الْحَمْدُ للَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى وَأَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلٰهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

—–
Jamaah yang dimuliakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala…
—–

Dalam kehidupan ini, tentu kita ingin bahagia.

Yang tua, maupun muda, ingin bahagia..
Yang pegawai, maupun swasta, ingin bahagia..
Yang kaya, maupun miskin, ingin bahagia.

Namun, pertanyaannya, dimanakah letak kebahagiaan itu? Dimanakah alamat kebahagiaan yang kita dambakan?

Seorang ulama bernama Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rohimahulloh dalam kitabnya Qowaidhul Arba’ah menyebutkan, 3 alamat kebahagiaan:

إذا أعطي شكر،
Jika diberi, syukur.
وإذا ابتلي صبر،
Jika dapat ujian, sabar.

وإذا أذنب استغفر،
Jika jatuh dalam dosa, beristigfar.

—–
Jamaah yang dimuliakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala…
—–

1. Jika diberi, syukur.

Tentu banyak pemberi Allah subhanahu wa ta’ala kepada kita. Baik itu nikmat kesehatan, keimanan, keluarga, dsb.

Dan tentunya kita diperintahkan untuk mensyukuri semua itu. Kita senantiasa mengucapkan “alhamdulillah” sebagai ekspresi syukur.

Namun sesungguhnya itu kurang lengkap. Karena pada hakikatnya syukur itu memiliki 3 rukun. Nanti memenuhi 3 rukun ini, barulah seorang hamba dikatakan bersyukur.

1. Mengakui nikmat itu di dalam batin bahwa Allah yang memberi

Jangan kita mengklaim saat dapat rezeki:

“Oh ini karena usaha keras saya!”
“Oh ini karena kepintaran saya!”
“Oh ini karena jaringan pertemanan saya yang luas!”

Ini adalah ekspresi yang mirip dengan Qorun. Yang menyatakan bahwa sumber hartanya karena kecerdasannya. Akhirnya, Allah subhanahu wa ta’ala pun membinasakannya.

Perhatikan!

Gaji kita, hasil usaha, itu semua hanyalah SEBAB. Tapi, Allah-lah sesungguhnya yang memberi. Jangan menyandarkan pemberian kepada sebab.

2. Mengungkapkannya secara lahir di lisan.

Kalimat syukur yang baik adalah ucapan “Alhamdulillah” (segala puji bagi Allah). Atau memberitakan kepada orang lain.

“Alhamdulillah, tahun ini bisa haji.”
“Alhamdulillah, semalam istri sudah melahirkan.”

Tapi, ingat, saat menyampaikan orang lain, tujuannya ikhlas. Bukan riya’. Hati-hati! Karena beda tipis.

Dan juga.. seleksi siapa orang yang bisa diceritakan kepadanya. Jangan sampai ia iri.

3. Mempergunakan nikmat tersebut untuk ketaatan kepada Allah Subhanallahu ta’ala

Misalkan saat dapat rezeki, kita bisa membeli buku agama. Atau membeli sesuatu yang bermanfaat. Juga nikmat non material, seperti usia, kesehatan, waktu luang, kita gunakan pada hal bermanfaat.

Inilah 3 rukunnya.

Manakala kita syukur, insyaallah Allah akan tambah nikmat itu.

لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

jika kalian bersyukur niscaya akan Ku tambah (nikmatku) pada kalian, dan jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat pedih”.
(QS. Ibrahim: 7)

Perhatikan Nabi kita..

Al-Bukhari dan Muslim menceritakan di dalam kitab Shahih-nya, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambangun shalat malam hingga kedua kaki beliau bengkak. Lalu istri beliau, yaitu ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bertanya,

”Mengapa Anda melakukan ini, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosa Anda yang dulu maupun yang akan datang?”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

أَفَلاَ أَكُوْنُ عَبْدًا شَكُوْرًا

”Tidak pantaskah jika aku menjadi hamba yang bersyukur?”
(Hadits shohih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 4837 dan Muslim, no. 2820)

Tidakkah kita ingin menjadi pula hamba yang bersyukur?

—–
Jamaah yang dimuliakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala…
—–

2. Jika dapat ujian, sabar.

Sabar adalah pilar ke-2 dari kebahagiaan seorang hamba. Sabar hukumnya wajib, bukan sunnah, bukan mubah.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ
“dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu.” (Luqman : 17)

Sabar berarti menahan.

Sebagaimana syukur memiliki 3 rukun. Maka, sabar pun punya 3 rukun.

1. Menahan hati untuk tidak merasa marah terhadap ketentuan Allah.

Seperti jengkel dalam hati, ada gemuruh di dalam dada, dsb dari gejolak hati yang tidak sabar.

2. Menahan lisan untuk tidak mengadu-adu/mengeluhkan kepada makhluk.

Seperti lisan yang marah, mengeluarkan kata kotor, dsb dari ekspresi lisan yang tidak sabar.

3. Menahan anggota tubuh untuk tidak melakukan hal-hal yang tidak dibenarkan ketika terjadi musibah, seperti menampar pipi,  merobek baju dan sebagainya.

