الْحَمْدُ للَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى وَأَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلٰهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

—–
Jamaah yang dimuliakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala… .
—–

Dari Abu Dzar bin Junadah dan Abu Abdurrahman Muadz bin Jabal radhiyallahu’anhuma, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda,

اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ،
وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا،
وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ ”

“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Iringilah kejelakan dengan kebaikan, niscaya kebaikan tersebut akan menghapuskannya. Dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.”
(HR. Tirmidzi, dan dia berkata: Hadits Hasan Shahih. Hasan dikeluarkan oleh At Tirmidzi di dalam [Al Bir Wash Shilah/1987] dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam Al Misykat [5083])

Sedikit Penjelasan tentang Sahabat yang Meriwayatkan Hadits

Abu Dzar al-Ghiffary berasal dari Ghiffaar (jalur yang dilewati penduduk Makkah jika akan berdagang ke Syam) , nama aslinya Jundub bin Junaadah adalah orang ke-5 yang masuk Islam saat Nabi masih berada di Makkah dan berdakwah secara sembunyi. Beliaulah orang pertama yang mengucapkan salam secara Islam kepada Nabi. Selama masa mencari Nabi di Makkah beliau tinggal di dekat Ka’bah selama 15 hari tidak makan dan minum apapun kecuali air zam-zam hingga menjadi gemuk. Setelah bertemu Nabi dan masuk Islam beliau kembali pada kaumnya, mengajarkan Islam kepada mereka, dan tinggal di sana. Setelah perang Uhud, barulah Abu Dzar bisa menyusul Nabi hijrah ke Madinah.

Sedangkan Muadz bin Jabal adalah Sahabat Nabi yang paling mengetahui tentang halal dan haram (H.R Ibnu Hibban). Nabi juga memerintahkan untuk mengambil (ilmu) al-Quran dari 4 orang, yaitu : Ibnu Mas’ud, Ubay bin Ka’ab, Muadz bin Jabal dan Salim maula Abi Hudzaifah(H.R al-Bukhari). Muadz bin Jabal juga diutus Nabi ke Yaman untuk berdakwah di sana.

—–
Jamaah yang dimuliakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala… .
—–

Penjelasan haditsya,

Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, “Bertakwalah kepada Allah” adalah fi’il ‘amr (kata perintah) dari kata at taqwa.

Takwa dari kata wiqoyah (preventif). Yaitu seseorang mengerjakan sesuatu yang dapat menghindarkannya dari azab Allah azza wajalla. Dan sesingguhnya yang dapat menghindarkan dari azab Allah dengan:

1. Melaksanakan perintah Allah azza wajalla
2. Meninggalkan larangan-Nya.

Ketahuilah, terkadang lafadz takwa bergandengan dengan “al-birr”

Seperti ayat,
Wa ta ‘aa wanuu ‘alal birri wattaqwaa
(Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebaikan dan takwa.)
QS. Al-Maidah: 2

Al-birr = melaksanakan perintah
At-taqwa = meninggalkan larangan

Apabila disebutkan sendiri pada takwa, itu mencakup melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan.

Taqwa adalah amalan ketaatan kepada Allah dan menjauhi kemaksiatan kepada Allah.

Taqwa harus berupa amal perbuatan, tidak cukup hanya dalam hati atau ucapan saja.

Taqwa harus didasarkan cahaya dari Allah, yaitu ilmu syar’i dan ittiba’ (mengikuti Sunnah Nabi).

Tidak mungkin seseorang bisa bertakwa kepada Allah tanpa ilmu. Dengan ilmu ia akan tahu mana hal-hal yang diperintah Allah (wajib atau sunnah), yang dilarang Allah (haram atau makruh), dan mana yang boleh dikerjakan (mubah).

Seseorang bisa beribadah kepada Allah hanya dengan tuntunan dari Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam.

Taqwa harus didasari keikhlasan melakukannya karena Allah bukan karena tendensi yang lain. Ia jalankan ketaatan karena mengharap pahala Allah, dan ia tinggalkan kemaksiatan karena takut dari adzab Allah.

(Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada), yakni di tempat di mana pun engkau berada. Engkau tidak hanya bertakwa kepada Allah di tempat yang di sana orang-orang melihatmu saja. Dan tidak hanya bertakwa kepadaNya di tempat-tempat yang engkau tidak dilihat oleh seorang pun, karena Allah senantiasa melihatmu, di tempat manapun engkau berada. Oleh karena itu, bertakwalah di mana pun engkau berada.

