fbpx

Memahamkan jamaah adalah orientasi sebuah ceramah. Sangat disayangkan jika khotib sudah berpenampilan baik tapi jamaah bosan “argmentasi” yang dibuat.

Olehnya itu, pada kesemparan ini mari kita bongkar cara membangun argumentasi.

1. Mendefesisikan

Seorang khotib harus mampu mendefeniskan istilah baru kepada jamaah. Bahkan walaupun itu istilah sudah dimaklumi, hendaknya khotib kembali menyegarkan diksi itu kepada pendengar. Apakah membongkarnya dari sisi kata dasarnya atau dari penjelasan ulama.

Misalkan:

“Takwa adalah..”
“Menurut Syaikh A, ilmu adalah…”

2. Memberikan contoh

Orang mudah paham dengan contoh. Karena dengan contoh, jamaah bisa paham lebih jauh tentang materi yang disampaikan

Seperti:

“Berbuat adil seperti seorang ayah memberikan si kakak 10rb, si adik 5rb. Itu tetap adil karena kebutuhannya berbeda.”

3. Memberikan penafsiran dari para ulama ahlusunnah

Khatib yang kredibel memiliki kebiasaan membaca buku. Maka, hendaknya dia membaca buku tafsir. Dan menyajikannya dalam konten materi ceramah.

Buku tasfir bisa dari Ibnu Katsir, As-Sa’di, Syaikh Utsamin, dll dari ulama ahlusunnah.

4. Berkisah

Seorang jamaah suka kisah. Apalagi dikaitkan dengan materi. Seorang khotib sangat diharapkan punya keterampilan berkisah. Dan buku kisah sangat banyak beredar.

Bisa dari buku para nabi, sirah, buku syarah, dll.

5. Memaparkan syarat

Maksudnya apa?

Ketika ada konten materi yang butuh syarat, hendaknya disampaikan

Seperti
Syarat taubat.
Syarat diterimanya amalan.
Dll

6. Membuat jamaah penasaran

Keterampilan lain dari seorang khotib adalah membuat jamaah penasaran dengan materi.

Apakah dari hal kontradiktif atau yang baru mereka dengar.

Seperti
“Apa maksud dari ar-rahman dan ar-rahim pada basmalah?”

“Mengapa orang beriman akan diuji?”

Itulah 6 point argumentasi yang bisa dibangun oleh seorang khotib. Semoga jamaah bisa membawa hikmah dan berdampak perubahan pada dirinya.

Oh ya, ada buku bagus buat para khotib buat menyusun materinya.