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Kedudukan sabar dalam iman laksana kepala bagi seluruh tubuh. Apabila kepala sudah terpotong maka tidak ada lagi kehidupan di dalam tubuh.”
(Al Fawa’id, hal. 95)

Dalam hidup ini, kita akan menghadapi 3 wujud kesabaran.

(1) Sabar dalam ketaatan kepada Allah,

Sabar dalam solat, puasa, dsb. Karena kita kadang merasa letih.

(2) Sabar dari hal-hal yang diharamkan,

Sabar dari marah, ghibah, dsb.

(3) Sabar dari takdir Allah yang dirasa pahit (musibah).

Maka, sabar ini harusnya menjadi karakter setiap muslim. Pendidikan sabar adalah suatu kewajiban. Maka, sabar harus selalu kita latih.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”
(QS. al-Baqarah:157)

—–
Jamaah yang dimuliakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala…
—–

3. Jika jatuh dalam dosa, beristigfar

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

( كل بني آدم خطاء

“Setiap Bani Adam (manusia) banyak melakukan kesalahan (dosa),..”
(Hasan, lihat shahih at-Targhib wa at-Tarhib 3139)

Setiap dari kita melakukan kesalahan, tidak ada yang suci.

Tapi, Allah subhanahu wa ta’ala memerintahan kita,

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا

“Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun.”
(QS. Nuh/71 : 10)

Istigfar berasal dari kata “migfar”. Yang artinya menutup.

Apa maksudnya?

Jadi, jika seseorang melakukan kebaikan maka kebaikan itu akan memanggil kebaikan lain. Saat orang puasa maka ia akan jujur, dermawan, dsb.

Demikian pula saat melakukan dosa. Maka dosa itu akan memanggil kawannya. Dari 1 cosa, menjadi 2 dosa, dst.

Nah, dengan istigfar bukan hanya seseorang bertaubah kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Namun, Allah subhanahu wa ta’ala pun akan MENUTUP akses ke dosa selanjutnya. Sehingga ia benar-benar berhenti. Tentunya dengan taubat yang jujur.

Coba kita perhatikan Nabi kita..

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَاللَّهِ إِنِّى لأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِى الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً

“Demi Allah. Sungguh aku selalu beristighfar dan bertaubat kepada Allah dalam sehari lebih dari 70 kali.”
(HR. Bukhari)

Ini Nabi yang sudah dijamin masuk surga tapi tetap beristigfar. Apalagi dengan kita. Harusnya makin sering beristigfar.

Saat kita ada masalah, bersegeralah minta ampun kepada Allah subhanahu wa ta’ala…

Suatu ketika pernah datang 3 orang kepada Imam Hasan Al Basri Rahimahullah mengadukan masalahnya, orang pertama datang dengan mengaduhkan musim paceklik, kemudian Imam Hasan Al Basri Rahimahullah berkata kepadanya:” Istighfarlah engkau kepada Allah“.

Kemudian orang kedua datang mengadukan kemiskinannya, kemudian Imam Hasan Al Basri Rahimahullah tetap berkata kepadanya:” Istighfarlah engkau kepada Allah“,

Datang lagi orang ketiga mengadu kondisinya yang tidak kunjung dikaruniai anak, kemudian Imam Hasan Al Basri Rahimahullah berkata kepadanya:” Istighfarlah engkau kepada Allah“,

Datang lagi orang keempat mengadukan tentang kebunnya yang kering, kemudian Imam Hasan Al Basri Rahimahullah berkata kepadanya:” Istighfarlah engkau kepada Allah“,

Semua keluhan dan masalah yang diadukan kepada Imam Hasan Al Basri Rahimahullah beliau hanya menjawab semua keluhan dan aduhannya dengan:”Istighfarlah engkau kepada Allah“.

Melihat hal tersebut, murid Imam Hasan Al Basri Rahimahullah heran dan berkata:”Tadi orang-orang berdatangan kepadamu mengadukan berbagai permasalahan, dan engkau memerintahkan mereka semua agar beristighfar, mengapa demikian?”,

Hasan Al-Bashri Rahimahullah menjawab:”Aku tidak menjawab dari diriku pribadi, karena Allah Subhanahu wata’ala telah mengatakan dalam firman-Nya (yang artinya):

“Maka, Aku katakan kepada mereka, Mohonlah ampunan kepada Rabb-mu, sesunnguhnya dia adalah Maha Pengampun, niscaya dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat. Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai”.
(QS. Nuh : 10-12)

Maka, inilah 3 alamat kebahagiaan.

إذا أعطي شكر،
Jika diberi, syukur.
وإذا ابتلي صبر،
Jika dapat ujian, sabar.

وإذا أذنب استغفر،
Jika jatuh dalam dosa, beristigfar.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

===

NB.
Naskah ini disajikan terinspirasi dari ceramah/khutbah para ustadz. Kami hanya mengedit dan menambah yang perlu. Silakan Anda improvisasi.