—–
Jamaah yang dimuliakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala… .
—–

Ada sebuh kisah,

Salah satu aktifitas amirul mukminin Umar bin Khattab adalah operasi dan inspeksi malam beliau dalam mengawasi situasi dan suasana Madinah di malam hari. Berbagai pengalaman dan pelajaran beliau hadapi demi menunjang stabilitas keamanan serta mencari keluhan dan kekurangan masyarakat Madinah pada waktu itu. Yang jelas Umar tidak mengharapkan ketenaran dan pujian dalam melaksanakan tugas melainkan hanya untuk melayani masyarakat dan mengharap Ridho Allah azza wajalla serta menegakkan keadilan.
Seperti malam-malam biasa ia ditemani seorang khadimnya yang bernama Aslam untuk menilik dinginya kota Madinah Al-Munawwaroh. Di tengah gelapnya malam yang menyelimuti dengan berjalan kaki beliau melakukan aktifitas tersebut hingga akhirnya rasa letihpun meliputi tubuh beliau yang kondisi fisiknya sudah tidak muda lagi.

Di salah satu sudut rumah warga Madinah beliau menyandarkan tubuhnya yang keletihan itu sambil istirahat sejenak di temani Aslam yang selalu setia. Di tengah-tengah istirahatnya itu tidak sengaja beliau mendengar suara keras, sahut-sahutan. Ternyata itu adalah suara dua orang perempuan. Setelah beliau dengarkan dengan seksama beliau tahu bahwa itu adalah suara antara seorang ibu dan anak perempuanya.

“Campurlah susu itu dengan air nak, supaya keuntungan kita bertambah banyak!”. Perintah ibu.
“Demi Allah, saya tidak akan melakukanya bu, Amirul Mu’minin nanti akan menghukum kita”. Jawab si anak perempuan.
“Amirul Mu’minin tidak akan tahu, toh juga banyak yang melakukan hal ini.cepat lakukanlah perintah ibu!”. Ujar ibu dengan suara yang meledak.

“Bu, sekalipun Amirul Mukminin tidak melihat kita, namun Rabb Amirul Mukminin pasti mengetahuinya,” jawab anak perempuan itu.
Kemudian Umar tersadar bahwa rumah yang beliau sandari itu adalah rumah seorang wanita miskin pedagang susu di pasar yang mencoba berbuat curang. Akan tetapi beliau salut kepada anak perempuanya yang menolak ajakan buruk ibunya itu sehingga bayangan kejadian tersebut terbawa dalam benak Umar ketika pulang.

—–
Jamaah yang dimuliakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala… .
—–

Hadits lanjutannya,

وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا،
(Iringilah kejelekan itu dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapuskannya),

Yakni jadikanlah kebaikan itu mengiringi kejelekan. Jadi, jika engkau melakukan kejelekan, maka iringilah dengan kebaikan. Dan termasuk dalam hal itu –yakni mengiringi kejelekan dengan kebaikan-, adalah engkau bertaubat kepada Allah dari kejelekan tersebut, karena taubat adalah suatu kebaikan.

Dan sabdanya, “Niscaya akan menghapuskan”, yakni kebaikan itu jika dilakukan setelah kejelekan, maka ia akan menghapuskannya. Oleh karena itu, Allah subhanahu wata’ala berfirman,

إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّـيِّئَاتِ

“Sesungguhnya perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk.” (Huud: 114)

Di hadits lain,

الصَّلَوَاتُ اْلخَمْسُ وَاْلجُمُعَةُ إِلَى اْلجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتُنِبَ اْلكَبَائِر (رواه مسلم)

“(Antara) sholat lima waktu (yang satu dengan berikutnya), Jumat dengan Jumat, Romadlon dengan Romadlon, sebagai penghapus dosa di antaranya jika dosa-dosa besar ditinggalkan “ (H.R Muslim)

فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَنَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَجَارِهِ يُكَفِّرُهَا الصِّيَامُ وَالصَّلَاةُ وَالصَّدَقَةُ وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنْ الْمُنْكَرِ

Namun, yang bisa dihapus dengan perbuatan-perbuatan baik (ibadah) itu adalah untuk dosa-dosa kecil saja, sedangkan dosa besar hanya bisa dihapus dengan taubat nashuha. Syarat taubat nashuha adalah bertaubat dengan ikhlas karena Allah semata, menyesal secara sungguh atas perbuatannya, meninggalkan perbuatan maksiat tersebut, bertekad kuat untuk tidak mengulangi lagi selama-lamanya, dan jika terkait dengan hak hamba Allah yang lain, ia harus meminta maaf (minta dihalalkan).

