokallohu fiinaa._

  • ✏Abu Abdirrahman