—–
Jamaah yang dimuliakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala… .
—–

Apa perbedaan dosa besar dengan dosa kecil? Dosa besar adalah segala macam perbuatan atau ucapan yang dilarang dan dibenci Allah dan diancam dalam dalil-dalil atau hadits dengan adzab neraka, laknat Allah, kemurkaan Allah, tidak akan masuk surga, tidak termasuk orang beriman, Nabi berlepas diri dari pelakunya, atau dosa yang ditegakkan hukum had di dunia, seperti membunuh, berzina, mencuri, dan semisalnya. Sedangkan dosa kecil adalah sesuatu hal yang dibenci atau dilarang Allah dan Rasul-Nya namun tidak disertai dengan ancaman-ancaman seperti dalam dosa besar.

Namun, harus dipahami bahwa suatu dosa yang asalnya kecil bisa menjadi besar jika dilakukan terus menerus dan dianggap remeh.

Sahabat Nabi Anas bin Malik menyatakan:

لاَ صَغِيْرَةَ مَعَ اْلإِصْرَارِ

Tidak ada dosa kecil jika dilakukan secara terus menerus (riwayat ad-Dailamy dan al-Iraqy menyatakan bahwa sanadnya jayyid (baik))

Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ فَإِنَّهُنَّ يَجْتَمِعْنَ عَلَى الرَّجُلِ حَتَّى يُهْلِكْنَهُ

Hati-hatilah kalian dari dosa yang diremehkan (dosa kecil) karena dosa itu bisa berkumpul pada seseorang hingga membinasakannya (H.R Ahmad, atThobarony, al-Baihaqy, dinyatakan oleh al-Iraqy bahwa sanadnya jayyid (baik),

Dosa/kejelekan pada hadits menurut imam Nawawi adalah dosa yang berhubungan dengan hak Allah.

Adapun berhubungan dengan hak hamba maka dia harus datang kepada manusia meminta maaf.

—–
Jamaah yang dimuliakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala… .
—–

Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Dan bergaullah dengan mereka dengan akhlak yang baik.”

Yaitu berinteraksilah dengan mereka dengan akhlak yang baik, baik dengan ucapan maupun dengan perbuatan, karena hal itu adalah kebaikan. Perintah di atas, bisa jadi hukumnya wajib, bisa jadi hanya merupakan perkara yang dianjurkan saja, sehingga dapat ditarik faedah pula dari sini; disyari’atkannya bergaul dengan manusia dengan akhlak yang baik. Nabi menyebutkan secara umum bagaimana cara bergaul (dengan sesama). Dan hal itu bervariasi sesuai dengan keadaan dan kondisi orang perorangan. Karena boleh jadi suatu hal baik bagi seseorang, akan tetapi tidak baik bagi orang yang lainnya. Orang yang berakal dapat mengetahui dan menimbangnya.

Para Ulama’ Salaf  mendefinisikan akhlaq yang baik, di antaranya :

Al-Hasan al-Bashri mengatakan, “Akhlaq yang baik adalah dermawan, banyak memberi bantuan, dan bersikap ihtimaal (memaafkan).

AsySya’bi menjelaskan, “ Akhlaq yang baik adalah suka memberi pertolongan dan bermuka manis “

Ibnul Mubaarok mengatakan, “ Akhlaq yang baik adalah bermuka manis, suka memberi bantuan (ma’ruf) , dan menahan diri untuk tidak mengganggu/menyakiti orang lain “ (Jaami’ul ‘Uluum wal Hikaam karya Ibnu Rajab juz 1 hal 454-457)

Keutamaan akhlaq yang baik banyak disebutkan oleh Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam dalam hadits beliau :

أَكْمَلُ اْلمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

“Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaqnya “ (H.R Ahmad, Abu Dawud, AtTirmidzi, al-Hakim dan dishahihkan oleh adz-Dzahaby).

أَكْثَر مَا يُدْخِلُ اْلجَنَّةَ تَقْوَى اللهِ وَحُسْنُ اْلخُلُقِ

“(Hal) yang paling banyak memasukkan orang ke dalam surga adalah taqwa kepada Allah dan akhlaq yang baik “(H.R Ahmad, AtTirmidzi, Ibnu Majah, dihasankan oleh Syaikh al-Albany )

أَنَا زَعِيْمُ بَيْتٍ فِي أَعْلَى اْلجَنَّةِ لِمَنْ حَسُنَ خُلُقُهُ

“Aku menjamin rumah di bagian surga yang tertinggi bagi orang yang baik akhlaqnya”(H.R Abu Dawud dan AtThobrooni dan dihasankan oleh Syaikh al-Albany)

Akhlak yang baik kepada manusia diantaranya:
– Tidak mengganggu manusia
– Memaafkan manusia
– Memperlakukan manusia dengan baik, apakah dari lisan dan perbuatan
– Wajah yang berseri-seri
– Ucapan yang lembut
– dll

Dalam hadits lain disebutkan,
“Orang beriman yang paling sempurna keimanannya adalah yang akhlaknya paling baik. Dan yang paling baik di antara orang yang sempurna imannya adalah yang paling baik kepada istri-istrinya.”
(HR. Tirmidzi)

Dan kelak, yang paling dicintai Nabi shollallohu alayhi wasallam dan paling dekat dengan tempat duduknya di sisi Rosulullloh..

Siapa?

Ahaasinukum akhlaaqon.
(Yang paling baik akhlaknya)
(HR. Ahmad)

—–
Jamaah yang dimuliakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala… .
—–

Ada sebuah kisah yang terjadi pada masa Abu Bakar ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu. Pada saat itu Umar mengawasi apa yang dilakukan oleh Abu Bakar. Lalu dia melakukan dua kali lipatnya sehingga dia mendapatkan kebaikan dan berbuat lebih dari Abu Bakar dalam hal kebaikan.

Suatu hari, Umar mengawasi Abu Bakar di waktu fajar. Sesuatu telah menarik perhatian Umar. Saat itu Abu Bakar pergi ke pinggiran kota Madinah setelah shalat subuh. Abu Bakar mendatangi sebuah gubuk kecil beberapa saat, lalu dia pulang kembali ke rumahnya. Umar tidak mengetahui apa yang ada di dalam gubuk itu dan apa yang dilakukan Abu Bakar di sana. Umar mengetahui segala kebaikan yang dilakukan Abu Bakar kecuali rahasia urusan gubuk tersebut.

Hari-hari terus berjalan, Abu Bakar tetap mengunjungi gubuk kecil di pinggiran kota itu. Umar masih belum mengetahui apa yang dilakukan Abu Bakar di sana. Sampai akhirnya Umar memutuskan untuk masuk ke dalam gubuk itu sesaat setelah Abu Bakar meninggalkannya. Umar ingin melihat apa yang ada di dalam gubuk itu dengan mata kepalanya sendiri. Dia ingin mengetahui apa yang dilakukan oleh sahabatnya di situ.

Manakala Umar masuk ke dalam gubuk kecil itu, Umar mendapatkan seorang nenek tua yang lemah tanpa bisa bergerak. Nenek itu juga buta kedua matanya. Tidak ada sesuatu pun di dalam gubuk kecil itu. Umar tercengang dengan apa yang dilihatnya, dia ingin mengetahui ada hubungan apa nenek tua ini dengan Abu Bakar radhiallahu ‘anhu.

Umar bertanya, “Apa yang dilakukan laki-laki itu di sini?” Nenek menjawab, “Demi Allah, aku tidak mengetahui, wahai anakku. Setiap pagi dia datang, membersihkan rumahku ini dan menyapunya. Dia menyiapkan makanan untukku. Kemudian dia pergi tanpa berbicara apapun denganku.”

Umar lalu kedua matanya basah oleh air mata. Dia mengucapkan kalimatnya yang masyhur, “Sungguh, engkau telah membuat lelah khalifah sesudahmu wahai Abu Bakar.”

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala merahmati kita semua dan mengamalkan hadits di atas.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

===

NB.
Naskah ini dicopas dari tulisan ustadz. Kami hanya mengedit dan menambah yang perlu. Silakan Anda improvisasi.